SOLO, MENARA62.COM – Hubungan Indonesia dan Malaysia tak selalu berjalan mulus. Kedekatan sebagai negara serumpun justru membuat relasi kedua negara penuh persamaan sekaligus persaingan. Hal itu dibedah Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Dr. Danang Waskito, saat memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Kamis (24/9/2026).
Dalam kuliah umum bertajuk “Peningkatan Peran Civitas Academica dalam Peran Hubungan Indonesia dan Malaysia” di Gedung Ahmad Syafii Maarif UMS, Danang mengajak mahasiswa melihat hubungan Indonesia-Malaysia secara lebih luas. Tak hanya dari aspek politik dan diplomasi, tetapi juga sejarah, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan hingga perkembangan teknologi.
Danang yang juga menjabat Wakil Kepala Perwakilan atau Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Kuala Lumpur itu mengatakan, kedekatan Indonesia dan Malaysia tidak semata-mata disebabkan faktor geografis.
Menurut dia, kedua negara memiliki irisan sejarah, identitas, nilai, serta pengalaman yang membuat hubungan keduanya sangat erat.
“Sebagai negara yang serumpun, kedekatannya dari sisi jarak juga dekat, dari sisi sejarah juga dekat. Kita juga share identity, share history, share values di banyak hal. Tentu sebagai negara serumpun sebetulnya kita saling tergantung,” jelas Danang.
Hubungan Serumpun Tak Lepas dari Persaingan
Danang menyebut hubungan negara serumpun memiliki sejumlah karakter, antara lain interdependensi, kesamaan nasib, kesamaan atau homogeneity, serta self-restraint. Kombinasi tersebut membuat hubungan Indonesia-Malaysia berlangsung dekat, tetapi sekaligus kompleks.
Ia bahkan menggambarkan relasi kedua negara sebagai hubungan love and hate. Kedekatan Indonesia dan Malaysia, kata dia, tidak serta-merta menghilangkan persaingan di sejumlah bidang, termasuk olahraga.
Meski demikian, dinamika tersebut tidak mengubah hubungan bilateral kedua negara yang secara umum tetap kuat.
“Hubungan kita dengan Malaysia sangat kuat,” katanya.
Menurut Danang, cakupan hubungan bilateral Indonesia-Malaysia saat ini juga semakin luas. Kerja sama tidak hanya berlangsung di ranah politik, tetapi mencakup ekonomi, perdagangan, sosial, budaya, pendidikan hingga diplomasi.
Perdagangan Capai 34,2 Miliar Dolar AS
Dari sektor ekonomi, Danang mengungkapkan nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Malaysia pada 2025 mencapai sekitar 34,2 miliar dolar AS. Indonesia juga masih mencatatkan surplus perdagangan dengan Malaysia, meski terdapat tren penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Malaysia, lanjut Danang, juga termasuk negara yang aktif menanamkan investasi di Indonesia. Sebaliknya, investasi Indonesia di Malaysia dinilai masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
“Malaysia cukup aktif di Indonesia. Sayangnya, Indonesia kurang aktif di Malaysia. Ini tentu menjadi PR kita,” ujarnya.
Ia melihat masih banyak peluang yang dapat dikembangkan kedua negara, terutama dalam menghadapi perubahan teknologi. Beberapa sektor yang disebut antara lain teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta rare earth atau mineral tanah jarang.
Di sisi lain, hubungan Indonesia-Malaysia masih dihadapkan pada sejumlah persoalan, seperti isu perbatasan dan pekerja migran Indonesia (PMI).
Danang mengatakan persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui dialog dan mekanisme damai yang telah dibangun kedua negara.
Diplomasi Tak Cukup di Meja Perundingan
Dalam kuliah tersebut, Danang juga menyoroti pentingnya hubungan personal antarpemimpin dalam memperkuat diplomasi Indonesia-Malaysia.
Ia mencontohkan komunikasi antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang dinilai turut memperkuat komunikasi bilateral kedua negara.
Bagi Danang, diplomasi juga membutuhkan kemampuan membangun jejaring. Karena itu, mahasiswa perlu mulai memperkuat networking sejak berada di bangku perguruan tinggi.
Pesan tersebut sejalan dengan dorongan Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., agar mahasiswa memperoleh pengalaman internasional secara langsung.
Menurut Harun, kehadiran Program Studi Hubungan Internasional (HI) dan Administrasi Publik (AP) di UMS merupakan bagian dari upaya membuka cakrawala mahasiswa agar mampu melihat dunia secara lebih luas.
“Harapannya, Prodi HI ini dibuka di UMS menjadi salah satu jendela untuk menjelajahi dunia,” ungkapnya.
UMS Dorong Mahasiswa Punya Perspektif Global
Harun menilai pembelajaran internasional tidak cukup hanya diperoleh dari ruang kelas. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman dan berinteraksi langsung dengan lingkungan internasional.
“Adik-adik mahasiswa ini harus diberi eksposur internasional. Diberi pengalaman eksposur itu penting,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan membangun hubungan dalam diplomasi. Mahasiswa, menurut Harun, perlu memiliki international mind yang tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga perdagangan, ekonomi, diplomasi, dan dakwah.
“Human relation is a key to successful in diplomacy. Seni bergaul itu, cara bergaul itu, strategi bergaul itu, hubungan diplomatik merupakan kunci sukses untuk menaikkan tangga prodi, tangga universitas, tangga negara,” jelasnya.
Harun berharap hubungan UMS dengan perguruan tinggi di Malaysia dapat terus diperluas secara resiprokal. Keberadaan Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis juga dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan jejaring pendidikan sekaligus diplomasi Indonesia-Malaysia.
UMS sebelumnya juga telah menjalin komunikasi strategis dengan KBRI Kuala Lumpur untuk memperkuat berbagai program pendidikan dan internasionalisasi Muhammadiyah di Malaysia.
Danang: Mimpi Besar Harus Disertai Langkah
Menutup kuliah umum, Danang memberikan pesan khusus kepada mahasiswa UMS. Ia meminta mahasiswa tidak sekadar memiliki cita-cita besar, tetapi juga menyiapkan langkah konkret untuk mencapainya.
“Gantungkan mimpi kalian setinggi-tingginya, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana mencapainya. Jadi tentu belajar yang baik, belajar yang rajin, belajar yang betul, perkuat networking, enlarge your knowledge and experience,” pesannya.
Ia mendorong mahasiswa menetapkan tujuan jangka panjang sekaligus mulai membangun jejaring sejak di perguruan tinggi.
Bagi mahasiswa UMS, kuliah umum tersebut bukan sekadar membahas hubungan dua negara serumpun. Forum itu juga menjadi ruang untuk memahami bahwa diplomasi, pendidikan, ekonomi, teknologi, dan jejaring antarmanusia semakin tidak terpisahkan dalam membangun hubungan Indonesia dengan dunia. (*)
