SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026-2030 dengan menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia, Prof. Dr. Arif Satria, S.P, M.Si., di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Ahad (1/3).
Kegiatan ini menjadi momentum penguatan sinergi riset antara UMS dan BRIN, sekaligus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian berbasis roadmap nasional.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN serta jajaran pimpinan PTMA yang hadir dalam forum tersebut, di antaranya Rektor UMPKU beserta tim riset kolaborasi, Rektor UMMAT dan tim kolaborasi riset, Rektor UMUKA dan tim riset kolaborasi, Rektor UNISA Solo beserta tim, serta Rektor UMKLA bersama tim kolaborasi riset.
Ia mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri pertemuan ilmiah tersebut sebagai bagian dari “Tadarus Riset”, istilah yang menggambarkan semangat kolektif membangun budaya riset yang berkelanjutan.
“Pertemuan ini adalah kelanjutan dari audiensi kami bersama Diktilitbang PP Muhammadiyah di kantor BRIN pada 5 Januari lalu, membahas pentingnya sinergi BRIN dengan PTMA di Indonesia,” ujarnya.
Rektor UMS menjelaskan bahwa sejak awal berdiri, UMS telah memprioritaskan pengembangan riset. Pada 1995, UMS menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang berhasil memperoleh dana riset APBN melalui skema riset dosen pemula.
Tak hanya itu, UMS juga tercatat sebagai PTS yang berhasil memperoleh alokasi beasiswa APBN. Terbaru, UMS menjadi motor program RISPRO-LPDP berkemajuan dengan dana Rp10 miliar dan tahun akan ditambah Rp10 miliar lagi dengan total pendanaan Rp20 miliar.
“Dalam program tersebut, UMS memenangi enam judul riset. Jadi memang UMS ini meritokrasi risetnya sudah jalan. Dari BRIN sendiri saat ini UMS memperoleh lima judul. Kami berharap tahun depan bisa meningkat hingga dua kali lipat,” tegasnya.
Ia juga mendorong pembentukan riset unggulan yang berfokus pada pengurangan impor dan penguatan kebutuhan pokok nasional seperti pangan, energi, dan industri farmasi.
Wakil Rektor V Bidang Riset, Inovasi, Reputasi, dan Kemitraan UMS, Prof. Ir. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa UMS mengelola riset berdasarkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT).
UMS memiliki tiga klaster pengelolaan riset yaitu TKT 1–3 (riset dasar), TKT 4–6 (pengembangan), dan TKT 7–9 (hilirisasi dan komersialisasi).
Ia menyebutkan sejumlah produk UMS telah mencapai TKT 7–9 dan berbasis pasar, seperti produk farmasi dan kesehatan, serta aplikasi komunikasi untuk biro umrah yang telah digunakan oleh beberapa lembaga dan menghasilkan pendapatan universitas.
“Saat ini terdapat sekitar 30 riset di level TKT 4–6, dan 10 di antaranya sudah mendekati tahap hilirisasi. Kami akan memperkuat inkubasi dan kolaborasi agar semakin banyak produk riset yang berdampak,” jelasnya.
Dalam paparannya, Kepala BRIN RI, Arif Satria, menegaskan pentingnya roadmap riset nasional sebagai acuan bagi dosen dan mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, dan disertasi.
“Riset harus berdampak. Harus menjadi jawaban atas persoalan masyarakat dan industri. Karena kemajuan bangsa ditentukan oleh inovasi dan jumlah peneliti yang terlibat,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas langkah UMS dalam membangun identitas sebagai research university berbasis swasta yang progresif.
“Saya bangga dengan komitmen UMS dalam membangun ekosistem riset. Semoga semakin maju, semakin sukses, dan semakin banyak karya yang dihilirkan,” tuturnya. (*)


