KARANGANYAR, MENARA62.COM – Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggandeng komunitas pendaki dan sukarelawan konservasi untuk memperkuat keselamatan pendakian di Gunung Lawu.
Kolaborasi bersama Divisi Lingkungan Hidup Gopala Valentara itu diwujudkan melalui pelatihan pemanfaatan tanaman obat sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko bagi komunitas pendaki.
Kepala Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme UNS Surakarta, Dr. Anang Setiyawan, SH, MH, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam membangun budaya pendakian yang aman, tangguh, sekaligus berwawasan lingkungan.
“Pemanfaatan tanaman obat menjadi salah satu bentuk mitigasi awal yang dapat melengkapi keterampilan dasar keselamatan pendakian,” ujar Anang.
Pelatihan digelar dalam dua sesi yang memadukan pembelajaran teori dengan praktik lapangan. Sesi pertama berlangsung pada 4 September 2026 dan diikuti 26 peserta dari komunitas pendaki, organisasi pecinta alam, serta sukarelawan konservasi lingkungan.
Peserta mendapatkan materi mengenai jenis-jenis tanaman obat yang tumbuh di kawasan Gunung Lawu. Mereka juga dikenalkan dengan manfaat tanaman tersebut sebagai pertolongan awal dalam kondisi tertentu, prinsip pemanfaatan secara bertanggung jawab, serta pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pegunungan.
Sementara sesi kedua berlangsung pada 5-6 September 2026 melalui praktik lapangan di jalur pendakian Gunung Lawu via Babar, Desa Agrasmanis, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Dalam praktik tersebut, peserta diajak mengidentifikasi tanaman obat langsung di habitat alaminya. Mereka juga mempelajari karakteristik morfologi tanaman serta teknik pemanfaatan sederhana yang dapat diterapkan dalam situasi kedaruratan selama pendakian.
Meski demikian, pemanfaatan tanaman obat ditekankan tidak boleh mengabaikan prinsip konservasi.
“Pemanfaatan tanaman obat diarahkan untuk dilakukan secara bijaksana, terbatas, dan tidak merusak populasi alami sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga,” kata Anang.
Hadapi Risiko Pendakian
Pelatihan tersebut dilatarbelakangi meningkatnya aktivitas pendakian gunung dalam beberapa tahun terakhir. Di balik tingginya minat masyarakat, terdapat sejumlah risiko yang dapat dihadapi pendaki, mulai dari kelelahan, cedera ringan, hipotermia, hingga terbatasnya akses terhadap bantuan medis di kawasan pegunungan.
Dalam situasi tertentu, pengetahuan mengenai potensi tanaman obat lokal dapat menjadi pengetahuan pendukung dalam menghadapi kondisi darurat sebelum mendapatkan pertolongan medis.
Namun, pelatihan ini tidak semata-mata berfokus pada pemanfaatan tanaman obat. Peserta juga diarahkan memahami keterkaitan antara keselamatan pendaki dan keberlanjutan ekosistem.
Dengan pendekatan tersebut, aspek etnobotani dan konservasi keanekaragaman hayati ditempatkan sebagai bagian dari mitigasi risiko berbasis ekosistem.
Anang mengatakan kegiatan itu juga memperlihatkan bahwa penguatan ketahanan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan isu keamanan konvensional.
Menurut dia, kesiapsiagaan menghadapi risiko di lingkungan alam juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan komunitas.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep human security atau keamanan manusia yang menempatkan keselamatan individu, kesiapsiagaan komunitas, dan keberlanjutan lingkungan sebagai aspek yang saling berkaitan.
“Penguatan ketahanan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan isu keamanan konvensional, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas komunitas dalam menghadapi berbagai risiko di lingkungan alam,” ujarnya.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi, organisasi pecinta alam, pemerintah, komunitas pendaki, dan masyarakat dinilai memiliki peran dalam membangun ekosistem pendakian yang lebih aman dan berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan komunitas pendaki yang lebih siap menghadapi kondisi darurat, memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, serta mampu mengenali dan memanfaatkan potensi sumber daya hayati lokal secara bertanggung jawab. (*)

