OXFORDSHIRE, MENARA62.COM — Menjadi Muslim taat di negara Barat tidak berarti harus bersikap kaku. Sebaliknya, hidup di tengah masyarakat yang beragam menuntut umat Islam tetap teguh memegang prinsip sekaligus mampu membangun relasi sosial yang santun dan adil.
Pesan itu disampaikan Guru Besar Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Sarjito, S.T., M.T., PhD., IPM., saat mengisi kajian dan silaturahmi bulanan Pengajian At-Taqwa Oxfordshire, Minggu (27/9/2026).
Kajian yang berlangsung di kediaman Siti dan Brian Gillet di Kennington, Oxfordshire, Inggris, tersebut mengangkat tema “Tetap Taat dan Mampu Moderat Hidup di Negara Barat.”
Prof. Sarjito yang juga Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual UMS mengajak diaspora Indonesia di Inggris melihat keberagamaan secara lebih dewasa.
Ia mengawali kajian dengan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan Muslim di negara Barat: apakah taat harus berarti kaku dan apakah moderat berarti mengurangi kadar keberagamaan?
Menurut Prof. Sarjito, keduanya tidak perlu dipertentangkan.
“Muslim tidak perlu memilih antara menjadi Muslim yang taat atau anggota masyarakat yang baik. Keduanya bisa dan semestinya dijalani sekaligus,” katanya.
Moderasi Bukan Mengurangi Keyakinan
Merujuk QS Al-Baqarah ayat 143 tentang ummatan wasathan, Prof. Sarjito menjelaskan bahwa moderasi tidak berarti mengambil posisi di tengah-tengah antara halal dan haram.
Moderasi, menurut dia, justru berarti tetap teguh pada prinsip agama tanpa berlebihan dalam sikap.
“Moderasi bukan melemahkan keyakinan. Moderasi adalah kematangan dalam menjalankan keyakinan,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan prinsip tersebut dengan QS Al-Mumtahanah ayat 8 yang mengajarkan al-birr (berbuat baik) dan al-qisth (berlaku adil) kepada masyarakat berbeda agama yang hidup berdampingan secara damai.
Sementara QS Al-Ma’idah ayat 8 mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh berubah hanya karena rasa suka atau tidak suka.
Karena itu, Prof. Sarjito mengajak jamaah menyikapi budaya Barat secara jernih. Nilai-nilai positif seperti disiplin, budaya antre, profesionalitas, dan penghargaan terhadap aturan dapat dipelajari dan diterapkan.
Di sisi lain, perbedaan yang ada perlu dipahami tanpa harus mengorbankan prinsip agama.
“Soft approach, strong principle,” kata Prof. Sarjito, menggambarkan pendekatan yang ia tawarkan: lembut dalam berinteraksi, tetapi kuat dalam memegang prinsip.
Jangan Buat Orang Menjauh dari Islam
Sejumlah hadis tentang kemudahan agama, kelembutan, serta anjuran untuk memudahkan dan tidak membuat orang menjauh juga menjadi bagian dari kajian.
Prof. Sarjito memberikan contoh sederhana dalam kehidupan masjid.
Ketika seseorang yang lama tidak hadir kembali ke masjid, menurutnya, sambutan yang tepat bukan mempertanyakan ketidakhadirannya.
“Alhamdulillah, senang bertemu,” menjadi contoh sapaan yang lebih baik daripada, “Kok baru datang?”
Menurut dia, cara berinteraksi semacam itu dapat membuat masjid menjadi ruang yang ramah sekaligus tetap menjaga nilai-nilai keislaman.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada para orang tua. Prof. Sarjito mengingatkan agar pendidikan anak tidak berhenti pada larangan.
Anak perlu diajak berpikir dan belajar menimbang setiap persoalan berdasarkan sejumlah pertanyaan: apakah sesuatu itu baik, adil, halal, bermanfaat, dan sesuai dengan prinsip agama.
Dua Pintu untuk Komunitas Muslim
Prof. Sarjito juga mendorong komunitas Muslim Indonesia di luar negeri memiliki dua orientasi yang berjalan bersamaan.
Pertama, pintu ke dalam, yakni memperkuat iman, keluarga, serta pendidikan Al-Qur’an.
Kedua, pintu ke luar, yakni menghadirkan akhlak, pelayanan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.
Dengan demikian, keberadaan komunitas Muslim tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk menjaga identitas keagamaan, tetapi juga menjadi bagian konstruktif dari masyarakat tempat mereka tinggal.
Pesan itu kemudian dirangkum Prof. Sarjito melalui perumpamaan sebuah pohon. Akar pohon adalah tauhid, batangnya takwa, cabangnya akhlak, sedangkan buahnya adalah manfaat bagi manusia.
“Teguh dalam prinsip, lembut dalam sikap,” pesannya.
Pernah Pimpin PCIM Inggris
Kehadiran Prof. Sarjito dalam forum tersebut memiliki ikatan khusus dengan komunitas Muhammadiyah di Inggris. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) United Kingdom ke-2 pada periode 2009–2011.
Kajian dimoderatori Thareq Barasabha, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford sekaligus Sekretaris Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan PCIM Britania Raya dan Irlandia.
Tuan rumah pengajian, Siti, mengaku bersyukur rumahnya dapat menjadi tempat berkumpul dan belajar bersama.
“Alhamdulillah, rumah kami bisa menjadi tempat silaturahmi dan belajar bersama. Pengajian hari ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk memohon doa jamaah bagi almarhumah tante kami yang belum lama berpulang. Semoga Allah mengampuni dan merahmatinya,” tuturnya.
Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, yang turut hadir, juga mengapresiasi kesempatan kembali belajar dari Prof. Sarjito.
Menurut dia, pengalaman Prof. Sarjito saat memimpin PCIM Inggris pada masa awal organisasi tersebut menjadi salah satu alasan kehadirannya memiliki makna tersendiri bagi komunitas.
“Pesan tentang taat dalam prinsip dan lembut dalam sikap ini penting untuk kita jaga, apalagi sebagai Muslim Indonesia yang hidup di tengah masyarakat yang beragam,” ujarnya. (*)
