Oleh : Ace Somantri
Imam dan Khotib Idul Fitri 1447 H di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cibeunying Kidul Kota Bandung
BANDUNG, MENARA62.COM – Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamdu. Atas rahmat dan hidayah-Nya umat muslim mampu melewati rangkaian ibadah shaum selama satu bulan penuh. Di dalamnya terdapat banyak dinamika yang menjadi peluang dan kesempatan bagi umat muslim mendekatkan diri kepada pemilik alam semesta, sekaligus menguji diri sejauh mana kualitas keberislaman dalam ruang dan waktu yang penuh dengan nilai-nilai spiritual ketauhidan sangat transedental. Dalam kenyataannya begitu nampak dan benar keberadaannya bahwa bulan Ramadan salah satu bulan dari dua belas bulan dalam satu tahun hijriyah memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Tradisi yang turun menurun telah terwariskan oleh generasi terdahulu.
Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamdu, selama Ramadan jiwa dan raga umat muslim ditempa dengan rasa lapar dan dahaga, juga diwajibkan menahan hawa nafsu munkarat dan maksiat. Konsekuensinya ada dorongan kuat untuk beramal kebajikan, baik dalam meningkatkan ritual ibadah secara vertikal maupun horizontal. Penuh waktu dalam satu tahun lamanya, jiwa dan raga umat manusia pada umumnya mengalami metamorfosis dan terjadi evolusi secara generatif tanpa ada yang terlewati. Jasad dan ruhani dipastikan terpengaruhi oleh paparan noda debu dan kotoran lainnya yang telah mempengaruhi sikap dan perbuatan melanggar kata hati nurani, sehingga saat-saat tertentu tanpa disadari maupun disadari telah berbuat keburukan dan kejahatan. Wajar badan jasad dan jiwa harus dibersihkan dan disucikan dengan men”charge” dengan taqorub kepada Allah Ta’ala dalam bentuk amal ibadah dan kebaikan lainnya.
Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamdu, di bulan Ramadan menjadi momentum waktu untuk memperbaiki diri atau mengevaluasi diri selama 11 (sebelas) bulan lamanya lebih banyak berbuat dosa ketimbang berbuat kebaikan. Bahkan, ada satu malam yang nilainya lebih baik seribu bulan, artinya disadari betul jumlah kapasitas energi di bulan Ramadhan sangat spesial sehingga satu amalan kebaikan di bulan tersebut nilainya berlipat ganda manakala segala perbuatan, khususnya bershaum karena Allah Ta’ala. Dari nilai tersebut dapat memiliki fungsi membersihkan dan mensucikan kotoran menjadi pembersih noda dosa yang lalu, terlebih kita mendapatkan kemuliaan satu malam lailatulqodar. Satu bulan penuh dengan energi super kuat dan hebat, wajib untuk tidak dilewati untuk membersihkan kembali agar dapat memenuhi energi pada jiwa dan tubuh jasad kita semua. Sehingga dengan kekuatan energi baru, berharap mampu mendorong diri lebih berenergi untuk berbuat amal kebaikan.
Sebulan penuh berupaya membersihkan diri dan mencharge ulang energi, berharap baterei dalam diri masih belum drop, sehigga saat diisi ulang mampu kembali penuh sesuai kapasitasnya. Hanya penting diketahui, bahwa jika Ramadan berakhir, maka ruang energi bulan tersebut secara bersamaan di hari berikutnya akan kembali pada semula, kemudian sebagai rasa syukur atas rahmat, berkah dan hidayah-Nya selama Ramadan, oleh Allah Ta’ala diberikan hari penuh kebahagiaan yaitu hari raya Iedul Fitri, sebagai simbol kebahagiaan rasa syukur kepada-Nya karena jiwa dan raga telah kembali bersih dan suci, insyaallah. Saat diri sudah keadaan bersih dan suci diri, maka untuk menjaga konsistensi atau keistiqomahan dalam beramal selama beraktifitas, karena sudah dipastikan banyak berinteraksi dengan sesama. Untuk menjaga sesuatu hal yang tidak disadari telah berbuat keburukan, baik diri kita maupun orang lain yang sangat mungkin juga berbuat hal yang sama melakukan keburukan. Maka, dianjurkan momentum Iedul Fitri untuk saling bersilaturahmi dibarengi saling maaf memaafkan penuh ketulusan.
Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamdu, silaturahmi saat momentum Iedul Fitri adalah anjuran dalam ajaran Islam, karena bersilatirahmi membangun jiwa diri membentuk sikap lembut penuh kasih sayang yang dihiasi saling memaafkan, terdapat dalam Qur’an Surat Al-A’raf ayat 199 berikut ini:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Artinya: “Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.”
