SOLO, MENARA62.COM – Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Ngaji Outdoor (Ngador) bersama jamaah Masjid Munajat Pondok Shabran UMS. Diselenggarakan di Umbul Siblarak Klaten, Rabu (11/2).
Kajian yang biasanya dilaksanakan di masjid, kini hadir dengan desain yang berbeda, menunjukkan bahwa dakwah dapat diselenggarakan secara inklusif. Berjumlah 48 Jamaah dan menghadirkan pemateri Sulchan Ainur Ramadhan, M.Ag., selaku pembina Pondok Shabran UMS.
Muhammad Farhan Ketua Takmir Masjid Munajat dan selaku mahasantri Pondok Shabran UMS, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas antusiasme jamaah ibu-ibu Masjid Munajat, meskipun umur relatif tua. Namun, semangat dalam menuntut ilmu tidak pernah surut.
“Terima kasih atas antusiasme ibu-ibu jamaah dalam menyambut acara ini, hal ini memantik semangat kami untuk terus semangat dalam menyampaikan dakwah islam. Ibaratnya ibu-ibu itu umurnya tua, tapi jiwanya muda”, jelas Farhan.
Dalam sesi penyampaian materi, Sulchan membawakan tema “Ramadan Ojo Mung Ra-madhang”. Ia mengawali dengan mengapresiasi semangat ibu-ibu jamaah dalam menuntut ilmu.
“Perjalanan panjang ibu-ibu dalam menuntut ilmu ini, nantinya akan menjadi bekal ibu-ibu di kehidupan yang akan datang”, tambahnya.
Sulchan menjelaskan bahwa ilmu merupakan hal fundamental yang dipersiapkan untuk menyambut bulan suci, yaitu bulan Ramadhan.
“Bekal pertama menyambut Ramadan yaitu ilmu. Karena semua syariat itu dilandasi dengan ilmu, ilmu menjadi fondasi dasar dalam menjalankan syariat agama”, terangnya.
Sulchan juga mengutip hadits yang menerangkan bahwa “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu”. Namun, menurutnya masih banyak kemaksiatan yang sering ditemui ketika bulan Ramadhan.
“Kemaksiatan di bulan ramadhan masih sering ditemui, karena setan itu ada 2 golongan, setan golongan jin dan golongan manusia. Setan golongan manusia merupakan faktor eksternal dari apa yang dijelaskan pada hadis tersebut. Maka, kita harus mengendalikan diri kita saat ramadhan”, paparnya.
Tidur bernilai ibadah itu ketika sebelum tidur diniatkan untuk amalan² sunnah ramadhan.
Lanjutannya, Sulchan menyampaikan bahwa puasa dilihat dari segi medis dapat membakar sel-sel mati, atau yang disebut dengan autofagi (pembesihan sel rusak).
“Kalau menurut Dokter Tirta, Puasa itu akan membakar sel² mati, yang disebut autofagi, akan menghindarkan diri kita dari penyakit”, ungkapnya.
Dalam menanggapi transformasi digital, Muhammadiyah menawarkan solusi efektif untuk mempermudah pelaksanaan ibadah yang diberi nama aplikasi “MASA”. Menurut Sulchan, aplikasi MASA dapat menjadi pedoman dalam menjalankan amalan-amalan di bulan Ramadhan.
Menutup sesi materi, Sulchan mengutip Tafsir Ar-razi. Dalam tafsiran beliau terdapat penjelasan tentang tiga jenis kebahagian. Pertama, kebahagiaan Jiwa. Kedua, kebahagiaan raga. Ketiga, kebahagiaan di luar keduanya. Maka, puasa ini menjadi momentum untuk mendapatkan tiga kebahagiaan tersebut.
Kegiatan dilanjutkan dengan renang dan makan-makan bersama. Kajian yang digelar oleh mahasantri Pondok Shabran UMS ini menunjukan bahwa pemuda memiliki peran dalam membawakan dakwah yang inovatif, modern, dan inklusif. Harapannya kegiatan ini menjadi inovasi baru bagi mahasiswa UMS yang lainnya. (*)

