SOLO, MENARA62.COM – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarsari menggaungkan semangat persaudaraan dan persatuan bangsa melalui Pengajian Hari Bermuhammadiyah bertema “Menjalin Ukhuwah Satukan Bangsa”, Ahad (25/10/2026), di Masjid Al Falah, Gilingan, Surakarta.
Pengajian yang diisi oleh KH Subari tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kegiatan ini dihadiri Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta, Lurah Gilingan, serta berbagai unsur masyarakat dan persyarikatan Muhammadiyah. Hadir pula pimpinan dan anggota organisasi perempuan Aisyiyah, simpatisan Muhammadiyah, kepala sekolah, pengurus takmir masjid, serta tokoh masyarakat.
Ketua PCM Banjarsari, Dr. HM Rusmanto, yang juga Kepala SMP Muhammadiyah 1 Simpon, menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi antara Muhammadiyah, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam sambutannya.
Menurutnya, pengajian tidak semestinya hanya menjadi agenda rutin untuk menambah pengetahuan agama. Lebih dari itu, kegiatan tersebut perlu menjadi ruang silaturahmi, penguatan ideologi Muhammadiyah, serta upaya membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Pemberdayaan
PCM Banjarsari mendorong penguatan dakwah berbasis masjid melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satu gagasan yang diangkat ialah program KOPI, singkatan dari Kolaborasi Pengajian dan Penguatan Ideologi.
Program tersebut menjadi upaya untuk mengintegrasikan kegiatan pengajian dengan penguatan nilai-nilai persyarikatan, sekaligus memperluas manfaat dakwah bagi masyarakat.
Melalui pendekatan ini, masjid diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, penguatan persaudaraan, dan pengembangan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kolaborasi lintas lembaga juga dinilai penting agar gerakan dakwah mampu menjawab kebutuhan warga. Sinergi antara organisasi keagamaan, pemerintah setempat, lembaga pendidikan, dan tokoh masyarakat dapat menjadi modal sosial untuk membangun lingkungan yang lebih solid dan berdaya.
Peran Aisyiyah dan Pendidikan Muhammadiyah
Keterlibatan unsur Aisyiyah dalam pengajian tersebut memperlihatkan pentingnya peran perempuan dalam menjaga keberlangsungan dakwah dan kehidupan sosial di lingkungan Muhammadiyah.
Partisipasi pimpinan cabang dan ranting Aisyiyah bersama simpatisan Muhammadiyah menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring persaudaraan sekaligus menjaga semangat kebersamaan di tingkat akar rumput.
Selain itu, lembaga pendidikan Muhammadiyah juga memiliki peran strategis dalam membina generasi muda yang berkarakter, berprestasi, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Dukungan sekolah-sekolah Muhammadiyah, termasuk SMA Muhammadiyah 6 Surakarta, diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Penguatan Takmir dan Kepedulian Sosial
Pengajian Hari Bermuhammadiyah PCM Banjarsari juga diwarnai dengan pelantikan pengurus takmir Masjid Al Falah. Pembentukan kepengurusan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali berbagai kegiatan masjid serta memperkuat pelayanan keagamaan bagi warga.
Di samping penguatan spiritual, kegiatan ini juga menonjolkan kepedulian sosial melalui bantuan dan pembagian beras sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat.
Langkah tersebut mencerminkan bahwa dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan warga.
Dengan semangat “Menjalin Ukhuwah Satukan Bangsa”, PCM Banjarsari berharap pengajian dan berbagai program kolaboratif dapat terus mempererat hubungan antarelemen masyarakat. Persaudaraan, kepedulian sosial, dan kerja sama menjadi modal penting untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis serta memperkuat kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa. (*)

