SOLO, MENARA62.COM – Dalam menjalani kehidupan yang fana, menyiapkan generasi penerus merupakan unsur fundamental dalam kehidupan berkeluarga. Kebersamaan dalam kehidupan berkeluarga yang singkat seringkali tidak disadari oleh manusia.
Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) https://www.ums.ac.id/id/fakultas/agama-islam Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) menawarkan pendekatan tafsir surat Ath-Thur ayat 21 sebagai metode menyambut kehidupan berkeluarga yang kekal.
Menurut Hakimuddin, kehidupan yang kekal hanya ada di akhirat. Untuk menyambut kehidupan yang abadi, keimanan secara kolektif harus melekat pada anggota keluarga untuk menyambut kehidupan yang kekal kelak.
“Kebersamaan yang singkat di dunia, harus dipersiapkan kembali untuk menyambut pertemuan kedua yang abadi, yaitu di surga kelak. Dengan menjaga dan meningkatkan kadar keimanan pada keluarga”, jelasnya, Jumat (10/4).
Ia memberikan tujuh poin tadabur melalui tafsiran surat Ath-Thur ayat 21. Pertama, keimanan yang melekat pada anggota keluarga, baik dari ayah, ibu, atau anak. Jika salah satu di antaranya tidak memiliki keimanan kepada Allah SWT, maka tidak akan dapat berjumpa kembali di akhirat kelak.
Kedua, menurut Ibnu Jarir dalam tafsir Ath-Thabari yang menukil pendapat Ibnu Abbas Ra, bahwa keturunan orang Mukmin akan dipertemukan dengan orang tuanya kembali di surga, melalui perantara kualitas keimanan orang tuanya.
Hakimuddin menambahkan bahwa di zaman disrupsi ini, banyak faktor yang mempengaruhi keimanan seorang anak, yang berdampak pada ketekunan dalam menyembah Allah SWT.
“Di zaman saat ini, kehidupan anak-anak sekarang mempengaruhi kadar keimanannya”, tambahnya.
Ketiga, Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskankan bahwa kata Dzuriyyah mencakup dua macam jenis keturunan. Ash-Shighor atau anak kecil belum baligh, mereka akan dipertemukan dengan orang tuanya di surga tanpa dasar keimanan. Kemudian Al-Kibar atau keturunan dewasa, mereka akan dipertemukan dengan dasar keimanan.
“Pentingnya keimanan dalam menjalankan kehidupan berkeluarga, dapat menentukan nasib keluarga di dunia yang abadi nantinya,” terang Hakimuddin.
Keempat, untuk menembus kenikmatan hidup di akhirat, dapat melalui perantara syafaat orang tua kepada anak. Tidak hanya dari anak kepada orang tua saja, seperti yang familiar di kalangan masyarakat, bahwa keutamaan anak hafidz Al-Qur’an dapat memberi syafaat.
Selanjutnya, poin kelima, pertemuan seorang anak yang kualitas amalannya lebih rendah dari pada orang tuanya merupakan bentuk kemurahan Allah SWT. Syekh Abdurrahman As-Sa’di menyebut dengan istilah “Tamam na’imi ahli Jannah” (Sempurnanya kenikmatan yang diberikan kepada penghuni surga).
Keenam, konsistensi mendidik diri sendiri (orang tua) dan keluarga tanpa pamrih hingga ajal menjemput untuk menyiapkan pertemuan di dunia yang kekal. “Kita sebagai orang tua harus melangkah lebih jauh dalam menyiapkan kehidupan yang abadi bersama anak-anak,” terangnya.
Peran orang tua dalam menyiapkan sebuah keluarga pernah terjadi pada Nabi Ya’qub AS. Ia pernah meminta untuk diperpanjang umurnya untuk memastikan persembahan apa yang akan dilakukan anaknya setelah sepeninggalannya. Keimanan menjadi sorotan utama dalam kehidupan berkeluarga.
Terakhir, poin ketujuh, menumbuhkan kebiasaan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di dalam keluarga untuk menjaga spirit keimanan dan kesalehan dalam kehidupan rumah tangga. Hakimuddin menekankan kebiasaan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar ditanamkan lebih kepada lingkungan yang lebih dekat, yaitu keluarga.
“Sebelum kita mengagungkan kehidupan amar ma’ruf nahi munkar di khalayak luas, seyogyanya kita kuatkan kehidupan amar ma’ruf nahi munkar di rumah tangga kita,” tutupnya. (*)

