METRO LAMPUNG, MENARA62.COM – Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) memasuki fase konsolidasi organisasi untuk menghadapi tantangan zaman. Kwartir Pusat HW menggelar Tanwir ke-1 di Lampung pada 8–10 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan.”
Tanwir yang berlangsung di Metro, Lampung, ini menjadi momentum strategis bagi HW untuk menyatukan arah gerakan sekaligus menyiapkan sejumlah pembaruan organisasi menjelang Muktamar HW 2028.
Sebagai forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar, Tanwir membahas berbagai persoalan strategis yang menyangkut organisasi, kaderisasi, regulasi, hingga respons HW terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan ketahanan pangan.
HW dinilai menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, kecepatan gerak organisasi menjadi salah satu kunci agar gerakan kepanduan yang bernaung di lingkungan Muhammadiyah tersebut tetap relevan dan mampu menarik minat generasi muda.
Konsolidasi menjadi salah satu agenda utama Tanwir. Seluruh struktur HW, mulai dari Kwartir Wilayah, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang hingga Qabilah, didorong bergerak dalam satu arah dan tujuan.
Budaya saling mendukung juga ditekankan sebagai modal penting dalam penguatan organisasi. Sebaliknya, praktik yang berpotensi menghambat gerak organisasi diharapkan dapat dikurangi.
Selain konsolidasi, Tanwir juga diarahkan untuk mematangkan berbagai perbaikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta regulasi organisasi sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar 2028.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kejelasan status dan kesepakatan penyelenggaraan kegiatan Tunas Athfal antara Kwartir Pusat HW dan Aisyiyah. Kegiatan tersebut telah berkembang luas di jenjang TK/PAUD, tetapi regulasi di tingkat pusat dinilai masih perlu disinkronkan.
Tanwir juga membuka ruang evaluasi terhadap pakaian seragam Tunas Athfal usia dini. Fleksibilitas warna dan model seragam menjadi salah satu bahan pertimbangan agar lebih ramah bagi anak, tanpa mengabaikan identitas kepanduan HW.
Persoalan struktur kepemimpinan juga menjadi bagian dari agenda pembahasan. Efektivitas struktur akan dievaluasi agar lebih responsif dalam menjalankan target program kerja sebagaimana amanah Muktamar.
Masa Bakti Pengurus Diusulkan Empat Tahun
Salah satu wacana strategis yang dibahas adalah penyesuaian masa bakti kepengurusan dari lima tahun menjadi empat tahun.
Usulan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efektivitas kepengurusan Kwartir Pusat HW sekaligus menyesuaikan masa bakti pada tingkat Kwartir Wilayah hingga Qabilah.
Perubahan masa bakti juga dipandang dapat mempercepat regenerasi kepemimpinan dan menjaga dinamika gerakan agar lebih adaptif terhadap perubahan.
Dengan Muktamar HW berikutnya yang dijadwalkan pada 2028, Tanwir juga dinilai menjadi momentum tepat untuk mulai menetapkan dan mempersiapkan calon tuan rumah penyelenggaraan Muktamar.
Agenda lain yang tak kalah strategis adalah wacana perubahan nomenklatur Sekretaris Umum menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjend) di tingkat Kwartir Pusat HW.
Wacana tersebut didasarkan pada kebutuhan memperkuat fungsi eksekutif organisasi. Istilah Sekjend dinilai dapat menegaskan fungsi koordinasi strategis yang tidak hanya berkaitan dengan administrasi kesekretariatan.
Dalam struktur gerakan kepanduan yang bertingkat dan memiliki karakter kepemimpinan berbasis kedisiplinan lapangan, nomenklatur Sekjend juga dinilai dapat memberikan daya jangkau manajerial yang lebih kuat hingga tingkat Qabilah.
Selain itu, penyesuaian nomenklatur diharapkan dapat menyelaraskan struktur taktis HW dengan praktik organisasi kepanduan maupun kelembagaan di tingkat nasional dan internasional.
Langkah tersebut diharapkan turut memudahkan HW membangun diplomasi serta kerja sama dengan berbagai lembaga.
Menyiapkan HW yang Lebih Adaptif
Tanwir ke-1 HW di Lampung tidak hanya menjadi forum evaluasi internal, tetapi juga momentum untuk melakukan reorientasi gerakan.
Berbagai pembenahan regulasi, struktur kepemimpinan, kaderisasi, hingga konsolidasi nasional diarahkan untuk memperkuat posisi HW sebagai organisasi kepanduan yang mampu menjawab tantangan generasi masa kini.
HW dituntut tidak hanya aktif dalam kegiatan kepanduan, tetapi juga mampu merespons persoalan kemanusiaan, lingkungan, pangan, dan berbagai dinamika sosial.
Dengan konsolidasi yang semakin kuat dari tingkat pusat hingga Qabilah, HW diharapkan mampu membangun gerakan yang solid, modern, responsif, dan inklusif bagi lintas generasi.
Semangat “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan” pun diharapkan tidak berhenti sebagai tema Tanwir, tetapi menjadi arah baru bagi HW dalam menghadapi tantangan gerakan hingga Muktamar 2028. (SAA/*)

