SRAGEN, MENARA62.COM — Ketahanan pangan tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia di atas meja. Kemandirian juga membutuhkan kemampuan masyarakat untuk memproduksi, mengelola, sekaligus mengembangkan sumber pangan menjadi usaha produktif.
Semangat itulah yang dibawa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui program pengabdian kepada masyarakat di PRM Farm, Desa Kajog, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. UMS mendorong PRM Farm berkembang dari sekadar tempat produksi pangan menjadi sentra usaha produktif berbasis potensi lokal.
Program tersebut melibatkan tim dosen dan mahasiswa UMS dengan ketua Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU. Tim anggota terdiri atas Aan Sofyan, M.Sc., Amin Sulistyanto, S.T., M.T., Dedi Ary Prasetyo, S.T., M.Eng., dan Indah Permata Dewi, M.Si., Akt., serta lima mahasiswa.
Pendampingan dirancang tidak berhenti pada pelatihan. UMS juga memberikan pendampingan dan fasilitas untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi pangan sekaligus mengembangkan aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah.
PRM Farm yang berada di bawah Ranting Muhammadiyah Karanganyar dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang produktif yang mengintegrasikan sejumlah sektor. Karena itu, pendampingan diarahkan pada empat bidang utama, yakni hidroponik selada, budidaya jamur tiram, peternakan, dan perikanan.
Keempat sektor tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan pangan yang bertumpu pada potensi lokal.
Dari Hidroponik hingga Budidaya Jamur
Salah satu fokus pengembangan adalah hidroponik selada. Metode budidaya tersebut memungkinkan masyarakat menghasilkan sayuran dengan pemanfaatan lahan yang lebih efisien.
Hasilnya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Potensi serupa terdapat pada budidaya jamur tiram. Komoditas tersebut dapat dikembangkan pada ruang yang relatif terbatas sekaligus memiliki peluang pasar.
Melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat dibekali pengetahuan untuk mengelola budidaya secara lebih terarah. Aktivitas yang sebelumnya sederhana diharapkan dapat berkembang menjadi unit usaha yang produktif.
Sementara itu, peternakan dan perikanan diarahkan untuk memperkuat diversifikasi pangan. Beragam unit usaha tersebut diharapkan dapat dikelola secara terintegrasi dan saling melengkapi.
Dengan konsep tersebut, PRM Farm tidak hanya menjadi tempat menghasilkan pangan. Kawasan ini juga diarahkan menjadi ruang belajar masyarakat dalam mengelola usaha secara produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
UMS Dorong Masyarakat Tidak Bergantung Bantuan
UMS menilai keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak cukup diukur dari bantuan awal yang diberikan. Pengetahuan, keterampilan, kemampuan mengelola usaha, serta keberanian berinovasi menjadi faktor penting agar program dapat terus berjalan setelah pendampingan selesai.
Ketua PRM Farm, H. Aris Suwardi, S.Ag., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada UMS, khususnya para dosen dan mahasiswa, atas perhatian serta dukungan yang diberikan kepada masyarakat.
Ia berharap pelatihan, pendampingan, dan fasilitas tersebut memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan PRM Farm.
Program itu, kata dia, diharapkan tidak sekadar menghasilkan produk pangan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dosen UMS sekaligus anggota tim pengabdian, Aan Sofyan, menegaskan bahwa PRM Farm menjadi contoh bagaimana potensi desa dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat.
“Ketika ilmu pengetahuan, teknologi, dan semangat masyarakat dipertemukan dalam satu gerak bersama, maka hidroponik, jamur tiram, peternakan, dan perikanan bukan sekadar aktivitas produksi,” tegas Aan.
Menurut dia, berbagai aktivitas tersebut dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya kemandirian pangan, penguatan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dari PRM Farm di Desa Kajog, Sragen, UMS menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari tingkat paling dekat dengan masyarakat: desa.
Potensi yang tersedia, ketika dipadukan dengan pengetahuan, teknologi, pendampingan, dan kemauan untuk terus belajar, dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus fondasi kemandirian pangan masyarakat. (*)


