SOLO, MENARA62.COM – Masalah nyata yang dihadapi industri dibawa ke meja inovasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Melalui UMS Health Innovation Hackathon 2026, kampus tersebut mempertemukan akademisi, programmer, peneliti, dan tiga mitra strategis untuk merancang solusi yang dapat langsung diterapkan di dunia industri.
Langkah awal program tersebut ditandai dengan pertemuan strategis antara Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS dengan para mitra di Ruang Rapat DRPPS UMS, Rabu (30/9/2026).
Tiga mitra yang terlibat yakni RS AR Fachruddin UMS, CV Arbain, dan PT LKPI. Pertemuan tidak hanya menjadi ajang pengenalan konsep hackathon, tetapi juga forum untuk menggali persoalan prioritas yang benar-benar dihadapi mitra di lapangan.
Ketua Tim Taskforce Hackathon UMS, Prof. Dr. Suranto, M.M., S.T., mengatakan program tersebut dirancang untuk mempertemukan kepakaran akademik dan teknologi dengan kebutuhan konkret industri.
“Program Hackathon UMS ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan teknologi, melainkan sebuah jembatan nyata yang mempertemukan kepakaran dunia akademisi dan programmer dengan realitas masalah di industri,” kata Suranto.
Ia mengatakan, melalui tema kesehatan, UMS menargetkan lahirnya inovasi yang tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi mampu menjadi solusi aplikatif bagi persoalan spesifik para mitra.
Dari AI hingga Sistem Pelayanan Pasien
Dalam sesi dengar pendapat, masing-masing mitra memaparkan kebutuhan dan persoalan yang tengah dihadapi. Isu yang dibahas cukup beragam, mulai dari kebutuhan otomatisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), pengembangan sistem customer relationship management (CRM), penyempurnaan formulasi bahan, hingga pengembangan sistem pelayanan pasien.
Persoalan tersebut selanjutnya akan menjadi bahan bagi peserta hackathon untuk mengembangkan solusi melalui kolaborasi lintas keahlian.
Konsep ini membuat hackathon UMS tidak sekadar berorientasi pada kompetisi teknologi. Peserta justru ditantang memahami persoalan mitra, mengolah kebutuhan tersebut menjadi gagasan, kemudian mengembangkan solusi yang memiliki potensi untuk diterapkan.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Tim Taskforce Prof. Dr. Suranto, M.M., S.T., Deputi Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi DRPPS UMS Prof. Dr. Muhtadi, S.Pd., M.Si., serta Kasubdit Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi Agus Triyono, M.Si. Kegiatan dipandu langsung oleh Agus Triyono.
UMS Dorong Solusi Tak Berhenti di Prototipe
Deputi Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi DRPPS UMS, Prof. Dr. Muhtadi, S.Pd., M.Si., menekankan bahwa tantangan berikutnya bukan hanya menghasilkan inovasi, tetapi memastikan inovasi tersebut dapat masuk ke tahap hilirisasi.
Menurut dia, keterlibatan tiga mitra strategis menjadi fondasi terbentuknya jejaring kolaborasi yang dapat dikembangkan setelah program hackathon selesai.
“Tujuannya agar solusi yang diciptakan inovator tidak hanya berhenti pada prototipe, tetapi bisa terhilirisasi secara komersial dan memberikan dampak luas,” ujar Muhtadi.
Untuk mendukung proses tersebut, UMS berencana membentuk tim marketing khusus yang akan membantu mendorong solusi hasil hackathon menuju tahap hilirisasi dan pemanfaatan yang lebih luas.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari lahirnya prototipe atau karya teknologi, tetapi juga dari sejauh mana solusi tersebut mampu menjawab kebutuhan mitra.
Bagian dari Hibah Kemdiktisaintek
Pertemuan dengan mitra menjadi tahap awal rangkaian UMS Health Innovation Hackathon 2026. Program tersebut merupakan bagian dari implementasi hibah yang diperoleh UMS dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Setelah berdialog dengan tiga mitra, DRPPS UMS melanjutkan kegiatan dengan rapat bersama Tim Taskforce dan Tim Pelaksana. Rapat tersebut membahas strategi dan tata laksana penyelenggaraan hackathon.
Melalui skema tersebut, UMS berupaya memperkuat pola kolaborasi kampus dan industri. Persoalan yang muncul di lapangan tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi diterjemahkan menjadi tantangan inovasi yang dapat dikerjakan bersama oleh akademisi, peneliti, dan talenta teknologi.
Program ini sekaligus menegaskan arah hilirisasi riset UMS: menghubungkan pengetahuan dan teknologi dari kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat serta dunia industri. (*)
