SOLO, MENARA62.COM – Perencanaan program Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) tidak cukup hanya berpedoman pada kurikulum. Guru juga perlu memahami kebutuhan peserta didik, menyesuaikan strategi pembelajaran, memastikan keselamatan, serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.
Hal tersebut menjadi pokok pembahasan presentasi Kelompok 2 dalam mata kuliah Pengembangan Kurikulum Penjas Magister Pendidikan Jasmani UMS dengan dosen Dr. Pungki Indarto, yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (23/10/2026). Kelompok yang terdiri atas Dwi, Laras, Aditya, dan Furqon itu mengangkat materi bab Some Considerations for Program Planning in Health and Physical Education.
Presentasi disampaikan oleh Dwi dengan Aditya bertindak sebagai moderator. Materi membahas berbagai pertimbangan penting dalam merancang program pendidikan kesehatan dan jasmani agar lebih efektif, adaptif, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pembelajaran PJOK Harus Berpusat pada Siswa
Dalam pemaparannya, Dwi menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran PJOK sangat dipengaruhi oleh ketepatan strategi yang digunakan guru. Pembelajaran perlu dirancang dengan mempertimbangkan kemampuan, kebutuhan, minat, serta tahap perkembangan peserta didik.
Sejumlah strategi yang dibahas meliputi pembelajaran berdiferensiasi, eksplorasi partisipatif, dan rancangan pembelajaran tiga tahap, yakni mind on, action, dan consolidation.
Pendekatan tersebut menekankan pentingnya keterlibatan siswa sejak memahami konsep, mempraktikkan pengetahuan atau keterampilan, hingga melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar.
Kelompok 2 juga menyoroti pendekatan konstruktivis yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Dalam pendekatan ini, guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang membantu siswa membangun pemahaman melalui pengalaman langsung dan kolaborasi.
Pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) turut menjadi perhatian. Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan mampu menganalisis informasi, mengambil keputusan yang tepat, dan menerapkan pengetahuan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasi PJOK Tidak Hanya Mengukur Keterampilan Fisik
Pembahasan berikutnya menyoroti evaluasi program pendidikan kesehatan dan jasmani. Menurut materi yang dipresentasikan, evaluasi perlu dilakukan secara holistis dengan memperhatikan lingkungan sekolah, dukungan keluarga dan masyarakat, aktivitas fisik harian, keamanan lingkungan belajar, serta relevansi materi dengan kehidupan nyata.
Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran PJOK tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai teknik olahraga atau memperoleh nilai tinggi dalam tes kebugaran.
Kebiasaan hidup sehat, keterlibatan aktif dalam kegiatan fisik, kemampuan mengambil keputusan, dan sikap positif terhadap kesehatan juga menjadi bagian penting dari tujuan pembelajaran.
Materi tersebut menegaskan bahwa program PJOK seharusnya membantu siswa membangun kebiasaan sehat yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang, bukan sekadar memenuhi target pembelajaran di kelas.
Alokasi Waktu, Aksesibilitas, dan Keselamatan Jadi Perhatian
Kelompok 2 turut membahas pengaturan waktu pembelajaran, penyediaan fasilitas, serta aksesibilitas bagi seluruh peserta didik.
Dalam ringkasan materi, alokasi pembelajaran kesehatan disebutkan sebesar 30 persen, disertai rekomendasi aktivitas fisik harian minimal 20 menit dengan intensitas sedang hingga tinggi. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kurikulum, kebijakan yang berlaku, dan kondisi sekolah.
Aspek aksesibilitas juga menjadi perhatian melalui prinsip Universal Design for Learning (UDL). Prinsip ini mendorong penyelenggaraan pembelajaran yang dapat diakses oleh peserta didik dengan kebutuhan dan kemampuan yang beragam.
Sekolah perlu memperhatikan kondisi fasilitas, kesempatan berpartisipasi, serta pengaturan kegiatan agar tidak ada siswa yang terhambat mengikuti pembelajaran karena keterbatasan tertentu.
Selain itu, inklusivitas gender dan pengembangan kegiatan kokurikuler turut dibahas. Kegiatan intramural, kompetisi antarsekolah, serta klub rekreasi dapat menjadi sarana memperluas pengalaman siswa dalam berolahraga sekaligus memperkuat interaksi sosial.
Aspek keselamatan juga mendapat perhatian khusus. Guru dan pihak sekolah perlu memastikan fasilitas pembelajaran aman, memahami prosedur penanganan keadaan darurat medis, serta memiliki kesiapan menghadapi kondisi seperti reaksi alergi berat dan cedera kepala yang berpotensi menimbulkan gegar otak.
Lingkungan belajar yang aman secara fisik dan emosional, termasuk pencegahan perundungan dan diskriminasi, merupakan bagian penting dari penyelenggaraan program PJOK yang berkualitas.
Integrasi Lintas Mata Pelajaran Perkaya Pembelajaran
Dalam sesi berikutnya, Kelompok 2 menjelaskan pentingnya mengintegrasikan PJOK dengan mata pelajaran lain, seperti bahasa dan literasi, sains dan teknologi, serta ilmu sosial.
Integrasi tersebut memungkinkan siswa memahami kesehatan dan olahraga dari berbagai sudut pandang. Sebagai contoh, pembelajaran aktivitas fisik dapat dikaitkan dengan konsep kerja tubuh dalam sains, kemampuan membaca informasi kesehatan dalam literasi, serta hubungan olahraga dengan interaksi dan kehidupan sosial.
Pendekatan lintas disiplin ini diharapkan membuat pembelajaran PJOK lebih kontekstual. Siswa tidak hanya mempelajari keterampilan gerak, tetapi juga memahami alasan ilmiah, manfaat, dan penerapan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi Tekankan Pentingnya Adaptasi Program
Sesi tanya jawab menjadi bagian penting dalam presentasi tersebut. Peserta mendiskusikan cara menentukan strategi pembelajaran ketika kondisi sekolah dan fasilitas belum ideal, serta bagaimana menyusun program yang tetap sesuai dengan kurikulum sekaligus menjawab kebutuhan siswa.
Diskusi juga menyinggung penerapan aktivitas fisik harian di tengah padatnya jadwal sekolah dan upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman serta inklusif.
Pembahasan tersebut menggarisbawahi bahwa perencanaan program PJOK membutuhkan keseimbangan antara tuntutan kurikulum, kondisi nyata di sekolah, dan karakteristik peserta didik.
Kurikulum tetap menjadi acuan, tetapi pelaksanaannya perlu disertai penyesuaian yang terukur berdasarkan kebutuhan siswa, ketersediaan fasilitas, serta kemampuan sekolah.
Melalui presentasi ini, Kelompok 2 menegaskan bahwa program pendidikan kesehatan dan jasmani yang efektif harus dirancang secara sistematis, berpusat pada peserta didik, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan.
Perencanaan yang matang diharapkan dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran PJOK yang tidak hanya meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga membentuk pola pikir, sikap, dan kebiasaan hidup sehat yang bermanfaat sepanjang hayat. (*)

