SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjajaki kolaborasi dengan LinkedIn untuk memperkuat pemetaan karier alumni sekaligus menyiapkan mahasiswa menghadapi dinamika pasar kerja global.
Penjajakan ini diarahkan untuk membangun ekosistem karier, alumni, kemitraan industri, dan reputasi internasional UMS yang semakin berbasis data.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kepentingan strategis UMS dalam pengembangan karier, tracer study, alumni, kurikulum, kemitraan industri, dan reputasi internasional dengan ekosistem profesional LinkedIn yang memiliki jangkauan global.
Dalam materi yang disampaikan kepada UMS, LinkedIn mencatat memiliki sekitar 1,3 miliar anggota secara global dan lebih dari 40 juta anggota di Indonesia. Ekosistem tersebut juga mencakup sekitar 71 juta perusahaan, 42 ribu keterampilan, serta 142 ribu institusi pendidikan.
Besarnya ekosistem profesional tersebut dinilai membuka peluang bagi UMS untuk memetakan perjalanan karier lulusan secara lebih luas.
Profil profesional alumni dapat memberikan gambaran mengenai tempat mereka bekerja, sektor dan perusahaan yang dimasuki, posisi yang dijalankan, persebaran wilayah karier, hingga perkembangan profesional dari waktu ke waktu.
Data tersebut berpotensi melengkapi tracer study yang selama ini dikembangkan UMS. Pemetaan tidak lagi sebatas mengetahui status lulusan setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga melihat diaspora alumni yang berkarier di tingkat nasional maupun internasional.
Ketua LP3A UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., mengatakan penguatan jejaring alumni perlu dikembangkan lebih jauh dari sekadar pendataan lulusan.
“Alumni bukan sekadar data yang dicatat setelah mahasiswa menyelesaikan studi. Alumni adalah bagian dari ekosistem UMS yang terus tumbuh dan tersebar di berbagai bidang,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).
Menurut Bambang, pemetaan alumni harus menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat persiapan karier mahasiswa, membangun jejaring profesional, serta membuka peluang kontribusi alumni bagi almamater.
Ia menjelaskan, pemanfaatan data alumni tersebut sejalan dengan peran LP3A UMS dalam mengoordinasikan tracer study, kerja sama, persiapan karier mahasiswa, serta pengembangan diaspora alumni.
UMS Kembangkan Career Intelligence
Kepala Pusat Karir dan Hubungan Alumni UMS, Dr. Moh. Indra Bangsawan, M.H., mengatakan penguatan data alumni dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan layanan karier yang lebih tepat sasaran.
“Pusat Karir tidak hanya ingin mengetahui apakah alumni sudah bekerja atau belum. Yang lebih penting adalah memahami perjalanan karier mereka, bidang yang mereka masuki, keterampilan yang dibutuhkan, serta bagaimana mahasiswa yang masih berada di kampus dapat dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja tersebut,” katanya.
Menurut Indra, data alumni perlu diolah menjadi insight yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Informasi mengenai perjalanan profesional alumni juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pendekatan career intelligence. Pendekatan ini memanfaatkan perkembangan karier alumni dan kebutuhan dunia kerja sebagai salah satu dasar dalam merancang layanan pengembangan karier mahasiswa.
“Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai lowongan pekerjaan, tetapi juga dapat memahami kompetensi, keterampilan, bidang pekerjaan, serta jalur karier yang relevan dengan bidang studinya,” tegasnya.
Penjajakan kolaborasi dengan LinkedIn berlangsung pada Kamis (1/10/2026) dan turut melibatkan Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS.
Keterlibatan DRKUI menjadi bagian penting untuk menempatkan peluang kolaborasi dengan platform profesional global tersebut dalam strategi penguatan reputasi dan jejaring internasional UMS.
Direktur DRKUI UMS, Nurgiyatna, S.T., M.Sc., Ph.D., mengatakan kolaborasi internasional perlu diarahkan pada kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan institusi dan civitas academica.
“Kolaborasi dengan mitra global harus kita lihat bukan hanya sebagai bentuk kerja sama kelembagaan, tetapi sebagai peluang untuk membuka akses UMS terhadap ekosistem profesional internasional,” ujarnya.
Menurut Nurgiyatna, jika dapat diimplementasikan dengan baik, kerja sama tersebut berpotensi memperluas jejaring mahasiswa dan alumni sekaligus meningkatkan visibilitas UMS di tingkat global.
Ia menambahkan, reputasi perguruan tinggi saat ini semakin berkaitan dengan kemampuan universitas menunjukkan outcome dan kontribusi lulusannya.
“Reputasi universitas tidak hanya dibangun dari apa yang terjadi di dalam kampus, tetapi juga dari bagaimana lulusan UMS berkiprah setelah mereka menyelesaikan pendidikan,” katanya.
Karena itu, keberadaan alumni di berbagai sektor dan wilayah dinilai menjadi bagian penting dari reputasi UMS yang perlu dipetakan, dikembangkan, dan dihubungkan kembali dengan almamater.
Hubungkan Kampus, Alumni, dan Industri
Langkah tersebut sejalan dengan upaya DRKUI UMS memperluas jejaring kemitraan dan reputasi institusi, termasuk penjajakan kerja sama yang berkaitan dengan peluang karier mahasiswa dan alumni serta akses peluang kerja luar negeri.
Dalam konteks itu, kolaborasi dengan LinkedIn berpotensi menjadi instrumen untuk memperkuat keterhubungan antara kampus, mahasiswa, alumni, industri, dan jejaring profesional global.
Bagi mahasiswa, keterhubungan tersebut dapat membuka akses terhadap informasi profesi, perusahaan, keterampilan yang dibutuhkan industri, hingga jejaring profesional.
Bagi alumni, jejaring tersebut dapat menjadi ruang untuk tetap terhubung dengan almamater sekaligus berkontribusi dalam pengembangan mahasiswa.
Sementara bagi UMS, pemanfaatan data dan jejaring profesional dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam pengembangan kurikulum, layanan karier, tracer study, kemitraan industri, pengelolaan alumni, hingga strategi reputasi institusi.
Penjajakan dengan LinkedIn menjadi bagian dari upaya UMS membangun ekosistem pendidikan tinggi yang semakin responsif terhadap perubahan dunia kerja.
Ke depan, penguatan ekosistem tersebut tidak hanya diarahkan pada bagaimana mahasiswa memperoleh pekerjaan setelah lulus, tetapi juga bagaimana UMS memahami perjalanan karier lulusan, menghubungkan diaspora alumni, membaca kebutuhan dunia kerja, serta menyiapkan mahasiswa agar mampu berkompetisi di pasar kerja global.
Dengan demikian, alumni tidak berhenti sebagai output pendidikan, tetapi menjadi bagian dari jejaring profesional UMS yang terus tumbuh, terhubung, dan memberikan kontribusi bagi pengembangan almamater serta masyarakat. (*)

