68 Tahun UMS, Capaian Renstra Lampaui Target hingga 113,3 Persen

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mencatat rata-rata ketercapaian indikator Rencana Strategis (Renstra) sebesar 113,3 persen pada tahun akademik 2025/2026. Capaian ini menjadi salah satu penanda perkembangan UMS dalam memperkuat mutu pendidikan, tata kelola, riset, dan kontribusi nyata bagi masyarakat saat memasuki usia ke-68 tahun.

 

Capaian tersebut disampaikan Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam Sidang Senat Terbuka dalam rangka Upacara Hari Jadi ke-68 UMS di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (24/10/2026).

 

Mengusung tema “Meneguhkan Sinergi, Menebarkan Kebermanfaatan, dan Menguatkan Peradaban”, peringatan tahun ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan universitas sekaligus penegasan arah pengembangan menuju kampus yang unggul, modern, dan berdampak bagi masyarakat.

 

Dalam laporannya, Harun menjelaskan bahwa Renstra UMS memuat 111 indikator kinerja. Sebanyak 109 indikator atau 98,2 persen telah memiliki data realisasi. Dari jumlah tersebut, 66 indikator telah mencapai atau melampaui target, sedangkan 15 indikator lainnya hampir mencapai target.

 

Secara keseluruhan, rata-rata ketercapaian indikator yang terukur mencapai 113,3 persen dari target yang ditetapkan.

 

“Mohon doanya, mudah-mudahan UMS dapat tumbuh berbasis mutu, netes-netes, berkemajuan-berkelanjutan,” ujar Harun.

 

Mahasiswa UMS Tersebar di 436 Kabupaten/Kota

 

Perkembangan UMS juga tercermin dari jumlah mahasiswa yang terus bertumbuh. Saat ini, lebih dari 31.000 mahasiswa aktif menempuh pendidikan di UMS dengan latar belakang daerah yang beragam, berasal dari 436 kabupaten/kota di Indonesia.

 

Sebanyak 25,8 persen mahasiswa berasal dari luar Jawa Tengah, sementara 10,4 persen berasal dari luar Pulau Jawa. Data tersebut memperlihatkan jangkauan UMS dalam menarik mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia.

 

Dari sisi penerimaan mahasiswa baru, Harun juga menyoroti perkembangan jumlah mahasiswa yang melakukan registrasi. Angka registrasi saat ini mencapai sekitar 30 persen dari total konversi pendaftar.

 

Di antara berbagai pilar pengembangan universitas, Transformasi Perencanaan dan Sistem Mutu UMS melalui Integrasi Data, Evidence-Based Policy, dan Continuous Quality Improvement mencatat ketercapaian tertinggi, yakni 153,6 persen.

 

Sementara itu, pilar Transformasi Tata Kelola Sarana Prasarana dan Keuangan UMS menuju Universitas Modern, Mandiri, Akuntabel, dan Berkelanjutan mencapai 82,6 persen. Capaian ini menjadi salah satu area yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam agenda pengembangan berikutnya.

 

Harun menegaskan, UMS akan terus memperkuat perencanaan berbasis data, memperluas layanan, menjaga ketahanan institusi, serta meningkatkan kemandirian finansial.

 

Selain itu, riset, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, dan inovasi akan diarahkan agar semakin berdampak serta memiliki nilai hilirisasi dan komersial.

 

“Kita bersama-sama mewujudkan lulusan dari UMS yang tepat prospek. Bukan hanya bekerja, tetapi memiliki daya inovasi dan daya entrepreneur, bekerja sesuai dengan keahlian, sesuai dengan kompetensi, dan mampu menjadi pelopor perubahan di lingkungannya,” tegasnya.

 

LLDIKTI VI: Lulusan Harus Siap Berkontribusi di Dunia Kerja

 

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., mengapresiasi perkembangan UMS, khususnya dalam menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).

 

Menurut Aisyah, orientasi pendidikan tinggi kini perlu bergerak melampaui konsep link and match. Perguruan tinggi dituntut menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dan berkontribusi sejak memasuki dunia kerja.

