Oleh: Daryono
TEGAL, MENARA62.COM – Menjelang Ramadhan 1447 H, Februari 2026, hati kita diguncang kabar memilukan dari luar Jawa. Seorang anak mengakhiri hidupnya demi mengurangi beban keluarga yang hanya mampu makan sekali sehari. Tindakan itu jelas tidak dibenarkan dalam Islam, namun kegelisahan yang tertinggal begitu dalam. Di negeri yang kaya raya, mengapa masih ada yang merasa hidupnya terlalu berat hanya karena lapar?
Indonesia dikenal sebagai negeri dengan sumber daya alam melimpah. Dari tambang hingga laut, dari hutan hingga sawah, semuanya tersedia. Namun ironi itu terasa tajam ketika ada warga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar. Kekayaan ternyata belum tentu sejalan dengan keadilan.
Belum hilang duka itu, muncul kabar lain dari Jakarta. Seorang anak kecil membantu ibunya berjualan tisu demi membeli satu kilogram beras. Ia terlindas truk pembawa barang di jalanan ibu kota yang sibuk dan tanpa ampun.
Tangis sang ibu pecah memeluk tubuh kecil yang telah lemas. Pemandangan itu seperti menampar nurani kita bersama. Di tengah gedung tinggi dan gemerlap kota, ada perjuangan hidup yang luput dari perhatian.
Di mana kebijakan yang seharusnya melindungi yang lemah? Di mana kehadiran negara dan kepedulian sosial kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, menuntut jawaban bukan sekadar wacana.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum empati dan solidaritas. Bulan suci bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga kepedulian sosial. Lapar yang kita rasakan saat berpuasa seharusnya mengingatkan bahwa ada yang lapar sepanjang tahun.
Kegelisahan ini juga mengarah pada keluarga sebagai sekolah pertama anak. Sudahkah orangtua menanamkan nilai tanggung jawab dan kepedulian sejak dini? Ataukah anak tumbuh dalam kenyamanan tanpa pernah diajak memahami arti berbagi?
Sekolah pun memegang peranan penting. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi penanam karakter. Kepedulian terhadap teman yang tidak pernah jajan atau kesulitan ekonomi seharusnya menjadi ruang pendidikan empati.
Kita sering melihat hal kecil yang diabaikan: kipas dan AC menyala tanpa kontrol, sepatu berserakan, tempat tidur berantakan, piring kotor diserahkan sepenuhnya pada pembantu. Anak-anak tumbuh tanpa dilatih tanggung jawab terhadap hal sederhana. Jika hal kecil saja tak dipedulikan, bagaimana dengan penderitaan sesama?
Maka di bulan Ramadhan ini, mungkin yang perlu kita benahi bukan hanya jadwal ibadah, tetapi nurani dan sistem kepedulian kita. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara harus kembali pada perannya. Agar tak ada lagi anak yang merasa dirinya beban, dan tak ada lagi tangis ibu yang kehilangan harapan di jalanan negeri sendiri.
______
Februari 25, 2026
Adiwerna-Tegal

