Apa yang terjadi jika kita melihat sebuah negara bukan sebagai mesin ekonomi, melainkan sebagai sebuah keluarga besar? Apa yang terjadi jika kebijakan publik tidak hanya dirancang dengan logika keuntungan, tetapi dengan insting seorang ibu?
Seorang ibu tidak akan pernah tidur dengan tenang jika salah satu anaknya masih kelaparan. Ia tidak akan membiarkan halaman rumahnya dirusak, karena ia tahu anak-anaknya butuh tempat untuk bermain. Ia tidak akan mengambil keputusan yang membahayakan masa depan keluarganya hanya demi kesenangan sesaat. Inilah yang kami sebut sebagai Kepemimpinan Perempuan—sebuah gaya kepemimpinan yang membawa empati, ketegasan, dan tanggung jawab antargenerasi ke dalam ruang-ruang kekuasaan yang selama ini dingin.
Selama ini, kepemimpinan sering diidentikkan dengan kekuasaan fisik, dominasi, dan instruksi dari atas ke bawah. Akibatnya, kebijakan kita seringkali kehilangan sisi kemanusiaannya. Kita membangun infrastruktur raksasa, namun lupa membangun akses bagi ibu menyusui. Kita mengejar target investasi, namun abai pada kesehatan anak-anak yang terpapar polusi dari industri tersebut.
Partai Gema Bangsa percaya bahwa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika dipimpin dengan hati seorang perempuan.
Kepemimpinan ini tidak terbatas pada gender, melainkan sebuah nilai. Nilai yang mengutamakan perawatan di atas eksploitasi. Nilai yang memahami bahwa setiap anak yang lahir di pelosok negeri ini memiliki hak yang sama untuk sehat dan cerdas, sebagaimana seorang ibu mencintai semua anaknya tanpa membeda-bedakan.
Melihat dunia dengan mata seorang perempuan berarti kita tidak akan pernah tega mengizinkan hutan kita dibabat habis, karena kita melihat di sana ada “napas” untuk cucu kita nanti. Melihat dengan mata seorang ibu berarti kita akan memastikan desentralisasi politik benar-benar terjadi, agar setiap komunitas kecil bisa mengurus “dapur” mereka sendiri dengan bermartabat.
Dalam Gema Bangsa, kepedulian pada perempuan dan lingkungan hidup bukanlah agenda tambahan. Keduanya adalah satu nafas. Perempuan adalah penjaga kehidupan, dan lingkungan adalah sumber kehidupan itu sendiri. Menjaga keduanya adalah bentuk pengabdian tertinggi.
Hari ini, kita memanggil jiwa-jiwa pemimpin yang berani mencintai rakyatnya seperti seorang ibu mencintai anaknya: dengan kasih sayang yang tak terbatas, namun dengan ketegasan yang tak tergoyahkan untuk melawan siapapun yang mencoba merusak masa depan keluarga besar kita, Bangsa Indonesia.
