JAKARTA, MENARA62.COM — Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) menghasilkan sejumlah gagasan strategis untuk memperkuat perwujudan masyarakat dan negara madani di Indonesia dan Malaysia.
Hasil tersebut dirumuskan dalam Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia yang digelar Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) bersama Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, 20–23 Agustus 2026.
Pertemuan kedua yang mempertemukan sekitar 110 cendekiawan Indonesia dan Malaysia itu berlangsung dalam suasana akrab. Forum tersebut tidak hanya memperkuat silaturahmi, tetapi juga mempertemukan gagasan dan pemikiran kedua negara untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan masa depan.
Ketua Pembina CDCC sekaligus inisiator Madani Malindo, Din Syamsuddin, optimistis Indonesia dan Malaysia dapat menjadi penggerak kebangkitan peradaban Islam di kawasan Asia.
“Dunia Arab, Persia, Afrika telah menjalankan tugas peradabannya. Kini giliran Asia Tenggara,” ujar Din.
Menurutnya, umat Islam di Malaysia dan Indonesia memiliki tanggung jawab kesejarahan untuk menjadi pemrakarsa kebangkitan kembali peradaban Islam. Tanggung jawab tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan geostrategis dunia, terutama dalam bidang ekonomi dan politik.
Dorong Revitalisasi Nilai Madani
Dalam persidangan tersebut, para cendekiawan Indonesia dan Malaysia menyepakati bahwa Wawasan Negara Madani memiliki relevansi untuk mendorong kebangkitan peradaban Melayu-Islam.
Gagasan tersebut dapat diwujudkan dengan mengintegrasikan nilai-nilai keutamaan madani ke dalam kerangka negara bangsa yang telah ada di Indonesia dan Malaysia.
Para peserta menilai nilai-nilai tersebut pada dasarnya telah terdapat dalam falsafah Pancasila di Indonesia maupun Rukun Negara di Malaysia. Tantangan ke depan adalah merevitalisasi nilai-nilai tersebut agar diterapkan secara murni dan konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Nilai-nilai keutamaan madani” atau Madani Virtues tersebut diharapkan tidak berhenti pada tataran konsep. Jika berhasil diwujudkan di kawasan Malaysia-Indonesia, nilai itu dinilai berpotensi diperluas sebagai gagasan bersama untuk kawasan Asia Tenggara hingga dunia.
Pertemuan ini sekaligus menghasilkan kesepakatan dan peta jalan bagi pengembangan konsep negara dan masyarakat madani di kawasan.
Libatkan Tokoh Pemerintahan dan Cendekiawan
Persidangan kedua Madani Malindo turut dihadiri Menteri Agama Malaysia Zulkifli Hasan. Ia sebelumnya turut memprakarsai dan meresmikan Madani Malindo pada persidangan pertama yang digelar di Kuala Lumpur.
Direktur Jenderal IKIM, Mohamed Azam, memimpin delegasi Malaysia yang terdiri atas akademisi Islam, pimpinan lembaga kajian, serta organisasi keislaman.
Dari Indonesia, forum tersebut diikuti para cendekiawan, akademisi, dan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam tingkat pusat. Sejumlah pejabat dan tokoh nasional juga hadir, antara lain Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Anggota DPR RI Jazuli Juwaini, serta Kepala BRIN Arif Satria.
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla turut berpartisipasi dan menyampaikan ceramah kunci dalam forum tersebut.
Sejumlah anggota Kabinet Merah Putih juga hadir, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, serta Direktur Jenderal Saintek Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani.
Melalui persidangan kedua ini, Madani Malindo menegaskan pentingnya sinergi pemikiran antara Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun dengan akar sejarah dan budaya Melayu-Islam.
Kesepakatan yang lahir dari forum tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi kedua negara untuk memperkuat nilai-nilai madani sekaligus berkontribusi terhadap kebangkitan peradaban Islam di Asia Tenggara. (*)


