SOLO, MENARA62.COM – Padatnya kuliah kedokteran gigi tak menghalangi Miranda Aisyah Putri untuk aktif mengejar prestasi, berorganisasi, hingga terlibat dalam kegiatan internasional.
Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id itu menutup masa studinya dengan pengalaman yang beragam. Selain menyelesaikan pendidikan akademik, Miranda tercatat meraih prestasi di ajang internasional dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Miranda menjadi salah satu wisudawan Program Sarjana, Magister, dan Doktor UMS Periode I Tahun Akademik 2026/2027 yang mengikuti prosesi wisuda di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS.
Salah satu pengalaman yang paling menonjol adalah ketika Miranda mengikuti Seoul International Invention Fair di Korea Selatan. Dalam ajang tersebut, ia berhasil meraih Silver Medal serta Special Award from Malaysian Association of Research Scientists.
Ia juga mengikuti sejumlah kegiatan internasional lain, seperti International Health Sciences Student Competition, Innovation and Exhibition serta UMS International Innovation Day.
Pengalaman internasional Miranda tidak berhenti pada kompetisi. Ia juga terlibat dalam kegiatan pengabdian kemitraan internasional di Busan, Korea Selatan.
“Sejak awal masuk, saya belajar untuk beradaptasi dengan banyaknya materi, praktikum, ujian blok, dan skills lab. Dari situ saya banyak belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta bagaimana manajemen waktu dan diri,” kata Miranda, Kamis (1/10/2026).
Tiga Periode di IMM
Di tengah kesibukan akademik, Miranda juga aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) selama tiga periode.
Pada periode pertama, ia dipercaya menjadi Sekretaris Bidang Organisasi di tingkat komisariat. Periode berikutnya, Miranda mendapat amanah sebagai Bendahara Umum Komisariat.
Pada periode ketiga, tanggung jawabnya meningkat. Miranda dipercaya menjadi Bendahara 1 di tingkat Cabang IMM Surakarta.
Baginya, setiap posisi memberikan pengalaman berbeda. Dari tugas kesekretariatan, ia belajar mengenai administrasi dan koordinasi. Sementara pengalaman di tingkat cabang memperluas kemampuannya bekerja dalam organisasi dengan lingkup yang lebih besar.
“Dari Sekretaris Bidang Organisasi saya belajar tentang administrasi dan koordinasi. Sedangkan di tingkat cabang saya belajar bagaimana bekerja dengan lingkup yang lebih luas,” ujarnya.
Pengalaman menjadi Bendahara 1 Cabang IMM Surakarta menjadi salah satu fase yang paling berkesan.
Menurut Miranda, amanah tersebut bukan sekadar jabatan organisasi. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
“Salah satu momen yang tidak kalah berkesan adalah ketika saya dipercaya memegang amanah dalam organisasi, terutama saat menjadi Bendahara 1 di tingkat cabang. Dari situ saya merasa bahwa amanah yang diberikan kepada saya merupakan sesuatu yang sangat berarti, sekaligus menjadi tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan sebaik mungkin,” tuturnya.
Belajar Membagi Prioritas
Menjalani pendidikan kedokteran gigi sekaligus aktif dalam organisasi dan kompetisi membuat Miranda harus cermat mengatur waktu.
Ia terbiasa membuat daftar prioritas berdasarkan tenggat waktu dan tingkat kepentingan. Tugas yang harus segera diselesaikan diupayakan tidak ditunda agar tidak berbenturan dengan agenda lain.
“Menurut saya, kuncinya adalah menentukan tingkatan prioritas dan membuat manajemen waktu yang jelas. Karena jadwal kuliah di FKG sendiri sudah cukup padat, saya harus bisa mengetahui kapan waktunya fokus pada akademik, kapan harus menjalankan tanggung jawab organisasi, dan kapan harus mempersiapkan perlombaan,” katanya.
Bagi Miranda, aktif dalam banyak kegiatan juga bukan berarti harus mengerjakan semuanya seorang diri. Pengalaman di organisasi dan kompetisi justru mengajarkannya pentingnya kerja tim.
“Menurut saya, mengikuti banyak kegiatan bukan berarti semua harus dilakukan sendiri. Justru dari organisasi dan perlombaan saya belajar tentang teamwork dan bagaimana bertanggung jawab terhadap bagian yang memang menjadi tugas saya,” ujarnya.
Dukungan Orang Tua
Perjalanan Miranda selama menempuh pendidikan FKG UMS juga tidak lepas dari dukungan keluarga.
Ayahnya, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., yang merupakan bagian dari Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) UMS, mengatakan Miranda memang sejak awal memiliki ketertarikan terhadap bidang kedokteran gigi.
UMS kemudian dipilih sebagai tempat Miranda mengembangkan minat sekaligus potensinya.
“Anak saya memang prefer di jurusan tersebut, di kedokteran gigi. Kebetulan salah satu perguruan tinggi yang memiliki jurusan kedokteran gigi dan sudah bereputasi adalah UMS. Maka dengan mantap memilih UMS untuk mengembangkan, termasuk mengasah potensinya,” kata Kholid.
Ia melihat Miranda mampu mengikuti tuntutan akademik FKG sekaligus mengembangkan kemampuan nonakademiknya.
“Secara akademik bisa mengikuti, tidak ada masalah, bisa lulus dengan baik. Dan juga ketika kuliah bisa ikut mengembangkan soft skill-nya, termasuk mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi,” ujarnya.
Kholid mengakui sempat khawatir melihat padatnya aktivitas Miranda. Tuntutan akademik kedokteran gigi tetap harus dijalani, sementara berbagai kegiatan di luar kuliah juga terus diikuti.
“Di kedokteran gigi UMS ini secara kualitas luar biasa. Mengikuti proses-proses akademik, saya lihat di rumah belajar sampai malam. Ketika mau tidur masih belajar, bangun tidur masih belajar lagi,” tuturnya.
Namun, aktivitas tersebut akhirnya menjadi bagian dari proses pembentukan diri Miranda.
“Yang bikin bangga, di sela-sela itu masih bisa beraktivitas, aktif, ikut berbagai kegiatan dan macam-macam. Kadang sebagai orang tua juga khawatir secara akademik, tapi alhamdulillah bisa mengikuti dengan baik,” kata Kholid.
Lanjut Coas dan Magang
Setelah menerima ijazah pada Jumat (25/9/2026), perjalanan Miranda belum berhenti. Ia kini melanjutkan pendidikan ke tahap Coas untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan kedokteran gigi yang diperoleh selama masa perkuliahan.
Selain menjalani Coas, Miranda juga mengikuti kegiatan magang di salah satu klinik Muhammadiyah. Baginya, pengalaman praktik menjadi bagian penting untuk melengkapi pembelajaran di bangku kuliah.
“Harapan saya bisa melanjutkan ke tahap Coas dan menjalani prosesnya dengan sebaik mungkin. Saya ingin menggunakan masa Coas bukan hanya untuk memenuhi tahapan pendidikan, tetapi juga untuk benar-benar memperdalam ilmu dan keterampilan yang sudah saya dapatkan selama kuliah,” ungkapnya.
Ke depan, Miranda ingin menjadi dokter gigi yang tidak hanya mengandalkan kemampuan klinis. Kemampuan berkomunikasi dan memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat juga menjadi bagian dari cita-citanya.
“Menjadi dokter gigi bukan berarti proses belajarnya berhenti setelah lulus. Setelah itu akan ada banyak pengalaman baru yang bisa membuat saya semakin berkembang, baik secara profesional maupun sebagai pribadi,” pungkas Miranda. (*)

