30 C
Jakarta

Melanjutkan Misi Ramadhan

Baca Juga:

 

RAMADHAN telah berlalu. Belum lama. Bulan penuh berkah. Bulan Istimewa. Bulan yang didalamnya penuh  pelipat gandaan pahala. Bulan yang entah dari mana, semangat beribadah dan beramal soleh itu muncul, tumbuh dan terus. Sehingga tidak berlebihan jika para sahabat, disebutkan dalam sebuah hadits meminta kepada Nabi Muhammad Saw, agar beliau mau berdoa kepada Allah Swt agar dijadikan setiap bulannya itu Ramadhan. Namun kali ini Nabi menolaknya. “Ramadhan cukuplah sebulan.” Penjelasan dar hadits ini, biarlah 11 bulan di luar bulan Ramadhan sebagai bentuk uji petik hasil dari sebulan di upgrade, di sekolahkan, diklat – adakah hasilnya? Kita dapat buktikan tidak saja dibulan suci Ramadhan, namun justru di luar bulan Ramadhan itu.

Maka mari kita tengok beberapa amal baik yang kemarin sudah kita laksanakan. Minimal dapat kita lanjutkan. Idealnya memang kita tingkatkan. Namun dalam prakteknya, penulis sendiri merasakan kesulitan. Bisa sama, seperti saat Ramadhan sudah luar biasa. Menjadikan suasana Ramadhan, di luar bulan Ramadhan, begitu sulitnya. Yang bisa kita lakukan Adalah memicu dan memacu diri sendiri dan keluarga.

Pertama, Sholat Malam. Tahajud. Yang di Ramadhan kemarin disebut Sholat Taraweh. Hukumnya Sunnah Muakad. Sunah yang dikuatkan, Sedikit dibawah wajib. Jika kemarin kita bisa dengan  menjalankan sholat tarawih, maka mari kita lanjutkan dengan sholat malam. Tahajud. Mau yang kelas biasa atau utama. Nabi menganjurkan, jika kelas utama di dua pertiga malam. Beratnya Sholat malam adalah didahului dengan tidur. Beberapa dasar hukum yang menguatkan kita. – Surah Al-Isra’ (17:79): “Dan pada sebagian malam, sholat tahajudlah kamu sebagai tambahan bagi kamu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” – Surah Al-Muzzammil (73:1-4): “Wahai orang yang berkudung (Muhammad), sholatlah (malam) kecuali sedikit (dari malam itu).” – Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim: “Sholat malam adalah sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.” – Hadis Riwayat Tirmidzi: “Sholat malam adalah kebiasaan orang-orang yang saleh sebelum kamu.”

Kedua, Sholat berjamaah. Begitu mudahnya kaki kita melangkah ke masjid/mushola kita untuk sholat berjamaah. Mengapa di luar Ramadhan kita menjadi berat. Kita tanya kepada diri sendiri, apa yang memberatkannya ? Sibuk atau alasan lain. Kalau hanya alasan yang kita buat-buat, segera singkirkan. Mengingat pahala yang besar dari Sholat berjamaah ini. Selain dilipat gandakan pahalanya, kita dapat bersilaturahmi dengan tetangga sebelah, interaksi sosial dan yang tidak kalah pentingnya saat kita menjadi makmum, maka jika ada sedikit kesalahan/kekurangan akan ditanggung oleh imam-nya. Itulah sebabnya mengapa tidak semua orang bisa menjadi imam saat sholat berjamaah.

Ketiga, Taddarus Al-quran. Mengaji. Kapan kita mau mengaji di luar bulan Ramadhan. Al-quran sebagai petunjuk, jalan lurus, jalan yang di ridhai-Nya. Pembeda, penjelasan dari petunjuk itu. Maka sayang kalau tidak kita baca, pelajari, pahami, amalkan dan ajarkan. Pahala  besar menantinya. Tidak saja menjadi penerang di alam kubur, namun juga di alam dunia. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang terbiasa membaca al-quran diberikan kecerdasan. AI, IQ dan EQ. Komplet. Tidak mudah pikun. Huruf-huruf Al-quran Adalah simbul-simbul yang jika terus .menerus kita baca, akan memecah kebekuan dan kebuntuan dalam otak kita. Semoga dimudahkan untuk melanjutkan misi Ramadhan, di luar bulan Ramadhan. Mohon selalu berlindung dari godaan syetan yang terkutuk, agar selalu dalam kasih sayang dan ridha-Nya. ( Sekian )

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!