BOYOLALI, MENARA62.COM – Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa dalam acara Halal Bi Halal Trah Eyang Setro Setiko yang digelar di kediaman Bapak Suliman, Betongan Manggung, Boyolali, Ahad (12/4/2026). Momentum ini dimanfaatkan sebagai ajang mempererat silaturahmi sekaligus saling memaafkan antaranggota keluarga besar lintas generasi.
Acara diawali dengan sambutan sesepuh trah, Sumarno, yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan nilai kebersamaan dalam keluarga. Ia mengajak seluruh anggota trah untuk terus memupuk rasa persaudaraan dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiyahnya, Pujiono menyampaikan materi reflektif mengenai tiga tipologi “salah” dalam kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa kesalahan tidak selalu berujung buruk, tergantung bagaimana seseorang menyikapinya.
“Pertama, salah yang membawa berkah, yaitu kesalahan yang disadari, diikuti taubat, dan menjadi pelajaran untuk memperbaiki diri,” jelasnya.
Tipologi kedua adalah kesalahan yang membawa musibah. Hal ini terjadi ketika seseorang terus mengulang kesalahan tanpa penyesalan dan mengabaikan nasihat. “Kesalahan yang tidak diakui bahkan ditanggapi dengan amarah bisa berdampak buruk, baik di dunia maupun akhirat,” ujarnya.
Sementara itu, tipologi ketiga adalah kesalahan yang membawa kegelisahan hingga alam barzakh. Menurutnya, kesalahan yang tidak diselesaikan, tidak dimintakan maaf, dan tidak ditaubati akan menjadi beban batin berkepanjangan. Ia juga menyinggung pentingnya menyelesaikan urusan seperti hutang yang belum ditunaikan.
Dalam kesempatan tersebut, Nabi Muhammad SAW turut dijadikan teladan, di mana beliau pernah menekankan pentingnya menunaikan kewajiban, termasuk terkait hutang, sebelum seseorang meninggal dunia.
Melalui momentum Halal Bi Halal ini, Ustaz Pujiono mengajak seluruh keluarga besar untuk menjadikan momen saling memaafkan sebagai sarana membersihkan diri dari kesalahan sekaligus memperkuat ukhuwah.
Acara ditutup dengan doa bersama dan saling bersalaman, menandai semangat baru untuk hidup rukun, damai, dan penuh keberkahan. (*)
