28.4 C
Jakarta

UMS Gandeng Guru-Orang Tua Dampingi Anak Disleksia

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat pendampingan literasi anak dengan disleksia melalui program Sahabat Disleksia di SD Negeri Nayu Barat 1 Surakarta.

 

Program tersebut menghadirkan sosialisasi dan workshop bagi guru serta orang tua dengan pendekatan multisensori dan pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan ini diarahkan untuk menyatukan pemahaman sekolah dan keluarga dalam mendampingi anak yang mengalami kesulitan membaca.

 

Berdasarkan observasi dan asesmen awal tim PKM-PM UMS, terdapat 14 siswa di SD Negeri Nayu Barat 1 Surakarta yang teridentifikasi mengalami tantangan disleksia. Tantangan tersebut antara lain kesulitan mengenali huruf, mengeja, hingga menurunnya fokus akibat berbagai distraksi selama pembelajaran di kelas reguler.

 

Ketua tim PKM-PM UMS, Ela Fitriana dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengatakan pendampingan anak dengan disleksia membutuhkan kolaborasi antara sekolah dan keluarga.

 

“Pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan membutuhkan kolaborasi harmonis antara guru di kelas dan orang tua di rumah,” ujar Ela, Senin (24/8/2026).

 

Menurut dia, program Sahabat Disleksia dirancang untuk menyatukan pemahaman sekaligus langkah guru dan orang tua dalam menerapkan pembelajaran multisensori.

 

Pendekatan tersebut mengintegrasikan indra penglihatan, pendengaran, perabaan, serta gerakan kinestetik siswa dalam proses pembelajaran.

 

Hadirkan Media Belajar Berbasis AR

 

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Senin (20/7/2026), tim PKM-PM UMS memperkenalkan sejumlah media pembelajaran adaptif yang dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi dan motorik anak dengan disleksia.

 

Media yang diperkenalkan antara lain Fun Motion, yang memanfaatkan pasir edukasi dan plastisin untuk melatih motorik halus; Rainbow Book; Phoneme Adventure berbasis Augmented Reality (AR) dan flashcard interaktif; serta Alphabet Adventure Box.

 

Guru dan orang tua juga mendapatkan pelatihan penggunaan media tersebut. Tim memberikan demonstrasi langsung penggunaan teknologi AR sehingga peserta memperoleh gambaran mengenai cara mendampingi anak secara mandiri di rumah maupun sekolah.

 

Kepala SD Negeri Nayu Barat 1 Surakarta, Wahyu Ratnawati, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kehadiran tim PKM-PM UMS.

 

“Kehadiran media berbasis Augmented Reality dan pendekatan multisensori ini menjadi jawaban atas tantangan yang kami hadapi di sekolah rujukan inklusi ini,” katanya.

 

Menurut Wahyu, keterbatasan media dan metode pembelajaran adaptif selama ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi guru dalam memberikan pendampingan kepada siswa dengan kebutuhan belajar yang beragam.

 

Orang Tua Ikut Belajar Dampingi Anak

 

Sosialisasi Sahabat Disleksia tidak hanya berfokus pada guru. Orang tua juga dilibatkan dalam pelatihan pendampingan membaca dan penggunaan media pembelajaran.

 

Materi kegiatan mencakup pentingnya pendampingan membaca sejak dini, pembelajaran interaktif, penggunaan AR, flashcard Phono Bright, Alphabet Adventure Box, serta pemantauan perkembangan membaca dan fokus siswa melalui buku panduan Self-Motion.

 

Para orang tua tampak aktif berdiskusi mengenai cara menghadapi berbagai tantangan anak ketika belajar di rumah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik penggunaan media pembelajaran secara langsung.

 

Tim PKM-PM UMS sendiri terdiri atas Ela Fitriana sebagai ketua, bersama Aisyah Aditya Wulandari, Shandy Yusril Fadlullah, Inggar Widya Firstiyani, dan Puput Rahmawati. Program tersebut didampingi dosen PGSD UMS, Ika Candra Sayekti, S.Pd., M.Pd.

 

Disiapkan untuk Program Berkelanjutan

 

Program Sahabat Disleksia tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Tim PKM-PM UMS bersama pihak sekolah merencanakan pembentukan tim pelaksana dan pengawas yang melibatkan guru serta orang tua.

 

Kolaborasi juga akan diarahkan dengan Dinas Pendidikan Kota Surakarta dan Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI).

 

Langkah tersebut diharapkan membuat model pembelajaran Sahabat Disleksia dapat diterapkan secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan inklusif.

 

Melalui pendekatan multisensori, media interaktif, dan kolaborasi sekolah dengan keluarga, program ini diharapkan membantu anak dengan disleksia mengembangkan kemampuan literasi secara lebih menyenangkan, adaptif, dan sesuai kebutuhan mereka. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!