SOLO, MENARA62.COM – Inovasi rehabilitasi bahu berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id berhasil meraih prestasi internasional. Mengusung nama MoveWall-AI, inovasi yang menggabungkan teknologi AI dan permainan interaktif tersebut meraih Bronze Medal dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2026 di Universitas Indonesia, 13–18 Oktober 2026.
MoveWall-AI dikembangkan sebagai alternatif metode rehabilitasi bahu yang lebih menarik dan adaptif. Inovasi bertajuk “MoveWall-AI: Transforming Shoulder Rehabilitation Through AI-Adaptive Interactive Exergaming” ini mengintegrasikan prinsip latihan fisioterapi, teknologi AI, dan konsep permainan interaktif.
Gagasan tersebut berangkat dari tantangan rehabilitasi bahu yang membutuhkan latihan berulang dan konsisten. Namun, aktivitas latihan dengan metode yang monoton berpotensi membuat pasien mengalami kejenuhan sehingga dapat memengaruhi motivasi dalam menjalani proses pemulihan.
Mahasiswa Profesi Fisioterapi UMS, Taqiyyah Nurul ’Azzah, menjelaskan bahwa MoveWall-AI dirancang untuk menghadirkan pengalaman rehabilitasi yang lebih menyenangkan tanpa menghilangkan tujuan terapeutik dari setiap gerakan.
“Awalnya, ide MoveWall-AI muncul dari ketertarikan kami untuk mengembangkan inovasi di bidang fisioterapi yang memanfaatkan perkembangan teknologi. Kami melihat bahwa rehabilitasi, khususnya pada pasien dengan gangguan bahu, membutuhkan latihan yang dilakukan secara berulang dan konsisten. Namun, terkadang latihan yang dilakukan secara terus-menerus bisa terasa monoton bagi pasien,” ungkap Taqiyyah, Senin (2/11/2026).
Menggabungkan Fisioterapi dengan Permainan Memanah
Keunikan MoveWall-AI terletak pada konsep permainan memanah dengan target berupa apel yang ditempatkan pada sejumlah posisi dan ketinggian. Pengguna diminta melakukan gerakan bahu untuk mengarahkan panah menuju target.
Permainan tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi dirancang agar setiap gerakan tetap berkaitan dengan kebutuhan latihan rehabilitasi bahu.
Teknologi AI menjadi komponen penting dalam sistem ini. AI dirancang untuk menganalisis gerakan pengguna sekaligus menyesuaikan tingkat kesulitan permainan berdasarkan kemampuan gerak masing-masing.
Penyesuaian dilakukan melalui perubahan posisi target, mulai dari sudut gerakan yang lebih rendah hingga lebih tinggi, mengikuti perkembangan kemampuan pengguna. Dengan pendekatan adaptif tersebut, latihan diharapkan dapat berlangsung secara bertahap sesuai kapasitas gerak pasien.
Selain berpotensi meningkatkan motivasi pasien melalui pendekatan permainan, sistem ini juga diharapkan dapat membantu fisioterapis memantau perkembangan kemampuan gerak selama proses rehabilitasi.
Meski demikian, MoveWall-AI masih membutuhkan penyempurnaan sebelum dapat diterapkan secara luas. Tim pengembang menilai pengujian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan keamanan, akurasi teknologi, dan efektivitas sistem dalam mendukung rehabilitasi pasien.
“Kami perlu menyempurnakan sistem deteksi gerakan, meningkatkan akurasi teknologi AI, serta melakukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya. Kami juga ingin nantinya MoveWall-AI dapat diuji secara langsung kepada pasien melalui penelitian klinis. Jadi, inovasi ini benar-benar bisa dibuktikan manfaatnya dan bukan hanya menarik dari sisi teknologi,” jelas Taqiyyah.
Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu
Inovasi ini lahir dari kolaborasi mahasiswa lintas program studi dan perguruan tinggi. Tim pengembang terdiri atas Taqiyyah Nurul ’Azzah dari Profesi Fisioterapi UMS, Hafidh Erli Nurdin dari S1 Fisioterapi UMS, Sri Kusuma Dewi dari S1 Farmasi UMS, Airlangga Pradana P. dari S1 Teknik Informatika UMS, serta Alfin Andhika M. dari S1 Informatika Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY).
Pengembangan inovasi tersebut mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Arif Pristianto, SSt.FT., Ftr., M.Fis.
Arif mengapresiasi semangat mahasiswa yang mampu mengembangkan gagasan inovatif, membangun kolaborasi lintas disiplin, dan mengikuti kompetisi internasional di tengah kesibukan perkuliahan serta praktik.
Menurutnya, capaian Bronze Medal ISIF 2026 diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi tim, tetapi juga memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berkompetisi.
“Kami senang dan bangga dengan para mahasiswa yang tetap aktif dan kreatif berinovasi, berkolaborasi, dan berprestasi di tengah kesibukan kuliah dan praktik. Semoga inovasi dan prestasi ini terus dikembangkan serta menjadi motivasi bagi adik tingkat agar ada regenerasi bagi mahasiswa yang aktif dalam kompetisi,” tuturnya.
Bagi tim pengembang, Bronze Medal ISIF 2026 menjadi pijakan awal untuk membawa MoveWall-AI menuju pengembangan yang lebih aplikatif. Mereka berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi terus disempurnakan melalui penelitian dan pengujian klinis.
Ke depan, MoveWall-AI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif inovasi teknologi rehabilitasi yang membantu meningkatkan pengalaman latihan pasien sekaligus mendukung kerja fisioterapis dalam memantau perkembangan pemulihan, khususnya pada pasien dengan gangguan bahu. (*)

