31.5 C
Jakarta

Pejuang Perang Kemerdekaan Palestina Di Gaza Dapat Tekanan Hebat

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Pejuang Perang Kemerdekaan Palestina Di Gaza Dapat Tekanan Hebat. Meskipun sejauh ini, Kamis (2/11/2023) Israel belum sampai invasi skala penuh. Namun perluasan serangan darat Israel ke Gaza, telah  meningkatkan risiko serangan pembalasan dari Iran. Invasi militer Israel, akan menimbulkan lebih banyak kekerasan di Tepi Barat dan Israel.

Perluasan operasi militer darat Israel di Jalur Gaza, jelas telah meningkatkan risiko eskalasi regional, terutama dari Iran dan pasukan proksi-nya. Kondisi ini, sekaligus memperkuat ancaman kekerasan di Tepi Barat dan serangan sporadis di Israel.

Pada malam hari tanggal 28 Oktober, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa perang pemerintahnya melawan Hamas di Jalur Gaza telah memasuki “tahap kedua”, dan secara bersamaan menyebutnya sebagai “perang kemerdekaan kedua “Israel” dan mengatakan kepada warga Israel bahwa perang darat akan berlangsung “panjang dan sulit”.

Ini sungguh aneh, Israel sebagai penjajah yang menginvasi Palestina mengatakan perang itu sebagai perang kemerdekaan. Padahal, dunia mengetahui bahwa Palestina lah yang menjadi korban penjajahan. Dan para pejuang kemerdekaan Palestina, ingin merebut kembali kemerdekaan bagi negaranya.

Medan Pertempuran

Israel mengungkapkan, sejak saat itu, pasukan darat dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF)  telah memasuki bagian utara jalur tersebut. Pasukan itu, didukung oleh tank, artileri, dan serangan udara. Meskipun IDF belum menyatakan tentang jumlah pasukan atau lokasi persisnya, namun sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial pada 30 Oktober menunjukkan, mereka berada di pinggiran Kota Gaza, kota terbesar di wilayah itu.

Tak lama setelah pernyataan Netanyahu, akun Presiden Iran Ebrahim Raisi membagikan sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter) yang menyatakan, tindakan Israel telah “melewati batas merah”, yang dapat memaksa semua orang untuk mengambil tindakan.

Tepi Barat

Selama akhir pekan kemarin, pertempuran juga meningkat di Tepi Barat. Pertempuran hebat, semalam pada tanggal 29-30 Oktober di sekitar kota Jenin, telah menewaskan seorang pendiri kelompok pejuang kemerdekaan Palestina, dan tiga pejuang lainnya. Kepala dinas keamanan internal Israel, Shin Bet, juga dilaporkan telah memperingatkan pemerintah, bahwa peningkatan kekerasan pemukim Israel dan bentrokan IDF dengan warga Palestina telah membawa ketegangan yang sudah mendidih ke titik didih yang berbahaya.

Pada tanggal 30 Oktober, pejabat Israel mengumumkan tentang jet-jet tempur mereka kembali menyerang infrastruktur militer di Suriah dan Lebanon. Mereka mengatakan, serangan itu sebagai tanggapan atas peluncuran roket dari kedua negara tersebut. IDF telah membalas tembakan artileri dan tank di perbatasan Lebanon dan Suriah sejak dimulainya perang.

Serangan Darat

Serangan darat yang diperluas ini, terjadi setelah spekulasi selama berminggu-minggu dan di tengah-tengah tekanan AS yang terus berlanjut terhadap Israel. Tekanan itu untuk memperketat cakupan kampanye militernya dalam rangka meningkatkan peluangnya mengalahkan Hamas.

Saat yang sama, dunia telah menekan agar memungkinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, dan memberikan lebih banyak waktu untuk negosiasi pembebasan sandera. Para pejabat Israel belum membocorkan rencana mereka, tetapi sejauh ini, operasi yang sedang berlangsung di Jalur Gaza tampaknya lebih sempit cakupannya dibandingkan dengan invasi darat berskala penuh.

Dalam Negeri AS

Menurut laporan The New York Times, para petinggi militer Israel menyesuaikan rencana mereka setelah mendapat tekanan signifikan dari para pemimpin militer AS. Tekanan AS yang mendesak rekan-rekan mereka di Israel, untuk setidaknya pada awalnya melakukan serangan yang lebih terfokus mengawasi lingkungan di lapangan sebelum mengerahkan kekuatan yang lebih besar. Serangan besar itu, akan menjadi kampanye perang kota yang sulit. Kesulitan terjadi terutama mengingat luasnya jaringan terowongan bawah tanah yang digunakan oleh Hamas, dan kelompok-kelompok pejuang kemerdekaan Palestina lainnya seperti Jihad Islam Palestina (PIJ).

Pada saat yang sama, para pejabat AS terus menekan Israel untuk membatasi invasi daratnya, agar lebih banyak bantuan kemanusiaan mengalir ke wilayah yang dilanda perang tersebut. Apalagi, perhatian media global telah menyoroti penderitaan mereka yang berada di Gaza.

Di dalam negeri Amerika, Presiden AS Joe Biden menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari Partai Demokrat untuk menyerukan gencatan senjata. Amerika Serikat juga telah mendesak Israel untuk memperlambat waktu invasinya, agar memberikan lebih banyak waktu negosiasi pembebaskan 239 sandera yang saat ini diyakini ditahan Hamas. Namun, perundingan-perundingan di jalur belakang itu tampaknya telah terhenti.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!