30 C
Jakarta

Khutbah UMS: Puasa Lentera Moral Kampus

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Gema azan menggema dari Lantai 2 Kampus I, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (27/2/2026). Civitas akademika memadati Masjid Fadhurohman UMS untuk menunaikan Salat Jumat yang dirangkai dengan pesan reflektif tentang makna puasa.

Khutbah disampaikan Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., Direktur Sekolah Vokasi UMS. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah ruhani yang membentuk transformasi jiwa serta kebangkitan nilai moral.

“Puasa bukan ritual tahunan yang berlalu bersama tenggelamnya matahari Ramadan. Ia adalah pendidikan jiwa yang menundukkan syahwat, membakar nafsu duniawi, dan melembutkan hati,” ujarnya.

Puasa Uji Karakter dan Akhlak

Menurut Suranto, esensi puasa terletak pada kemampuan menahan diri dari segala yang diharamkan, termasuk menjaga lisan, pikiran, dan hati. Ia menyoroti fenomena sebagian orang yang mampu menahan lapar, namun masih mudah melontarkan kata-kata menyakitkan atau terjebak dalam ghibah.

“Di sinilah puasa diuji, agar melahirkan karakter dan akhlak mulia,” katanya.

Puasa, lanjutnya, merupakan “makanan ruh” yang menajamkan nurani dan menumbuhkan kepekaan sosial. Ketika hati terlatih, solidaritas meningkat, empati menguat, dan seseorang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan hadir sebagai rahmat bagi sekitarnya.

Ramadan Momentum Transformasi Permanen

Ia mengingatkan agar Ramadan tidak berhenti sebagai seremoni spiritual. Tempaan Ramadan harus melahirkan perubahan permanen dalam integritas pribadi dan etos kerja.

Civitas akademika UMS diajak menjadikan bulan suci sebagai titik balik untuk meraih ampunan Allah, meningkatkan amal saleh, memperbanyak doa dan taqarrub ilallah, serta meninggalkan kebiasaan buruk yang merusak integritas.

“Ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah harus berjalan beriringan. Kejujuran akademik, etos kerja, dan kepedulian sosial harus semakin kokoh,” tegasnya.

Ilmu dan Iman Fondasi Peradaban

Sebagai insan kampus, Suranto menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan iman. Ilmu tanpa iman akan kering makna, sementara iman tanpa ilmu kehilangan arah. Karena itu, nilai-nilai Ramadan harus hidup di ruang kuliah, laboratorium, hingga lorong administrasi.

Ia berharap lulusan UMS tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga menjadi teladan moral, penjaga akal sehat, dan penggerak kepekaan sosial di tengah tantangan zaman.

Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ûlun ‘an ra’iyyatihi,” ia mengingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Puasa sebagai Gerakan Moral

Menutup khutbahnya, Suranto menegaskan puasa adalah gerakan moral yang menyalakan lentera dalam diri, menjaga nilai dalam tindakan, serta menumbuhkan kepekaan sosial dalam kehidupan kampus dan masyarakat.

Dari tempaan Ramadan, diharapkan lahir generasi beriman, berilmu, dan berakhlak, yang setiap langkahnya bermakna bagi sesama dan bernilai di hadapan Allah SWT. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!