SOLO, MENARA62.COM – Ceramah Tarawih di Masjid Raya Fatimah, Sabtu (21/2/2026), menghadirkan M Iqbal Thontowi yang mengangkat tema manajemen waktu dan konsistensi ibadah selama Ramadan. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan pentingnya menjaga keistiqamahan sejak maghrib pertama hingga maghrib terakhir menjelang Syawal.
Ceramah diawali dengan doa, pujian kepada Allah SWT, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Penceramah mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan menunaikan salat Isya dan tarawih berjamaah di bulan suci. Ia juga mendoakan agar seluruh amal ibadah diterima serta diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah.
Ramadan Bukan Hanya “Prime Time”
Iqbal menekankan bahwa Ramadan adalah momentum perawatan diri secara menyeluruh. Menurutnya, keberkahan Ramadan tidak hanya terletak pada waktu-waktu tertentu yang dianggap “prime time”, tetapi pada keseluruhan hari-harinya.
“Jangan hanya fokus pada satu waktu, lalu lalai pada waktu lainnya. Dari maghrib pertama hingga maghrib terakhir, semuanya adalah kesempatan beribadah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menunda kebaikan dan tidak memilih-milih waktu dalam beramal. Setiap detik Ramadan, kata dia, memiliki nilai yang berharga.
Ibadah Seimbang, Hidup Tetap Sehat
Dalam ceramahnya, Iqbal juga menyoroti pentingnya menjaga ritme ibadah dan keseimbangan hidup. Ia mencontohkan fenomena sebagian orang yang memaksakan diri tadarus semalaman dengan konsumsi kopi berlebihan, tetapi mengabaikan waktu istirahat.
“Ibadah tidak harus berlebihan hingga merusak kesehatan. Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, ibadah yang sedikit namun konsisten dan berkualitas lebih utama daripada yang banyak tetapi membebani diri sendiri maupun orang lain.
Makna Muhasabah dan Wahtisaban
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah makna wahtisaban atau perhitungan diri. Ramadan menjadi momen evaluasi spiritual, agar semangat di awal bulan tidak surut di pertengahan.
Menurutnya, kualitas ibadah jauh lebih penting daripada kuantitas. Konsistensi dalam salat, tadarus, sedekah, dan doa harus dijaga hingga akhir Ramadan.
Waktu Mustajab: Sahur dan Berbuka
Iqbal mengingatkan dua waktu utama yang mustajab untuk berdoa, yakni menjelang sahur dan berbuka puasa.
Saat sahur, ia menganjurkan agar mengakhirkan makan dengan penuh ketenangan (tumakninah), tidak tergesa-gesa, serta menikmati makanan secukupnya. Adapun menjelang berbuka, jamaah diminta menjaga suasana tetap kondusif agar doa yang dipanjatkan lebih khusyuk.
“Hindari keributan dan persiapan berlebihan saat berbuka. Gunakan waktu menunggu azan maghrib untuk berdoa,” pesannya.
Perang Melawan Nafsu
Meski setan dibelenggu selama Ramadan, Iqbal mengingatkan bahwa nafsu tetap menjadi tantangan utama. Ia menekankan pentingnya lingkungan yang baik, seperti salat berjamaah bersama orang saleh dan imam yang merdu, untuk memperkuat ketakwaan.
“Perjuangan terbesar adalah melawan nafsu diri demi meraih ridha Allah,” katanya.
Ia menutup ceramah dengan mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum disiplin, manajemen waktu, dan penguatan spiritual. Dengan kesungguhan, konsistensi, serta keseimbangan antara ibadah dan aktivitas sehari-hari, Ramadan diharapkan menjadi jalan meraih keberkahan dan ridha Allah SWT. (*)


