30 C
Jakarta

Perkuat Standardisasi Teknologi Pengelolaan Sampah, Kemdiktisaintek Gandeng BSN

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Peningkatan hilirisasi riset dan inovasi perguruan tinggi melalui percepatan standardisasi nasional, sekaligus mendukung penyelesaian isu strategis nasional menjadi salah satu agenda strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Komitmen ini diperkuat saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menerima jajaran Badan Standardisasi Nasional (BSN) di Kantor Kemdiktisaintek, Kamis (26/2).

Dalam pertemuan tersebut, Mendiktisaintek menekankan bahwa standardisasi merupakan instrumen penting agar hasil riset dapat diimplementasikan dan dimanfaatkan masyarakat.

“Pada akhirnya, standardisasi harus mampu mendukung produk-produk riset kita. Kita perlu memastikan hasil riset dapat memberi dampak nyata,” tegas Menteri Brian.

Menteri Brian mendorong pembentukan program kolaboratif antara Kemdiktisaintek dan BSN untuk memfasilitasi inovator dalam penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI), khususnya bagi produk-produk baru yang belum memiliki standar. Banyak inovasi perguruan tinggi, mulai dari alat kesehatan, teknologi material maju, hingga teknologi lingkungan yang memiliki potensi besar namun menghadapi tantangan komersialisasi karena belum tersedianya standar.

“Kita bisa buat program bersama untuk para inovator. SDM dosen kita bisa menjadi bagian dari program BSN dalam penyusunan standar. Ini akan mempercepat proses dan memastikan standar berpihak pada inovasi nasional,” ujar Menteri Brian.

Langkah ini menjadi wujud konkret kebijakan Diktisaintek Berdampak, di mana riset tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi menjadi produk terstandar, dipercaya industri, dan siap masuk pasar.

Pengelolaan Sampah Jadi Sorotan Strategis

Isu pengelolaan sampah menjadi salah satu pembahasan utama. Menteri Brian menyoroti pentingnya dukungan standardisasi terhadap teknologi insinerator dan pengujian parameter lingkungan seperti dioksin dan furan.

Selama ini, pengujian parameter tertentu masih dilakukan di luar negeri dengan biaya tinggi. Menteri Brian mendorong optimalisasi laboratorium dalam negeri, termasuk pemanfaatan teknologi Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS) beresolusi tinggi, agar Indonesia mampu melakukan pengujian secara mandiri dan efisien.

Dukungan standardisasi terhadap pengelolaan sampah dinilai sangat penting agar teknologi yang dikembangkan termasuk hasil riset perguruan tinggi dapat memenuhi persyaratan regulasi dan diterapkan secara luas.

Dalam paparannya, Plt. Kepala BSN, Yustinus Kristianto Widiwardono menyampaikan bahwa saat ini terdapat 10.069 SNI aktif yang digunakan oleh dunia usaha dan industri. BSN juga telah mengakreditasi ribuan lembaga penilaian kesesuaian serta memperluas pengakuan internasional melalui berbagai skema kerja sama multilateral.

Plt. Kepala BSN menyatakan kesiapan pihaknya untuk memperkuat kolaborasi dengan Kemdiktisaintek, termasuk dalam mendukung penyusunan standar untuk teknologi pengelolaan sampah dan inovasi strategis lainnya. BSN juga menekankan pentingnya peningkatan peran akademisi sebagai konseptor standar nasional maupun internasional, sehingga keunggulan riset Indonesia dapat berkontribusi dalam pembentukan standar global.

Audiensi juga membahas peningkatan jumlah laboratorium perguruan tinggi yang terakreditasi, khususnya ISO/IEC 17025. Pemerataan laboratorium terakreditasi di berbagai wilayah, termasuk kawasan timur Indonesia, menjadi perhatian bersama.

Kemdiktisaintek membuka peluang dukungan melalui program pendanaan dan pelatihan untuk percepatan akreditasi laboratorium kampus. Dengan demikian, laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi pusat layanan pengujian bagi industri dan kebutuhan nasional, termasuk pengelolaan lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat memperkuat koordinasi teknis dan menjadwalkan pertemuan rutin guna memastikan kolaborasi berjalan efektif dan terukur. Sinergi antara Kemdiktisaintek dan BSN diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional yang terstandar, kredibel, dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi ini, kebijakan ‘Diktisaintek Berdampak’ terus diwujudkan dalam aksi nyata menghubungkan riset, standardisasi, industri, serta solusi atas tantangan nasional seperti pengelolaan sampah dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!