Bahkan, saat ketika silaturahmi harus dijadikan momentum membangun kolaborasi kebaikan demi terwujudnya kehidupan harmoni, yang mampu melahirkan aktifitas hidup lebih produktif yang bermanfaat untuk orang banyak. Karena manusia pada dasarnya sebagai mahluk sosial yang saling ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan yang lainnya. Agar tetap terjaga nilai harmoni, penguatan kolaborasi berbagai bidang dan aspek kehidupan yang saling memberi manfaat menjadi keharusan yang wajib dijalankan untuk membawa kehidupan bagi umat, bangsa dan negara menuju terwujudnya keadilan, kesejahteraan dan keadaban yang bermartabat.
Disaat yang tepat, dalam kondisi jiwa dan raga bersih, suci dan penuh energi positif harus menjadikan momentum untuk berkolaborasi untuk mengisi ruang dan waktu dalam satu tahun kedepan lebih berdaya, berguna dan bermanfaat yang dapat mengurangi dan mempersempit nilai-nilai madlarat (membahayakan) dan mafasadat (merusak). Saling bersilaturahmi dan saling memaafkan bukan sekedar seremonial karena tradisi yang telah membudaya lama, melainkan ada makna dibalik sikap demikian ternyata merupakan ajaran Islam yang sangat spiritualistik. Tidak terbayangkan jika umat muslim tidak saling silaturahmi dan bermaaf-maafan, akan terjadi sebaliknya saling bertikai dan bermusuhan satu sama lain tiada berkesudahan yang mengerikan dan menakutkan. Teks nash menjelaskan Q.S Al hujurat ayat 10; “…orang mukmin bersaudara, maka harmonilah di antara kamu sekalian….! ” makna kandungan tks tersebut menekankan silaturahmi untuk harmoni. Sekaligus diperkuat dengan teks diatas, bahwa saling memaafkan adalah perintah Islam dalam Kalam-Nya dengan kalimat ” Jadilah pemaaf ” dari kata tersebut sangat jelas dan tegas sekaligus brrdampak dan efeknya menjadi jalan untuk berbuat kebaikan lebih bermakna.
Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamdu, berkolaborasi penuh manfaat akan menciptakan sebuah peradaban peradaban sejati. Karena hal demikian secara praktis akan membawa perubahan yang memajukan, 1). Meningkatkan produktivitas, tidak sekedar menghabiskan waktu tak berdayaguna melainkan mendatang nilai-nilai material dan imaterial. 2). akan mampu mendorong inovasi, yang tidak sekedar berkarya biasa melainkan membuat karya-karya luar biasa dengan terobosan baru yang terbarukan. dan yang 3). Membuka ruang untuk mempercepat pemecahan masalah (problem solving) melalui kombinasi dan integrasi berbagai keahlian dan perspektif. Hal demikian penting dijadikan rumusan strategis, pasalnya umat manusia saat ini, khusus warga muslim cenderung mengalami culture shock dalam menghadapi era Baru abad digital global. Bahkan, faktanya dari fenomena tersebut tidak sedikit terjadi akulturasi budaya yang tidak sehat dan cenderung merusak sikap dan moral generasi.
Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamdu, menjadi pelajaran dan hikmah yang berharga. Saat Ramadhan telah menekan sikap-sikap demikian, sehingga di hari raya Iedul Fitri ini kita karena bersaudara seiman untuk saling mengingatkan kebaikan dengan cara menjaga ikatan bathin silaturahmi yang tulus, dihiasi bermaaf-maafan, serta diikat dengan ikatan kolaborasi yang bermanfaat praktis dan strategis. Sebaliknya, jika kita menghindari sikap dan perbuatan tersebut justru akan menghabiskan batrei kehidupan yang sudah penuh terisi energi positif akan cepat kosong kembali hingga pada waktu tertentu akan mengalami turbulensi kehidupan yang mendatangkan bahaya dan kerusakan pada diri dan lingkungan sekitarnya. Konsekuensi dari itu cukup mengerikan, yaitu akan mendapatkan predikat manusia yang masuk golongan orang-orang bodoh (jahiliyah) yang tak pandai bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Insyaallah, umat muslim dimanapun saat ini posisi dalam bersih suci dan ada dalam kebahagiaan yang abadi. Aamin. Wallahu’alam. Taqobbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum, Minal Aidin Waja’alna Walfaidzin. Mohon Maaf lahir dan Bathin.
Bandung, 20 Maret 2026
