SOLO, MENARA62.COM – SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, turut menyemarakkan Bulan Guru Nasional 2026 dengan menggelorakan kampanye Bangga Menjadi Guru. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat penghargaan terhadap profesi guru sekaligus mendorong lahirnya pendidik yang kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Sayekti, menyampaikan hal tersebut dalam agenda bertajuk Peran Satuan Pendidikan dalam Kampanye Bulan Guru Nasional di ruang siaran Radio Solo Belajar, Selasa (3/11/2026).
Menurut Sayekti, Bulan Guru Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan gerakan bersama untuk membangun kebanggaan terhadap profesi guru, memperluas ruang berbagi praktik baik, serta memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan pendidikan.
“Guru hebat, Indonesia kuat,” tegasnya.
Ia berharap, semangat Bulan Guru Nasional mampu memotivasi semakin banyak guru untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
Salah satu agenda yang digelar adalah talk show bertema Peran Strategis Guru Menuju Indonesia Emas 2045. Kegiatan tersebut juga mengangkat nilai-nilai yang melandasi peringatan Bulan Guru Nasional dengan menghadirkan dalang muda Muhammadiyah yang sarat prestasi, Ki Agung Sudarwanto.
Ki Agung Sudarwanto, Dalang yang Mulai Berkarya Sejak SD
Dalam kesempatan tersebut, Agung Sudarwanto membagikan perjalanan panjangnya menekuni dunia pedalangan. Pria kelahiran Desa Kauman, Nganjuk, Jawa Timur, 4 Agustus 1979, itu mengaku mulai belajar mendalang sejak duduk di kelas V sekolah dasar pada 1990.
Pengalaman awal yang tidak terlupakan baginya adalah ketika mendapat kesempatan tampil dalam rangkaian peringatan Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) di Pendapa Kabupaten Nganjuk.
Saat itu, dalam pentas keliling Jawa Pos pada 2 Agustus 1990, Agung dipercaya menjadi pengisi fragmen pembuka sebelum pertunjukan utama yang menampilkan dalang senior Ki Manteb Soedharsono.
“Dalam pentas keliling Jawa Pos itu, saya sebatas ‘mucuki’ Ki Manteb Soedharsono tanggal 2 Agustus 1990,” kenangnya.
Ia menjelaskan, istilah mucuki dalam tradisi pedalangan merujuk pada pertunjukan ekstra berupa fragmen yang ditampilkan sebelum pergelaran wayang kulit utama dimulai.
Biasanya, tugas tersebut diberikan kepada anak dalang atau cantrik (murid dalang). Namun, Agung mengaku dirinya bukan berasal dari keluarga dalang. Kepercayaan yang diberikan kepadanya saat itu menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan kesenimanannya.
Agung merupakan alumnus Program Studi Pengkajian Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tahun 2009.
Bahasa Jawa Jadi Benteng Karakter Generasi Muda
Selain berbagi pengalaman perjalanan berkesenian, Agung juga menyoroti pentingnya menjaga bahasa dan budaya daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.
Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menguasai teknologi dan bahasa asing. Mereka juga perlu memiliki kecintaan terhadap bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Salah satu yang perlu terus dilestarikan adalah bahasa Jawa. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa Jawa mengandung nilai-nilai luhur, seperti unggah-ungguh, tata krama, dan sikap saling menghormati.
Melalui pembelajaran bahasa Jawa, anak-anak dapat mengenal penggunaan bahasa ngoko dan krama sesuai dengan konteks pergaulan. Pembiasaan tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter, terutama dalam membangun sikap hormat kepada orang tua, guru, dan sesama.
“Bocah-bocah jaman saiki pancen kudu mumpuni lan nresnani basa Jawa. Aja nganti amarga kepengin diarani modern, banjur lali marang basa lan budaya dhewe,” ungkapnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kemajuan zaman tidak harus membuat generasi muda meninggalkan akar budayanya.
Melalui kegiatan Bulan Guru Nasional 2026, SD Muhammadiyah 1 Solo berupaya menghadirkan ruang inspirasi bagi para pendidik sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan juga memiliki tanggung jawab menanamkan karakter, merawat nilai-nilai budaya, serta membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan jati diri bangsa. (*)


