MADIUN, MENARA62.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Madiun, Prof. Dr. Sofyan Anif, menyampaikan tausiah penuh makna dalam acara Halalbihalal keluarga besar kampus, Selasa (31/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya memahami konsep wal ‘aafiina ‘anin naas sebagai bagian dari kepribadian Muhammadiyah.
Menurut Sofyan Anif, silaturahmi merupakan ibadah muamalah yang memiliki nilai luar biasa. Tidak hanya mempererat hubungan antarmanusia, silaturahmi juga diyakini membawa keberkahan, melapangkan rezeki, serta memperpanjang usia dalam makna kesehatan dan kebaikan hidup.
Ia menjelaskan bahwa nilai silaturahmi bahkan diakui lintas agama. “Bukan hanya umat Islam, tetapi juga penganut agama lain meyakini bahwa silaturahmi membawa kebaikan dalam kehidupan,” ujarnya.
Dalam tausiahnya, ia mengutip hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan sebagai kunci kelapangan rezeki dan umur panjang. Menurutnya, inti dari kegiatan halalbihalal sejatinya adalah silaturahmi yang dilandasi kesadaran untuk saling memaafkan.
“Halalbihalal itu esensinya adalah silaturahmi. Di dalamnya ada kesadaran bahwa manusia tidak luput dari salah dan khilaf, sehingga saling memaafkan menjadi hal yang utama,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan makna silaturahmi dengan konsep wal ‘aafiina ‘anin naas, yakni memberi maaf sebelum dimintai maaf. Konsep ini, kata dia, merupakan salah satu nilai penting dalam kepribadian Muhammadiyah yang diajarkan oleh Ahmad Dahlan.
“Memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bagian dari ideologi Muhammadiyah. Ini adalah nilai luhur yang harus terus ditanamkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam ajaran Islam terdapat perbedaan nilai antara meminta maaf dan memberi maaf tanpa diminta. Memberi maaf lebih dahulu dinilai memiliki derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.
Menurutnya, kebiasaan meminta maaf saat momen hari raya tidak boleh menjadi satu-satunya waktu untuk memperbaiki hubungan. Setiap kesalahan seharusnya segera diikuti dengan permohonan maaf tanpa menunggu momentum tertentu.
“Jangan menunda meminta maaf. Namun lebih tinggi lagi nilainya adalah ketika kita mampu memberi maaf tanpa diminta,” ujarnya.
Di akhir tausiahnya, Sofyan Anif mengajak seluruh civitas akademika UMMAD untuk menanamkan nilai keikhlasan dalam memaafkan sebagai bagian dari pembentukan karakter Islami.
“Kesadaran memberi maaf itulah yang akan mengangkat derajat manusia, bahkan menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah,” pungkasnya. (Pj)

