25 C
Jakarta

Aisyiyah dan Muhammadiyah Perkuat Pemulihan Penyintas Galodo Muaro Pingai

Baca Juga:

SOLOK, MENARA62.COM – Pasca sebulan bencana banjir bandang atau galodo menerjang Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok, kolaborasi lintas lembaga terus dilakukan untuk mendampingi para penyintas. Aparat Nagari Muaro Pingai bersama Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta Rumah Sakit Umum Aisyiyah membangun Pos Informasi ICRP dan Pos Layanan Terpadu Muhammadiyah–Aisyiyah sebagai pusat pemulihan warga terdampak.

Muaro Pingai menjadi salah satu wilayah terparah yang terdampak galodo. Banjir bandang menghanyutkan rumah, sawah, dan fasilitas umum, menyisakan lumpur serta material kayu berukuran besar. Kondisi diperparah dengan naiknya kembali debit sungai hingga empat kali, yang memaksa warga kembali mengungsi dan menyebabkan kerusakan rumah semakin meluas.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si, menegaskan komitmen Muhammadiyah dan Aisyiyah bersama MDMC dalam merespons fase tanggap darurat hingga pemulihan bencana di Sumatera Barat. Menurutnya, pendampingan dilakukan secara berkelanjutan dengan menempatkan kebutuhan penyintas, khususnya perempuan dan anak, sebagai prioritas.

“Berbagai layanan telah kami siapkan untuk mendampingi warga bangkit dari bencana ini, mulai dari dukungan psikososial, pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, hingga bantuan perlengkapan sekolah dan kebutuhan anak,” ujarnya.

Selain itu, tim relawan juga melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah warga yang membutuhkan, termasuk menyalurkan alat bantu kesehatan seperti kursi roda, walker, dan nebulizer. Pendekatan perempuan bantu perempuan menjadi salah satu strategi utama dalam pemulihan sosial pascabencana.

Sebagai upaya jangka panjang dalam program Muaro Pingai Bangkit, para penyintas perempuan berikrar mendirikan Ranting Aisyiyah Muaro Pingai pada 2 Januari lalu di Masjid Al Kautsar. Ketua Ranting Aisyiyah Muaro Pingai, Vira Anggelina, menegaskan bahwa pendirian ranting ini menjadi momentum kebangkitan dan pengorganisasian gerakan perempuan pascabencana.

“Kami tidak ingin larut dalam keterpurukan. Pemulihan ini panjang, sehingga kami memilih Aisyiyah sebagai wadah untuk bangkit, memperjuangkan pendidikan yang berkualitas, serta merevitalisasi PAUD dan TK di Muaro Pingai,” katanya.

Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat, Syur’aini, memandang bencana bukan sebagai akhir, melainkan awal kesadaran kolektif perempuan untuk membangun masa depan nagari. Ia menegaskan dukungan penuh PW Aisyiyah terhadap penguatan ranting, termasuk pengembangan layanan kesehatan lansia, penggerakan bidan desa, serta pelatihan pengkaderan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua MDMC Sumatera Barat Fortito menyampaikan bahwa kolaborasi bersama ICRP dan berbagai pihak telah memperkuat layanan bagi pengungsi. “Gerakan perempuan di Muaro Pingai hari ini semakin mantap dan terorganisir. Ini bukti bahwa kolaborasi mampu mempercepat kebangkitan pascabencana,” ujarnya.

Wali Nagari Muaro Pingai Dodi Hermen mengapresiasi dukungan Muhammadiyah dan Aisyiyah pusat dalam pemulihan nagari. Ia menilai sinergi tersebut menjadi energi penting bagi masyarakat untuk bangkit, terutama dengan diresmikannya Ranting Aisyiyah Muaro Pingai pada 14 Januari.

Tak hanya fokus pada pemulihan sosial, Ketua Ranting Muhammadiyah Muaro Pingai Abdul Ghafar mengungkapkan rencana wakaf lahan seluas satu hektare untuk pendirian SMK Muhammadiyah. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membuka akses pendidikan lanjutan bagi generasi muda Muaro Pingai.

Bersamaan dengan pendirian ranting, sejumlah sekolah seperti SDN 01, SDN 08 Muaro Pingai, dan SMP 02 Junjung Sirih menerima bantuan seragam olahraga. Sementara itu, penyintas perempuan juga mendapatkan bantuan paket dapur sebagai bagian dari penguatan ekonomi keluarga.

Kolaborasi Muhammadiyah dan Aisyiyah di Muaro Pingai menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga pada penguatan sosial, pendidikan, dan peran perempuan sebagai penggerak kebangkitan nagari. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!