30.5 C
Jakarta

Gaya Hidup Picu Stroke Usia Muda

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Kasus stroke tidak lagi identik dengan usia lanjut. Gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat menjadi faktor utama meningkatnya risiko stroke pada usia muda. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bidang Fisioterapi Neuromuscular, Umi Budi Rahayu, usai jumpa pers rencana pelantikan guru besar UMS di RM Dapur Solo, Senin (19/1/2026).

Umi Budi Rahayu mengungkapkan, data menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus stroke pada generasi muda, terutama akibat gaya hidup sedentari. Aktivitas fisik yang rendah, kebiasaan berlama-lama menggunakan gawai dan laptop, serta berkurangnya aktivitas berjalan menjadi pemicu utama.

“Gaya hidup sekarang cenderung kurang gerak. Aktivitas anak muda sangat terbatas, ditambah pola makan yang kurang sehat. Ini yang paling besar menyumbang risiko stroke di usia muda,” ujarnya.

Menurutnya, faktor keturunan memang ada, namun persentasenya relatif kecil dibandingkan pengaruh gaya hidup dan pola konsumsi. Selama ini, kasus stroke paling banyak terjadi pada usia produktif sekitar 40 hingga 60 tahun. Namun, tren terbaru menunjukkan peningkatan pada usia belasan hingga 20-an tahun.

“Ini yang perlu menjadi perhatian bersama. Anak-anak muda sekarang memiliki potensi terkena stroke lebih dini jika tidak mengubah pola hidupnya,” tegasnya.

Umi Budi Rahayu juga menjelaskan bahwa tingkat pemulihan pasien stroke sangat bergantung pada jenis dan tingkat kerusakan yang terjadi. Stroke hemoragik dengan area perdarahan luas, misalnya, cenderung lebih sulit ditangani dibandingkan stroke akibat sumbatan di area tertentu yang peluang kesembuhannya lebih tinggi.

“Standar penanganan harus melihat dulu tingkat kerusakan sarafnya, salah satunya melalui pemeriksaan CT scan. Dari situ bisa ditentukan target dan strategi terapinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, stroke merupakan bagian dari gangguan saraf, namun memiliki karakteristik yang berbeda dengan gangguan saraf lainnya, seperti bell’s palsy. Bell’s palsy menyerang saraf tepi, khususnya saraf kranial VII, sedangkan stroke berkaitan dengan gangguan pembuluh darah otak.

Melalui edukasi dan perubahan gaya hidup, Umi Budi Rahayu menekankan pentingnya pencegahan sejak dini. Aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, serta kesadaran akan risiko stroke di usia muda menjadi kunci untuk menekan angka kejadian stroke di masa mendatang. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!