YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menjalani Puasa Ramadan 1447 Hijriah dengan sikap tasamuh, kecerdasan, dan kedewasaan, terutama dalam menyikapi perbedaan penentuan awal puasa.
Dalam sambutannya, Haedar menegaskan bahwa perbedaan awal Ramadan merupakan hal yang wajar selama belum ada sistem kalender Islam global yang disepakati bersama. Karena itu, umat Islam diminta untuk saling menghargai dan tidak saling menyalahkan.
“Perbedaan jangan menjadi sumber perpecahan. Justru harus menjadi ruang untuk menunjukkan kedewasaan dan toleransi,” ujarnya.
Menurut Haedar, esensi puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan jalan untuk meraih takwa. Takwa, kata dia, tercermin dalam dua dimensi utama, yakni semakin dekat kepada Allah (hablum minallah) dan semakin baik dalam membangun relasi sosial (hablum minannas).
Ramadan juga menjadi momentum muhasabah atau evaluasi diri. Umat Islam diajak bertanya pada diri masing-masing: apakah tingkat ketakwaan meningkat dibanding Ramadan sebelumnya, apakah semakin banyak berbuat kebaikan dan bersabar, serta apakah kecerdasan dan ilmu pengetahuan bertambah seiring penguatan iman.
Haedar menekankan bahwa puasa harus melahirkan umat terbaik (khair ummah), yakni umat yang beriman dan bertakwa, sekaligus berilmu, menguasai teknologi, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi maupun publik. Tanpa kemajuan di bidang ilmu dan moralitas, umat Islam belum akan memiliki martabat tinggi di kancah global.
Dalam aspek ekonomi, puasa juga mengajarkan hidup hemat dan efisien. Ia mengingatkan agar umat tidak bersikap boros (israf), terutama saat berbuka puasa. Nilai kesederhanaan dan pengelolaan konsumsi yang baik dinilai menjadi fondasi penting bagi kemajuan ekonomi umat.
“Puasa melatih kita mengendalikan diri, termasuk dalam mengatur pengeluaran. Hidup hemat adalah salah satu kunci kemandirian,” katanya.
Di ranah sosial, Ramadan berfungsi sebagai perekat persaudaraan. Puasa melatih umat Islam menahan emosi dan menghindari konflik. Nabi Muhammad mengajarkan agar seseorang yang diajak bertengkar saat berpuasa cukup mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa.
Karena itu, puasa harus menjadi pelindung sosial yang meredam pertikaian serta menebarkan kedamaian dan harmoni di tengah masyarakat.
Lebih jauh, Haedar menyebut Ramadan sebagai pendorong kemajuan hidup secara menyeluruh, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, maupun politik. Bulan Syawal diharapkan menjadi titik awal peningkatan kualitas diri sebagai buah dari ibadah puasa yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Ia menutup sambutannya dengan doa agar Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat Islam, serta menjadikan Ramadan 1447 H sebagai sarana kemenangan dan kemajuan umat secara menyeluruh. (*)

