27.4 C
Jakarta

Milad ke-61 KOKAM, Saatnya Perkuat Kesiapsiagaan Intelektual

Baca Juga:

Oleh: Komandan Daerah Sukoharjo

SUKOHARJO, MENARA62.COM – Enam dekade lebih satu tahun perjalanan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) bukan sekadar catatan panjang sebuah organisasi. Memasuki usia ke-61 pada 2026, KOKAM menghadapi tantangan yang semakin kompleks, ketika ancaman terhadap persatuan bangsa tidak selalu hadir dalam bentuk konflik fisik.

 

Polarisasi di media sosial, hoaks, fanatisme kelompok, hingga rendahnya literasi publik menjadi tantangan baru yang berpotensi mengoyak persatuan.

 

Karena itu, KOKAM dinilai perlu memperluas makna kesiapsiagaan. Tidak cukup hanya siap secara fisik dan tanggap dalam situasi kebencanaan, tetapi juga harus siap secara intelektual untuk menjaga nalar sehat masyarakat.

 

“KOKAM harus mengambil peran strategis sebagai agen pendidikan publik,” demikian refleksi Komandan Daerah KOKAM Sukoharjo dalam momentum Milad ke-61 KOKAM.

 

Menurutnya, persatuan yang kokoh tidak lahir dari keseragaman yang dipaksakan. Persatuan justru tumbuh dari kemampuan masyarakat menerima perbedaan, menghormati keberagaman, serta membangun kehidupan bersama dengan nalar yang sehat.

 

Dalam konteks tersebut, pendidikan menjadi fondasi penting. Kebodohan, fanatisme buta, dan kedangkalan berpikir dinilai dapat menjadi pintu masuk berbagai persoalan sosial, termasuk polarisasi dan gesekan horizontal.

 

Dari Kesiapsiagaan Fisik ke Intelektual

 

Sejak lahir pada 1965, KOKAM telah melewati berbagai fase sejarah Indonesia. Namun, perubahan zaman membuat bentuk tantangan yang dihadapi organisasi tersebut ikut berubah.

 

Jika dahulu kesiapsiagaan lebih banyak dipahami dalam konteks ancaman fisik, kini medan perjuangan bergeser ke ruang sosial dan digital.

 

Seragam loreng dan barisan KOKAM, karena itu, tidak semestinya hanya dimaknai sebagai simbol ketangguhan fisik. Simbol tersebut perlu diterjemahkan sebagai kesiapan untuk terlibat dalam “jihad peradaban” melalui pendidikan, kemanusiaan, kebencanaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

 

“Kesiapsiagaan peradaban berarti kesiapan menjaga agar tenun kebangsaan Indonesia tidak terkoyak oleh kedangkalan berpikir,” tulisnya.

 

KOKAM dituntut menjadi bagian dari upaya membangun literasi digital yang menyejukkan, melawan penyebaran informasi menyesatkan, serta mendorong masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah.

 

Islam Berkemajuan sebagai Narasi Persatuan

 

Sebagai bagian dari gerakan kepemudaan Muhammadiyah, KOKAM juga memiliki ruang untuk menerjemahkan nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan kebangsaan.

 

Islam Berkemajuan dalam refleksi tersebut diposisikan sebagai spirit untuk menghadapi masa depan dengan optimisme, rasionalitas, keterbukaan, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

 

Persatuan kemudian tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui pelayanan kepada masyarakat.

 

Trilogi pelayanan KOKAM, yakni kemanusiaan, kebencanaan, dan ekologi, menjadi ruang konkret untuk menghadirkan nilai tersebut.

 

Dalam kerja kemanusiaan, misalnya, bantuan diberikan tanpa membedakan suku, agama, maupun pilihan politik penerima. Prinsip yang sama berlaku dalam penanganan bencana maupun kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan.

 

Di bidang ekologi, kepedulian terhadap lingkungan juga dipandang sebagai bagian dari upaya merawat persatuan. Kerusakan lingkungan pada akhirnya dapat mengancam ruang hidup bersama tanpa mengenal batas identitas kelompok.

 

Menjaga Tenun Kebangsaan

 

Memasuki usia ke-61, KOKAM diharapkan tidak terjebak pada pemaknaan sebagai organisasi yang hanya identik dengan ketegasan dan kesiapan fisik.

 

Tantangan zaman membutuhkan anggota yang tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan membaca perubahan sosial.

 

KOKAM perlu hadir sebagai penjaga nalar publik sekaligus pelopor literasi digital yang mampu meredam polarisasi.

 

Momentum Milad ke-61 pun menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen KOKAM sebagai titik temu di tengah keberagaman Indonesia.

 

Dengan berpegang pada khittah Muhammadiyah, KOKAM diharapkan terus mengambil peran dalam merawat persatuan dan membangun peradaban bangsa yang berkemajuan.

 

Sebab, peradaban yang kuat tidak hanya dibangun melalui infrastruktur dan kekuatan fisik, tetapi juga melalui pendidikan, etika publik, kemanusiaan, serta kemampuan masyarakat hidup berdampingan dalam keberagaman.

 

Selamat Milad ke-61 KOKAM. Tegap menjaga semesta, ikhlas mengabdi untuk peradaban bangsa.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!