JAKARTA, MENARA62.COM —Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem riset perguruan tinggi agar lebih berdampak bagi masyarakat dan mendorong daya saing bangsa. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto pada Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Rabu (31/12).
Mendiktisaintek menekankan bahwa penguatan ekosistem riset tidak dapat dikerjakan sendiri oleh pemerintah pusat, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh simpul ekosistem.
“Perbaikan ekosistem riset tidak dapat dilakukan dari pusat saja, melainkan harus dibangun bersama oleh seluruh simpul ekosistem: perguruan tinggi, LLDIKTI, industri, pemerintah daerah, serta mitra strategis lainnya,” ujar Menteri Brian.
Mendiktisaintek menambahkan, forum ini dirancang sebagai ruang dialog dua arah agar masukan, saran, dan kendala peneliti di lapangan dapat menjadi bahan perbaikan kebijakan secara berkelanjutan.
Dalam arahannya, Mendiktisaintek menegaskan arah besar pembangunan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi melalui Diktisaintek Berdampak. Riset, menurutnya, harus kuat dan berkelas dunia, sekaligus mampu menjawab persoalan nyata dan selaras dengan prioritas nasional.
“Riset kita harus kuat dan berkelas dunia. Kita tidak perlu ragu bersaing dengan riset negara lain. Dengan kolaborasi dan kerja sama yang solid, capaian ilmiah berkualitas tinggi dapat terus ditingkatkan dan ditularkan ke lebih banyak peneliti,” kata Menteri Brian.
Mendiktisaintek juga menekankan kesinambungan riset hingga tahap hilirisasi. Riset dan hilirisasi, menurutnya, bukan dua hal yang dipertentangkan, melainkan harus berjalan beriringan: kuat pada fondasi keilmuan, sekaligus terarah pada pemanfaatan dan nilai tambah.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman beserta jajaran pimpinan Risbang memaparkan sejumlah capaian tahun 2025 Ditjen Risbang serta rencana implementasi program dan kebijakan tahun 2026 sebagai pembuka forum dialog.
“Ditjen Risbang memfokuskan penelitian pada penyelesaian tantangan nasional. Pada tahun 2026, kami akan melaksanakan Program Riset Prioritas dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Program Riset Strategis bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP),” kata Dirjen Fauzan.
Untuk tahun 2026, Ditjen Risbang menyiapkan strategi percepatan agar pelaksanaan program lebih optimal. Salah satunya melalui pembukaan penerimaan proposal lebih awal.
“Call for proposal sudah dibuka sejak Oktober 2025, sehingga kita harapkan riset bisa dimulai lebih awal dan periode pelaksanaan lebih optimal,” ujar Fauzan.
Dalam kesempatan tersebut, Ditjen Risbang juga memaparkan hasil Survei Evaluasi Program Risbang Tahun 2025 yang diisi oleh sekitar 6.400 responden dari kalangan dosen, peneliti, dan pejabat struktural perguruan tinggi.
Terkait kebijakan, Mendiktisaintek menyampaikan bahwa Kemdiktisaintek bersama Kementerian Keuangan telah menyepakati kebijakan honorarium peneliti hingga maksimum 25% dari dana penelitian yang berlaku mulai Tahun Anggaran 2026, guna mendorong produktivitas dan kualitas pelaksanaan riset di perguruan tinggi dengan tetap menjunjung prinsip akuntabilitas.
Forum ini diikuti pimpinan perguruan tinggi, Wakil Rektor bidang riset dan inovasi, pimpinan LPPM/DRI/DKST/STP, dosen-peneliti, serta Kepala LLDIKTI Wilayah I–XVII, dengan jumlah kehadiran lebih dari 2.700 peserta, termasuk jejaring akademik di luar negeri (diaspora). Kemdiktisaintek menegaskan akan terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi solusi, agar riset perguruan tinggi semakin berdampak bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional.
