29.2 C
Jakarta

Ace Somantri: Belajar dari Alam Harus Berujung Aksi Nyata

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Belajar dari alam bukan sekadar merenungkan kebesaran Allah, tetapi juga mengambil pelajaran untuk bertindak menjaga lingkungan. Kesadaran tersebut perlu diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, mulai dari mengurangi sampah plastik hingga menghemat air dan energi.

 

Pesan itu disampaikan dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Ace Somantri, dalam pengajian rutin bertajuk “Belajar dari Alam” di Masjid Fastabikul Khairat, lantai tiga kampus UM Bandung, Kamis (8/10/2026).

 

Ace menjelaskan, alam bukan hanya tempat manusia menjalani kehidupan, melainkan juga sumber pembelajaran yang dapat memperkuat keimanan, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

 

“Umat Islam harus memahami alam tidak sekadar sebagai tempat hidup. Namun, sebagai sumber pembelajaran dan bahan refleksi,” ujar Ace.

 

Menurut dia, dalam perspektif Al-Qur’an, pembelajaran tidak hanya diperoleh melalui wahyu tertulis, tetapi juga melalui tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.

 

Konsep tersebut dikenal melalui ayat qauliyah, yakni tanda-tanda yang disampaikan melalui firman Allah, dan ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat diamati melalui penciptaan alam.

 

Ace mengaitkan pemahaman tersebut dengan konsep ulul albab dalam QS Ali Imran ayat 190–191. Ayat itu menggambarkan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah serta merenungkan penciptaan langit dan bumi.

 

Dengan demikian, belajar dari alam tidak cukup berhenti pada pemahaman keagamaan. Manusia juga perlu mengembangkan kemampuan mengamati, berpikir kritis, dan mengambil pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Lebah, Semut, dan Burung Mengajarkan Nilai Kehidupan

 

Ace mencontohkan, berbagai makhluk hidup menyimpan pelajaran yang relevan bagi kehidupan manusia.

 

Lebah, misalnya, menggambarkan produktivitas dan kerja sama. Melalui QS An-Nahl ayat 68–69, Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan lebah sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Madu yang dihasilkannya juga memberikan manfaat bagi makhluk lain.

 

Sementara itu, semut mengajarkan pentingnya komunikasi, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Adapun burung dapat menjadi inspirasi tentang ikhtiar dalam mencari rezeki yang disertai tawakal kepada Allah.

 

Menurut Ace, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.

 

Produktivitas, misalnya, perlu berjalan beriringan dengan kerja sama. Begitu pula usaha pribadi harus disertai kepedulian terhadap kepentingan bersama.

 

“Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, ataupun masyarakat,” kata Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3K) UM Bandung tersebut.

 

Ilmu Pengetahuan dan Keimanan Perlu Berjalan Beriringan

 

Dalam pengajian tersebut, Ace juga menyoroti pentingnya pengamatan terhadap alam sebagai salah satu jalan mengembangkan ilmu pengetahuan.

 

Keteraturan alam dapat mendorong manusia melakukan penelitian, menemukan pengetahuan baru, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

 

Menurutnya, kegiatan ilmiah dan refleksi keagamaan tidak harus dipertentangkan. Ilmu pengetahuan dapat memperluas pemahaman manusia terhadap alam sekaligus memperkuat kesadaran mengenai tanggung jawabnya sebagai makhluk Allah.

 

Ace juga mengingatkan pentingnya prinsip keseimbangan atau mizan. Manusia merupakan bagian dari alam sehingga pemanfaatan sumber daya harus mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan.

 

Kesadaran tersebut mendorong manusia untuk bersikap bersyukur, rendah hati, dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumber daya yang tersedia.

 

Menjaga Lingkungan Bagian dari Tanggung Jawab Manusia

 

Lebih jauh, Ace menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi membawa tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan.

 

Ia merujuk QS Al-A’raf ayat 56 yang mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Pesan serupa terdapat dalam QS Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut berkaitan dengan perbuatan manusia.

 

Pesan Al-Qur’an tersebut relevan dengan berbagai persoalan lingkungan saat ini, mulai dari penumpukan sampah plastik, kerusakan hutan, hingga perubahan iklim.

 

Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada pengetahuan, wacana, atau ajakan moral. Kesadaran tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.

 

“Kita dapat memulainya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan energi, menjaga kebersihan lingkungan, serta menanam dan merawat pohon,” tegas Ace.

 

Ia menambahkan, dalam perspektif Islam, menanam pohon yang buahnya dimanfaatkan manusia atau hewan juga memiliki nilai sedekah.

 

Dengan demikian, tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi makhluk hidup dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.

 

Ace menegaskan, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan sosial, melainkan juga bagian dari tanggung jawab keagamaan. Belajar dari alam pada akhirnya harus melahirkan kesadaran untuk memanfaatkan ilmu secara bijaksana, menjaga keseimbangan kehidupan, dan merawat bumi bagi generasi mendatang. (FA/*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!