 

“Sekarang bukan lagi link and match, tetapi plug and play. Kita mengawal para lulusan supaya terserap dan bisa langsung bekerja kepada DUDIKA,” ungkapnya.

 

Aisyah juga menyebut sekitar 75 persen program studi di UMS telah meraih predikat akreditasi Unggul. Ia berharap capaian tersebut terus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan sarana prasarana.

 

Wamendikdasmen Soroti Tradisi Intelektual UMS

 

Alumni UMS yang kini menjabat Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., menilai perkembangan UMS tidak terlepas dari tradisi intelektual yang kuat, budaya akademik yang kokoh, serta kepemimpinan kampus yang inklusif dan tata kelola terbuka.

 

“Perkembangan UMS yang luar biasa sampai hari ini, karena UMS salah satunya mempunyai tradisi intelektual yang kuat, yang ditopang oleh budaya akademik yang kokoh, yang didukung oleh kepemimpinan kampus yang inklusif dan tata kelola yang terbuka,” tuturnya.

 

Fajar menekankan pentingnya kebebasan akademik sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus perlu memberikan ruang bagi beragam pemikiran dan perspektif yang berbeda agar dialog intelektual dapat melahirkan gagasan serta pengetahuan baru.

 

Pandangan tersebut menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak hanya diukur melalui capaian angka dan akreditasi, tetapi juga melalui kualitas ekosistem akademik yang mendorong pemikiran kritis, keterbukaan, dan inovasi.

 

UMS Didorong Berkontribusi dalam Peradaban Biru Indonesia

 

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menyoroti peran perguruan tinggi dan Muhammadiyah dalam membangun peradaban biru Indonesia.

 

Menurutnya, sumber daya laut memiliki posisi strategis dalam mendukung keberlangsungan bangsa, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Karena itu, pengembangan sektor kelautan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat pesisir.

 

“Peradaban biru yang berkelanjutan adalah kerja bersama, negara, kampus, persyarikatan Muhammadiyah, masyarakat pesisir,” ujarnya.

 

Irwan mengajak berbagai pihak memperkuat kerja sama untuk membangun kembali kejayaan maritim Indonesia. Ia menilai sejarah pelayaran Nusantara menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki tradisi maritim yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan peradaban masa depan.

 

Bagi UMS, kontribusi tersebut membuka ruang bagi penguatan riset dan inovasi lintas disiplin yang relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan.

 

Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Terus Membangun Peradaban

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., mengajak UMS dan seluruh lingkungan Muhammadiyah untuk terus merefleksikan identitas, karakter, dan kontribusinya bagi kemajuan bangsa.

 

“Jadi UMS, Muhammadiyah itu harus selalu bertanya: ‘Kami ini siapa? Dan mau berbuat apa dengan karakter yang kami miliki?’” katanya.

 

Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan yang menjadikan Islam sebagai agama peradaban dan membawa kemajuan. Karakter tersebut, menurutnya, perlu terus menjadi landasan dalam mengembangkan UMS, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), serta seluruh amal usaha Muhammadiyah.

 

“Spirit membangun peradaban, spirit membangun kemajuan, spirit yang selalu melahirkan etos kemajuan, itulah yang membuat kita maju,” tegasnya.

 

Ia berharap semangat tersebut terus dirawat agar Muhammadiyah dan seluruh institusi di bawah naungannya mampu tumbuh, berkembang, dan memberikan kontribusi yang semakin luas bagi masyarakat.

 

Memasuki usia ke-68, UMS menghadapi agenda untuk menjaga capaian mutu sekaligus memperkuat bidang-bidang yang masih memerlukan peningkatan. Dengan dukungan tradisi intelektual, tata kelola berbasis data, riset yang berdampak, dan kolaborasi lintas sektor, UMS menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar bertumbuh sebagai institusi pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi bagi tantangan bangsa dan pembangunan peradaban. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!