JAKARTA, MENARA62.COM – Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Baitut Tholibin kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Jakarta menggelar kegiatan Bedah Buku berjudul 35 Kisah Saat Maut Menjemput karya Ustadz Abdul Somad, pada Jumat (27/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri tiga Menteri sekaligus beserta wakil Menteri.
Ketiga Menteri tersebut adalah Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Dalam sambutan pengantarnya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti refleksi mendalam tentang kehidupan dan kematian. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian, sehingga yang terpenting adalah bagaimana mempersiapkan diri dengan amal dan kebaikan sejak awal kehidupan.
“Semua kita akan mati. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kita mempersiapkan diri sejak awal,” ujarnya.
Ia juga menyinggung isi buku 35 Kisah Saat Maut Menjemput yang membahas tema kematian dan berbagai kisah inspiratif di dalamnya. Salah satu kisah yang disorot adalah tentang keteladanan tokoh-tokoh dalam sejarah Islam yang menunjukkan sikap rendah hati, kebijaksanaan, serta tanggung jawab dalam memimpin.
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti mengangkat kisah konflik besar dalam sejarah Islam yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia menyoroti bagaimana keputusan politik dan kepemimpinan pada masa itu membawa dampak panjang hingga kini.
Selain itu, ia juga menyinggung sosok panglima besar Khalid bin Walid yang dikenal sebagai “Pedang Allah” karena keberhasilannya dalam berbagai peperangan. Meski dikenal tak pernah kalah di medan perang, panglima tersebut tetap menunjukkan kerendahan hati ketika digantikan oleh pemimpin yang lebih muda, serta menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab dan dosa sebagai manusia.
Menurut Abdul Mu’ti, keteladanan para tokoh tersebut memberikan pelajaran penting tentang keikhlasan, kebijaksanaan, serta kesiapan menghadapi kematian dengan amal yang baik.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutan pengantarnya menyampaikan bahwa buku berjudul 35 Kisah Saat Maut Menjemput tersebut memiliki pesan penting sebagai pengingat bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi kematian.
“Buku ini penting untuk mengingatkan kita bahwa maut adalah sesuatu yang pasti. Waktunya tidak bisa dipercepat dan tidak bisa diperlambat,” ujar Fadli.
Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan pengalaman pribadinya yang pernah mengalami kondisi mendekati ajal sebanyak tiga kali, mulai dari kecelakaan saat berusia 15 tahun, hingga terserang demam berdarah yang membuatnya tak sadarkan diri. Ia mengaku pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari bahwa hidup adalah anugerah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
“Kesempatan hidup yang masih kita rasakan hari ini adalah hadiah. Itu harus kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat,” tuturnya.
Fadli juga mengapresiasi isi buku yang mengangkat kisah-kisah para nabi, ulama, sahabat, serta tokoh-tokoh lain dalam menghadapi detik-detik menjelang wafat. Ia menilai kisah-kisah tersebut memberikan pelajaran spiritual yang mendalam.
Dalam sambutannya, ia menyebut sejumlah tokoh yang pernah ia ziarahi, seperti makam Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta beberapa nabi lainnya seperti Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, dan Nabi Yunus. Ia juga menyinggung tokoh ulama besar seperti Junaid al-Baghdadi dan Amr bin Ash.
Menurutnya, buku karya Ustaz Abdul Somad ini memperkaya literasi keislaman dengan menghadirkan narasi tentang proses menjelang wafat dari berbagai tokoh tersebut, yang jarang dibahas secara mendalam.
Sedang Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto, menyampaikan pentingnya mengingat kematian sebagai momentum refleksi diri, khususnya di bulan suci Ramadan.
Ia menilai tema kematian yang diangkat dalam tausiah sangat relevan, terlebih karena disampaikan pada bulan Ramadan yang penuh dengan nilai introspeksi dan perbaikan diri.
“Kita bersyukur tema kematian ini hadir di bulan Ramadan. Karena kematian adalah sesuatu yang jika kita ingat, maka kita akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa jabatan, pangkat, serta berbagai hal yang dimiliki manusia di dunia tidak akan dibawa saat menghadap Tuhan. Menurutnya, mengingat kematian dapat melembutkan hati dan membentuk sikap yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
Brian berharap pesan yang disampaikan Ustadz Abu Somad dapat memberikan dampak positif bagi para peserta yang hadir, serta mendorong peningkatan akhlak dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas dan kehidupan bermasyarakat.
“Semoga ini melembutkan hati kita dan membuat sikap kita menjadi lebih baik dan lebih bijaksana,” tutupnya.

