27.7 C
Jakarta

Fajar Junaedi: Media Sosial Harus Jadi Aset Digital Organisasi

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Media sosial organisasi tidak cukup dikelola sekadar sebagai ruang untuk mengunggah informasi. Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si., menilai media sosial perlu dikelola sebagai aset digital untuk membangun reputasi dan kepercayaan publik.

 

Hal itu disampaikan Fajar dalam webinar Peningkatan Kapasitas Kader GRASS dalam Pembuatan Konten Edukasi Kesehatan Digital yang digelar Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Sabtu (26/9/2026).

 

Dalam sesi Karakteristik Audiens dan Etika Digital, Content Discovery, serta Content Strategy, Fajar menekankan pentingnya pilar konten dan perencanaan sebelum kader memproduksi serta mempublikasikan konten kesehatan.

 

“Media sosial harus dikelola sebagai aset digital organisasi. Kalau tidak ada pilar konten dan perencanaan yang terukur, akun kader hanya menjadi tempat unggahan acak. Reputasi digital justru rawan rusak,” kata Fajar.

 

Menurut dia, content pillar menjadi kerangka utama dalam menentukan pesan yang hendak disampaikan kepada publik. Pilar tersebut membantu kader membedakan konten edukasi kesehatan yang kredibel dengan konten yang sekadar mengikuti tren.

 

Sementara itu, content plan diperlukan untuk menentukan target audiens, tujuan komunikasi, platform yang digunakan, hingga ritme publikasi.

 

Fajar yang juga dikenal sebagai influencer di media sosial X itu mengingatkan bahwa konten yang menarik secara visual belum tentu memiliki kekuatan substansi.

 

Tanpa perencanaan yang matang, kader berpotensi lebih sibuk mengejar tampilan dan tren dibanding memastikan informasi kesehatan yang disampaikan benar serta bermanfaat bagi masyarakat.

 

“Pilar konten dan content plan bukan formalitas. Itu cara organisasi menjaga konsistensi, kredibilitas, dan kepercayaan publik di media sosial,” ujarnya.

 

Kedekatan dengan Masyarakat Jadi Modal

 

Fajar menilai kader kesehatan memiliki modal penting berupa kedekatan dengan masyarakat. Namun, modal tersebut perlu diterjemahkan menjadi strategi komunikasi agar mampu menghasilkan konten yang relevan.

 

Menurutnya, pemilihan isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, verifikasi sumber informasi, dan penerapan etika digital harus dirancang sejak awal.

 

Ketiga hal tersebut, kata dia, bukan sekadar tahapan tambahan setelah konten selesai dibuat.

 

“Kalau media sosial diperlakukan sebagai aset, setiap konten punya fungsi: membangun kepercayaan, menolak hoaks, dan memperluas jangkauan edukasi. Tanpa pilar dan perencanaan, aset itu mudah tergerus,” tegas Fajar.

 

Program peningkatan kapasitas kader GRASS tersebut dirancang untuk memperkuat peran kader sebagai komunikator kesehatan digital yang kreatif, kredibel, dan konsisten.

 

Program berlangsung melalui tiga tahap, yakni dua webinar, inkubasi produksi konten, serta pendampingan selama satu bulan melalui grup WhatsApp.

 

Peserta ditargetkan mampu menghasilkan portofolio konten edukasi kesehatan untuk sejumlah platform digital, mulai dari WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube.

 

Dalam rangkaian tersebut, Fajar menempatkan content pillar dan content plan sebagai fondasi sebelum peserta memasuki tahapan storytelling, produksi video, editing, dan publikasi lintas platform.

 

Ia menegaskan, reputasi digital organisasi kesehatan tidak dibangun hanya melalui satu unggahan yang viral. Reputasi tumbuh dari kebiasaan organisasi dalam merancang, meninjau, dan menerbitkan konten secara konsisten.

 

Dengan strategi tersebut, media sosial diharapkan tidak hanya menjadi tempat publikasi, tetapi juga menjadi ruang edukasi kesehatan yang kredibel sekaligus sarana memperkuat kepercayaan masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!