JAKARTA, MENARA62.COM – Tradisi halal bihalal dinilai bukan sekadar budaya tahunan, tetapi memiliki dampak besar bagi kesehatan, kebahagiaan, hingga kecerdasan sosial. Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti dalam Halal Bihalal Nasional bertema Semangat Syawal Meningkatkan Mutu Pendidikan, Selasa (30/3/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti jajaran pimpinan dan karyawan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah secara luring di Jakarta dan daring se-Indonesia itu, Mu’ti menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang sarat nilai universal.
“Halal bihalal bukan bagian dari syariat, tetapi tradisi yang lahir dari pengamalan ajaran agama secara kreatif, sehingga nilai-nilai universalnya bisa diterima semua kalangan,” ujarnya.
Selain halal bihalal, ia juga menyoroti tradisi mudik sebagai fenomena unik Indonesia yang memiliki makna lebih dari sekadar pulang kampung.
“Saya termasuk mudiker militan. Sejak 2002 di Jakarta, sudah 24 kali mudik dan selalu ingin sampai di kampung sebelum magrib,” tuturnya.
Konsep 3R: Penyegaran hingga Rekreasi
Abdul Mu’ti menjelaskan, makna halal bihalal dan mudik dapat dipahami melalui konsep 3R, yakni Refreshing, Reunion, Recreation.
Refreshing tidak hanya bermakna penyegaran fisik setelah Ramadan, tetapi juga spiritual dan sosial melalui saling memaafkan. Sementara reunion menjadi momen menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang.
Adapun recreation, menurutnya, bukan sekadar rekreasi fisik, melainkan proses mendapatkan inspirasi baru dari interaksi sosial selama perjalanan dan pertemuan.
3O: Kunci Keterbukaan Pikiran dan Hati
Setelah 3R, muncul konsep 3O, yaitu Open Mind, Open Heart, Open House.
Sikap terbuka, baik dalam pikiran maupun hati, dinilai penting untuk membangun relasi yang sehat. Ia juga mengutip pesan Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya melihat isi pesan, bukan siapa yang menyampaikan.
“Dengan pikiran terbuka, kita mudah menerima masukan. Dengan hati lapang, kita mudah memaafkan,” jelasnya.
Tradisi open house pun dinilai sebagai sarana mempererat hubungan sosial melalui silaturahmi langsung.
3S: Sehat, Bahagia, dan Cerdas
Lebih jauh, Mu’ti mengaitkan halal bihalal dengan konsep 3S: Sejahtera, Sehat, dan Smart. Ia mengutip buku Susan Pinker berjudul The Village Effect yang menegaskan pentingnya interaksi tatap muka dalam meningkatkan kualitas hidup.
Menurutnya, masyarakat yang aktif bersilaturahmi cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi dan umur lebih panjang.
“Silaturahmi membuat hidup lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih cerdas. Ini yang harus kita bangun bersama,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh jajaran pendidikan untuk memperkuat budaya ramah, kolaboratif, dan santun sebagai fondasi kemajuan bersama.
“Dengan budaya itu, insyaallah kita bisa mencapai keberhasilan dan kesuksesan bersama,” pungkasnya. (ek)
