30 C
Jakarta

UMS Kian Go Global, ‘Aisyiyah Tekankan Dampak Nyata

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menunjukkan perannya sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) unggulan di Indonesia yang kian berkembang menuju level global. Hal tersebut disampaikan dalam momentum Halal Bihalal UMS yang digelar di Gedung Ahmad Syafii Maarif Lantai 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, Sabtu (28/3).

 

Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2022–2027, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes, menilai UMS telah menjadi kampus besar dengan capaian yang membanggakan, baik dari sisi jumlah mahasiswa maupun pengembangan infrastruktur.

 

“UMS ini sudah menjadi salah satu PTMA terbesar di Indonesia. Tidak hanya bermain di level lokal dan nasional, tetapi juga mulai menuju global. Ini tentu menjadi capaian luar biasa dan semoga semakin memberikan keberkahan serta menjadi universitas yang impactful bagi masyarakat,” ungkapnya.

 

Ia berharap, dengan visi mendunia, UMS dapat terus memperluas kontribusi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

 

Kegiatan Halal Bihalal ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus saling memaafkan antar civitas academica pasca Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

 

Ketua Panitia Halal Bihalal UMS, Prof. dr. Dr. Em Sutrisna, M.Kes, dalam sambutannya menekankan bahwa ibadah puasa Ramadan tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga harus diiringi dengan perbaikan hubungan antarsesama (hablum minannas).

 

“Mudah-mudahan ibadah puasa kita diterima Allah dan dihapuskan dosa-dosa kita. Namun dalam konteks hubungan antarmanusia, acara ini menjadi sarana agar kita bisa saling memaafkan,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, kegiatan ini secara khusus menghadirkan dosen, baik yang masih aktif maupun yang telah purna tugas, sebagai bentuk penghormatan kepada para founding fathers UMS.

 

“Kesuksesan UMS hari ini tidak lepas dari kerja keras para pendahulu. Maka melalui kegiatan ini kita lakukan bakti dan silaturahim agar ada keberlanjutan,” ungkapnya.

 

Em Sutrisna juga mengingatkan pentingnya kelapangan hati dalam memberi dan meminta maaf. Menurutnya, setelah momentum Idulfitri, seluruh civitas academica diharapkan dapat kembali bekerja dengan hati bersih, penuh semangat, serta menghadirkan inovasi baru.

 

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar Halal Bihalal oleh Sekretaris Universitas, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D. Dalam ikrar tersebut, seluruh perwakilan civitas academica UMS menyampaikan permohonan maaf atas segala khilaf, baik yang disengaja maupun tidak, serta berkomitmen untuk meningkatkan kinerja dan kebersamaan demi kemajuan UMS.

 

“Semoga kita kembali fitrah dan mampu menggapai derajat insan bertakwa, yang memiliki karakter gemar bersedekah, mampu menahan amarah, serta mudah memberi maaf,” tuturnya.

 

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum, dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin untuk mensyukuri kesempatan bersilaturahim. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas nama pimpinan universitas.

 

“Yang terpenting bukan hanya meminta dan memberi maaf, tetapi juga bagaimana kita menjaga lisan dan sikap. Perkataan yang baik dan memaafkan itu lebih utama,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Harun memaparkan perkembangan UMS yang saat ini memiliki 82 program studi dan akan bertambah menjadi 85 dengan rencana pembukaan dua program doktoral baru. Ia juga menyebutkan kekuatan sumber daya manusia UMS yang terdiri dari ratusan dosen dan tenaga kependidikan sebagai modal utama untuk terus memajukan institusi.

 

Tak hanya itu, ia mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar mahasiswa baru UMS telah mencapai lebih dari 10.000 orang, dengan ribuan di antaranya telah melakukan registrasi. “Ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika UMS,” ujarnya.

 

Sebagai penutup, Rektor menyampaikan pantun yang mengajak seluruh hadirin untuk terus menjaga kebersamaan dan semangat membangun UMS demi kemajuan bangsa.

 

Dalam tausyiyahnya, Salmah juga menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum peningkatan kualitas diri dan kepemimpinan, termasuk dalam konteks kepemimpinan perempuan.

 

“Tujuan utama puasa adalah menjadikan kita bertakwa. Setelah Ramadan, kita harus naik kelas menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau tidak ada perubahan, maka kita termasuk orang yang merugi,” jelasnya.

 

Ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan keikhlasan, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga amanah.

 

“Kalau amanah terjaga, maka kepercayaan akan datang. Pemimpin harus mampu menghadirkan dampak, tidak hanya di internal organisasi, tetapi juga bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!