SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengukuhkan lima guru besar dalam Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan pada Selasa, (20/1), bertempat di Edutorium KH. Ahmad Dahlan UMS. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, para guru besar UMS, serta keluarga dan kolega para profesor yang dikukuhkan.
Acara pengukuhan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa, menciptakan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan. Prosesi ini menjadi penanda penting penguatan tradisi akademik UMS sekaligus kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin.
Lima guru besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai bidang keilmuan strategis. Mereka adalah;
1. Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si. dengan karya bertajuk “Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi (Technopreneurship), Menuju Kemandirian Lulusan (Potensi dan Tantangannya)” sebagai Guru Besar UMS ke-66.
2. Prof. Ir. Eko Setiawan, S.T., M.T., Ph.D. dengan karya “Hidup Berdampingan dengan Risiko Bencana: Ikhtiar Menuju Masyarakat Tangguh Bencana” sebagai Guru Besar UMS ke-67.
3. Prof. Heru Supriyono, S.T., M.Sc., Ph.D. dengan karya “Aplikasi Instrumentasi dan Kendali dalam Berbagai Bidang di Era Internet of Things (IoT) untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” sebagai Guru Besar UMS ke-68.
4. Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, SST.FT., Ftr., M.Kes. dengan karya “Neurorestorasi Pasca Stroke: Strategi Fisioterapi untuk Meningkatkan Fungsi Optimal” sebagai Guru Besar UMS ke-69.
5. Prof. Andri Nirwana, S.Th., M.Ag., Ph.D. dengan karya “Ilmu Tafsir dan Tanggung Jawab Etika Kebangsaan: Membaca Asta Cita dalam Horizon Al-Qur’an” sebagai Guru Besar UMS ke-70.
Setelah pembacaan Surat Keputusan Guru Besar dan daftar riwayat hidup oleh Sekretaris Senat UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., acara dilanjutkan dengan pemutaran video profil dan pidato singkat dari para guru besar.
Prosesi pengukuhan dilakukan melalui pembacaan naskah pengukuhan oleh Ketua Senat, dilanjutkan dengan pengalungan samir guru besar oleh Rektor UMS bersama Ketua Senat, Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa UMS tercatat memiliki 856 dosen dan berpeluang besar untuk terus menambah jumlah guru besar.
“Sekarang capaian jabatan guru besar tidak lagi dibatasi usia serta berharap para profesor mampu memberi dampak dan manfaat nyata bagi masyarakat.” ujarnya.
Koordinator Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah X Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag., menegaskan bahwa guru besar memiliki tanggung jawab moral, amanah, dan sosial.
“Selain menjadi pemimpin publik, guru besar juga harus tampil sebagai pemimpin intelektual dan moral yang aktif menyebarluaskan keilmuan di ruang-ruang diskusi akademik maupun sosial.” ungkapnya.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas pengukuhan lima guru besar tersebut.
“Saat ini UMS telah memiliki 70 guru besar dan terus mendorong percepatan capaian melalui visi One UMS One Guru Besar, sekaligus kami mengajak segenap sivitas akademika untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara kolaboratif dan berdampak.” pesannya.
Sementara itu, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.S., menyampaikan apresiasi atas capaian UMS sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah dengan jumlah guru besar terbanyak.
“Saya selalu menekankan pentingnya integrasi keilmuan dengan nilai-nilai Islam serta mendorong riset yang sederhana, aplikatif, dan mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM,” paparnya.
Pengukuhan lima guru besar ini, lanjutnya, menjadi momentum penting bagi UMS dalam memperkuat peran strategisnya sebagai poros intelektual Muhammadiyah dan Indonesia, serta meneguhkan komitmen pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa. (*)
