Jangan Jadikan Muhammadiyah Sebagai Batu Loncatan

Baca Juga:

Meneguhkan Keikhlasan Berjuang, Integritas Kader

Dan Etika Kepemimpinan Dalam Persyarikatan

Oleh: Dr. Risman Muchtar, M.Si

MENARA62.COM – Muhammadiyah didirikan bukan untuk menjadi kendaraan bagi ambisi pribadi, tempat membangun popularitas, atau batu loncatan untuk memperoleh jabatan dan kekuasaan. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan misi dakwah dan tajdid untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Karena itu, setiap orang yang memilih berkhidmat di Muhammadiyah seyogianya memahami bahwa berorganisasi merupakan bentuk pengabdian, bukan sekadar sarana untuk memperoleh kedudukan, memperluas pengaruh pribadi, atau membangun citra di hadapan publik.

Organisasi sebagai Amanah, Bukan Kendaraan Ambisi

Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim…” (QS. Al-Baqarah [2]: 188).

Ayat ini memberikan peringatan tentang larangan menggunakan cara-cara yang batil untuk memperoleh keuntungan. Dalam konteks organisasi, prinsip tersebut relevan sebagai pengingat agar amanah, fasilitas, jaringan, dan kepercayaan yang diperoleh melalui Persyarikatan tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi.

Kader Muhammadiyah perlu membangun kesadaran bahwa jabatan merupakan amanah, bukan hak istimewa; kepemimpinan merupakan tanggung jawab, bukan kesempatan untuk memperkaya diri; dan kepercayaan anggota merupakan titipan yang harus dipelihara.

Keikhlasan Harus Terbukti dalam Pengabdian

Allah Swt. berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5). Keikhlasan merupakan fondasi amal dalam Islam. Dalam kehidupan Persyarikatan, keikhlasan dapat tercermin melalui kesediaan bekerja tanpa selalu menuntut penghargaan, melaksanakan tugas meskipun tidak memperoleh jabatan, serta tetap berkontribusi ketika kepentingan pribadi tidak sejalan dengan keputusan organisasi yang sah.

Tentu saja, mengharapkan pengembangan karier bukanlah sesuatu yang otomatis tercela. Seseorang dapat memiliki karier profesional sekaligus menjadi kader yang tulus. Persoalan muncul apabila Muhammadiyah hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk meraih keuntungan pribadi, sementara komitmen terhadap dakwah dan kepentingan Persyarikatan diabaikan.

Kepemimpinan Harus Berlandaskan Amanah dan Integritas

Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa’ [4]: 58). Prinsip ini mengandung tuntutan agar kepemimpinan diberikan dan dijalankan secara bertanggung jawab. Pemilihan pemimpin di lingkungan Muhammadiyah perlu memperhatikan integritas moral, kapasitas intelektual, kompetensi organisasi, pemahaman keislaman, rekam jejak pengabdian, serta kesediaan mendahulukan kepentingan Persyarikatan.

Kedudukan dalam organisasi tidak semestinya menjadi alat untuk membangun loyalitas personal, menyingkirkan pihak yang berbeda pendapat, atau menguasai sumber daya organisasi bagi kepentingan kelompok tertentu.

Sebaliknya, pemimpin yang amanah akan memperkuat sistem, mengembangkan kaderisasi, menghargai musyawarah, dan menyiapkan penerus yang mampu melanjutkan perjuangan.

Muhammadiyah Bukan Tangga Menuju Kekuasaan

Keterlibatan kader Muhammadiyah dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, pemerintahan, maupun politik kebangsaan tidak dengan sendirinya bertentangan dengan nilai Persyarikatan. Pengabdian di berbagai bidang dapat menjadi bentuk kontribusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat.

Namun, perlu dibedakan antara membawa nilai-nilai Muhammadiyah ke ruang pengabdian publik dan memanfaatkan Muhammadiyah semata-mata untuk kepentingan pribadi.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari cara seseorang memperlakukan amanah, menjaga independensi organisasi, menghormati keputusan kolektif, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Muhammadiyah tidak semestinya diposisikan sebagai alat untuk mendapatkan akses kekuasaan, dukungan politik, keuntungan ekonomi, atau legitimasi sosial yang kemudian ditinggalkan ketika tujuan pribadi telah tercapai.

Kader yang berintegritas justru berusaha agar keberhasilan pribadi memberikan manfaat bagi Persyarikatan dan masyarakat, tanpa menjadikan organisasi sebagai milik atau instrumen kepentingan dirinya.

Mengukur Loyalitas dari Rekam Jejak, Bukan Pencitraan

Loyalitas terhadap Muhammadiyah tidak cukup dinilai dari kefasihan berbicara tentang Persyarikatan, banyaknya simbol yang digunakan, atau kedekatan seseorang dengan tokoh tertentu. Loyalitas perlu ditelaah melalui rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan, antara lain:

Konsistensi dalam menjalankan misi dakwah dan tajdid.

Kejujuran dalam mengelola amanah dan sumber daya organisasi.

Kesediaan menaati aturan serta keputusan organisasi yang sah.

Komitmen terhadap kaderisasi dan pengembangan amal usaha.

Sikap terbuka terhadap kritik dan evaluasi yang objektif.

Kemampuan membedakan kepentingan pribadi, kelompok, dan Persyarikatan.

Kesediaan tetap berkhidmat meskipun tidak menduduki jabatan struktural.

Penilaian tersebut harus dilakukan berdasarkan bukti, prosedur yang adil, dan kesempatan bagi pihak terkait untuk memberikan penjelasan. Kritik terhadap perilaku atau kebijakan tidak boleh berubah menjadi fitnah, prasangka, ataupun penghakiman tanpa dasar.

Mengembalikan Orientasi Perjuangan kepada Misi Persyarikatan

Muhammadiyah memerlukan kader yang bukan hanya cerdas dan terampil, melainkan juga memiliki integritas moral, kedalaman pemahaman agama, kedewasaan organisasi, dan orientasi pengabdian. Untuk itu, penguatan kaderisasi perlu disertai pendidikan etika kepemimpinan, transparansi pengelolaan amanah, evaluasi kinerja, mekanisme pengawasan, serta pembiasaan musyawarah yang sehat.

Budaya organisasi juga perlu memberi penghargaan kepada mereka yang bekerja nyata meskipun tidak populer, sekaligus menerapkan evaluasi yang objektif terhadap siapa pun yang memegang amanah. Dengan demikian, keberhasilan kader tidak hanya diukur dari jabatan yang diraih, tetapi juga dari manfaat yang ditinggalkan, kader yang dikembangkan, lembaga yang diperkuat, dan masyarakat yang diberdayakan.

Penutup

Jangan jadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan untuk meraih kepentingan pribadi, melainkan jadikan Persyarikatan sebagai ladang pengabdian dan perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari Muhammadiyah?” Akan tetapi, tanyakan pula, “Apa yang telah saya berikan dan wariskan untuk kemajuan Muhammadiyah?”

Kecintaan kepada Persyarikatan harus diwujudkan melalui kerja nyata, kejujuran, amanah, penghormatan terhadap musyawarah, dan kesediaan mengutamakan kepentingan dakwah di atas ambisi pribadi.

Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sekadar ingin menjadi seseorang melalui Persyarikatan. Muhammadiyah membutuhkan kader yang bersedia melakukan sesuatu yang bermakna bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan melalui perjuangan Persyarikatan.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing seluruh keluarga besar Muhammadiyah agar tetap ikhlas berjuang, teguh menjaga amanah, dan istiqamah dalam menegakkan dakwah amar makruf nahi mungkar demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!