SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan observasi bangunan mixed-use di Kampung Admiralty, Kamis (5/2). Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai real project building di kawasan ASEAN sekaligus menggali solusi hunian adaptif bagi kota-kota padat dengan keterbatasan lahan.
Sebanyak 16 mahasiswa mengikuti rangkaian studi lapangan di Singapura dan Malaysia dengan pendampingan dosen pembimbing lapangan, Suharyani, S.T., M.T. Observasi dilakukan melalui pengenalan konteks tata ruang dan konsep perancangan, dilanjutkan pencatatan lapangan, dokumentasi foto dan sketsa, serta wawancara dengan pengguna bangunan.
“Fokus pengamatan diarahkan pada bagaimana konsep mixed-use di Kampung Admiralty mengintegrasikan hunian, layanan kesehatan, fasilitas komersial, dan ruang publik dalam satu kompleks vertikal. Model ini dinilai mampu mendorong interaksi sosial, meningkatkan aksesibilitas, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan di kawasan dengan kepadatan tinggi,” ungkap Suharyani, Senin (23/2).
Mahasiswa mengamati penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan, seperti penyediaan ruang hijau bertingkat, integrasi lanskap dengan massa bangunan, sirkulasi vertikal yang efisien, hingga desain ramah lanjut usia. Kompleks delapan lantai dengan dua basement yang dimiliki Kampung Admiralty mampu menampung berbagai fasilitas, mulai dari supermarket, plaza, klinik, taman kanak-kanak, roof garden, apartemen lansia, hingga sky terrace.
Menurut masyarakat setempat, keberadaan ruang hijau menjadi elemen penting dalam menjaga kenyamanan termal. Mengingat Singapura merupakan negara kota dengan luas terbatas, vegetasi pada bangunan berfungsi membantu menurunkan suhu dan menciptakan ruang yang lebih sejuk. Integrasi tanaman dan lanskap vertikal ini menjadi bagian dari strategi desain tropis yang responsif terhadap iklim.
“Dari hasil kegiatan, mahasiswa memperoleh pemahaman konkret mengenai strategi mixed-use sebagai solusi intensifikasi lahan di kota padat. Mereka mempelajari integrasi layanan kesehatan dan komersial yang mendukung konsep ageing in place, penerapan ruang publik bertingkat, serta praktik keberlanjutan yang relevan untuk konteks perkotaan tropis,” ujar Suharyani.
Selain meningkatkan kompetensi teknis, kegiatan ini juga mengasah kepekaan sosial, kemampuan dokumentasi visual, serta keterampilan analitis mahasiswa dalam membaca relasi antara desain, fungsi, dan kebutuhan masyarakat.
“Diharapkan, temuan dan pengalaman lapangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi desain dan kebijakan yang aplikatif bagi perencanaan kawasan padat di Indonesia,” tegasnya.
Menurut dosen Arsitektur UMS itu, kunjungan studi ini sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa Arsitektur UMS dalam menghasilkan gagasan desain yang kontekstual, realistis, dan berorientasi pada keberlanjutan kota. (*)
