YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Finalis ISTIC (International Sustainable Textile Innovation Competition) 2026 mendapat short course untuk memperluas wawasan mengenai tekstil berkelanjutan. ISTIC merupakan kompetisi antar mahasiswa yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Rekayasa Tekstil, Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII).
Babak akhir, para finalis diundang ke Kampus FTI UII untuk mempresentasikan karyanya, Kamis – Sabtu (15-17/10/2026). Para juri memilih karya-karya yang menempati peringkat atas hingga bawah serta memberikan penghargaan. Apresiasi ini merupakan bentuk pengakuan terhadap kreativitas, kemampuan, serta gagasan inovatif peserta dalam menjawab tantangan pengembangan tekstil berkelanjutan.
Selain itu, Prodi Rekayasa Tekstil UII juga memberikan short course kepada finalis untuk memperluas wawasan mengenai tekstil berkelanjutan. Dalam short course finalis diajak untuk memahami perkembangan, tantangan, serta peluang inovasi dalam industri tekstil yang semakin menuntut penerapan prinsip keberlanjutan.
Prof Dr Ir Agus Mansur, ST, M Eng Sc, IPU, ASEAN Eng, Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII mengatakan keberhasilan mengikuti kompetisi tidak hanya diukur dari penghargaan yang diperoleh. Tetapi ISTIC 2026 juga memberikan pengalaman dan menjadi sarana peserta untuk menjalin hubungan baik di antara mereka.
“Winning is important, but experience and making friends are even more valuable (Juara itu penting, tetapi mendapatkan pengalaman dan menjalin pertemanan itu lebih berharga),” kata Agus Mansur.
Sementara Dr Eng Rina Afiani Rebia, S Hut, M Eng, Ketua Program Studi Rekayasa Tekstil UII mengatakan kompetisi ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan gagasan dan inovasi di bidang tekstil berkelanjutan. Pengembangan produk tekstil perlu mempertimbangkan aspek lingkungan sekaligus nilai tambah ekonomi dan sosial.
Rina Afiani Rebia menjelaskan ISTIC 2026 memperlihatkan pendekatan pendidikan yang menghubungkan kompetisi, pengayaan pengetahuan, dan pengalaman lapangan. Peserta tidak hanya ditantang menghasilkan gagasan, tetapi juga diajak memahami konteks penerapan inovasi dalam kehidupan masyarakat dan perkembangan industri.
“Melalui kegiatan ini, Program Studi Rekayasa Tekstil FTI UII memperkuat perannya dalam mendorong pengembangan ilmu dan teknologi tekstil yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. Hal tersebut sejalan dengan visi program studi untuk mengembangkan material tekstil yang berkelanjutan, fungsional, dan berbasis teknologi modern,” kata Rina Afiani.
Rina Afiani berharap ISTIC 2026 dapat menjadi ruang kolaborasi bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk melahirkan gagasan baru. “Upaya tersebut sekaligus memperkuat kesadaran bahwa masa depan industri tekstil membutuhkan inovasi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat,” kata Rina.
Berikut para pemenang kompetisi ISTIC 2026. Tempat Pertama diraih Farah Naz dan Aisha Azamat, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia asal Negara Pakistan dan Kazakhstan. Mereka mengangkat judul ‘Closing the Loop: A Circular Sourcing and Quality-Assurance System for Agricultural-Waste Natural Dyes in Indonesia’s Small Batik and Textile Dye Houses.’
Kedua, Salsabillah dan Raffen Andy Rayfaldy, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia. Mereka mengangkat judul ‘Bio-PEF: A Fiber-Embedded, Coconut-Oil-Based Phase-Change Fabric for Heat-Resilient Workwear Among Indonesia’s Informal Outdoor Workers.’
Ketiga, Latifah Nur Oktaviani dan Nasywa Jiilan Sobari, Mahasiswa UII. Mereka mengangkat judul ‘Rethinking Thrifting: A Life Cycle Assessment-Based Environmental Management Framework for Reducing the Carbon Footprint of Second-Hand Textiles.’
Keempat, Zikrullah Faizan – Albukhary, Mahasiswa International University Malaysia. Zikrullah Faizan – Albukhary mengangkat judul ‘From Waste to Resource: Machine Learning for Automated Textile Fiber Sorting.’
Kelima, Naomi Kaylavoundra dan Khalisha Hanin Margian. Mereka mengangkat judul ‘Engineering Sustainable Textile Effluent Treatment: Spent Tea-Derived NiO/g-C3N4 Electro-Photocatalyst for Zero-Sludge Batik Dyeing Remediation.’
Keenam, Aini Silvia Astha dan Lailatul Safitri, Mahasiswa Universitas Diponegoro. Mereka mengangkat judul ‘Batikool: Turning Batik Wax Waste into a Cooling, Circular Textile Coating.’ (*)

