SOLO, MENARA62.COM — Sebanyak 123 calon wisudawan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id bersiap memasuki dunia profesional. Sebelum menyandang status alumni, mereka mendapat pesan untuk menjaga integritas, memperluas jejaring, dan terus mengasah kemampuan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pelepasan Calon Wisudawan dan Wisudawati Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di Hotel The Sunan Surakarta, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan dihadiri pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, calon wisudawan, serta civitas academica FAI UMS. Selain menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan, kegiatan tersebut menjadi pembekalan sebelum para calon alumni memasuki dunia kerja dan pengabdian kepada masyarakat.
Pada periode ini, FAI UMS melepas 123 calon wisudawan, terdiri atas 101 lulusan program sarjana, 20 lulusan magister, dan dua lulusan doktor.
Dari enam program studi, lulusan terbanyak berasal dari Pendidikan Agama Islam (PAI) sebanyak 52 orang. Selanjutnya Hukum Ekonomi Syariah (HES) 22 orang, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) 27 orang, Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) 15 orang, Magister Hukum Ekonomi Syariah (MHES) tiga orang, serta Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (MIQT) dua orang.
Tekankan Integritas dan Kebermanfaatan
Wakil Dekan III FAI UMS, Fauzul Hanif Noor Athief, L.c., M.Sc., mengingatkan calon alumni bahwa pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Perjalanan tersebut harus berlanjut pada kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Perjalanan yang baik itu adalah perjalanan yang sampai pada tujuan,” ujar Fauzul.
Menurut dia, lulusan FAI UMS memiliki kompetensi dan peluang pengabdian yang beragam sesuai bidang keilmuan masing-masing. Mereka tidak hanya memiliki peluang berkarier di sektor pendidikan dan keagamaan, tetapi juga dapat berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.
Pada periode ini, misalnya, FAI UMS melepas calon guru, calon hakim, calon mufassir, hingga lulusan yang dipersiapkan berkiprah sebagai konsultan dan dai.
Fauzul menegaskan, keberhasilan alumni tidak semata-mata diukur dari pekerjaan yang diperoleh setelah lulus. Integritas dan kebermanfaatan menjadi bagian penting dalam menentukan nilai sebuah pekerjaan.
“Apapun pekerjaan kalian, selama pekerjaan itu halal, maka itu menjadi kebanggaan bagi kami. Jadilah alumni yang bangga dengan pilihan kalian. Yang terpenting adalah pekerjaan tersebut halal dan memberikan manfaat,” katanya.
Ia juga berpesan agar para lulusan membawa tiga modal utama dalam perjalanan profesional, yakni disiplin, ketekunan, dan kreativitas. Ketiganya dinilai penting agar alumni mampu beradaptasi dengan perubahan dan menghadapi tantangan masa depan.
Catat Capaian Akademik
Selain pelepasan, FAI UMS turut memaparkan capaian akademik para lulusan.
Sebanyak 101 lulusan program sarjana mencatat rata-rata IPK 3,49, dengan rata-rata masa studi 3 tahun 8 bulan. Sementara 20 lulusan magister memiliki rata-rata IPK 3,88, dengan rata-rata masa studi 1 tahun 5 bulan.
Adapun dua lulusan doktor mencatat rata-rata IPK 3,77 dengan rata-rata masa studi 3 tahun 7 bulan.
FAI UMS juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik dari masing-masing program studi. Mereka yakni Aisyah Ainul Qolbi dari PAI dengan IPK 3,84; Nafidz Azzam dari HES dengan IPK 3,79; dan Nabila Zakiyah dari IQT dengan IPK 3,71.
Dari jenjang magister, lulusan terbaik diraih Fadhilla Nangroe Anggraini dari MPAI dengan IPK 3,96, Kurnaedi dari MHES dengan IPK 3,94, serta Trisno Susilo dari MIQT dengan IPK sempurna 4,00.
Alumni Kenalkan Bekal 3C
Pesan adaptasi di dunia kerja juga disampaikan perwakilan alumni FAI UMS, Devi Hidayah Fajar, M.E., Sy.
Alumni Program Studi Hukum Ekonomi Syariah tersebut mengingatkan calon lulusan agar tidak membatasi diri terhadap peluang yang datang setelah menyelesaikan pendidikan.
“Jangan khawatir berkaitan dengan pekerjaan. Kembali kepada prinsip hidup. Apapun kesempatan yang datang, jangan langsung memilih dan membatasi diri. Terima terlebih dahulu, kemudian terus berkembang,” ujarnya.
Devi memperkenalkan konsep 3C, yakni Circle, Credibility, dan Capability, sebagai bekal membangun perjalanan profesional.
Circle berkaitan dengan jaringan. Menurut Devi, lulusan perlu terus membangun relasi dengan komunitas positif, termasuk komunitas pendidik, ulama, maupun kelompok profesional lainnya.
“Setelah lulus kuliah, jaringan harus terus dicari. Bergabunglah dengan komunitas pendidik, ulama, maupun komunitas positif lainnya. Dari sana akan banyak manfaat dan peluang yang terbuka,” jelasnya.
Selanjutnya Credibility, yakni kemampuan menjaga kepercayaan. Alumni dituntut menjadi pribadi yang amanah dan mampu mempertanggungjawabkan setiap tugas yang diberikan.
“Jadilah orang yang bisa memegang amanah dan dapat dipercaya. Kredibilitas menjadi modal penting dalam perjalanan profesional,” kata Devi.
Adapun Capability berkaitan dengan kapasitas diri. Devi mendorong para lulusan untuk terus meningkatkan kompetensi, membangun personal branding, serta mengembangkan pola pikir bertumbuh atau growth mindset.
“Jangan bertahan di zona nyaman. Bangunlah kemampuan, jadilah orang yang dipercaya, jaga jaringan yang baik, dan terus berkembang,” tuturnya.
Dengan bekal keilmuan, integritas, jejaring, dan kemampuan beradaptasi tersebut, para calon alumni FAI UMS diharapkan mampu melanjutkan perjalanan setelah kampus sekaligus membawa nilai-nilai Islam dan kemuhammadiyahan dalam profesi serta pengabdian mereka di tengah masyarakat. (*)

