AI Ubah Peta Pekerjaan, UM Bandung Siapkan Talenta Adaptif

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah peta pekerjaan, pendidikan, hingga kehidupan sosial. Perguruan tinggi pun dituntut menyiapkan talenta digital yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan AI.

 

Pesan tersebut disampaikan Siddhartha Paul Tiwari, Head of Policy and Planning, Android & Mobile Technologies, Google Asia Pacific, dalam kuliah umum bertajuk “Generative AI and The Future of Indonesia’s Digital Talent” di Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Selasa (20/10/2026).

 

Dalam kuliah umum yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, itu, Siddhartha menjelaskan bahwa AI bukan sekadar teknologi untuk mempermudah pencarian informasi. Lebih dari itu, AI generatif mulai membentuk ulang cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi.

 

Menurut dia, pesatnya adopsi AI generatif menjadi salah satu indikator besarnya perubahan yang tengah berlangsung. Mengutip AI Index Report 2026 dari Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI), Siddhartha memaparkan bahwa AI generatif mencapai tingkat adopsi 53 persen hanya dalam tiga tahun.

 

Kecepatan tersebut melampaui adopsi internet dan komputer personal pada tahap perkembangan yang sama.

 

Perkembangan kemampuan AI juga terlihat dari hasil pengujian OSWorld, yang mengukur kemampuan agen AI menjalankan tugas melalui komputer. Tingkat keberhasilan sistem terbaik dalam pengujian tersebut meningkat dari sekitar 5 persen pada 2024 menjadi 66,3 persen pada 2025.

 

Meski kemampuannya terus berkembang, Siddhartha mengingatkan bahwa AI belum sepenuhnya dapat diandalkan. Teknologi ini masih berpotensi menghasilkan jawaban keliru, termasuk ketika mengerjakan tugas sederhana.

 

“AI bisa sangat canggih dalam menjawab persoalan ilmiah tingkat doktoral, tetapi pada saat yang sama masih bisa keliru membaca jam analog. Oleh karena itu, kita harus memeriksa jawabannya sebelum mempercayainya,” ujar Siddhartha.

 

Pesan tersebut menegaskan pentingnya literasi AI bagi mahasiswa. Kemampuan menggunakan teknologi harus diimbangi kecakapan memeriksa informasi, mengenali kesalahan, serta menilai apakah hasil yang diberikan AI dapat dipertanggungjawabkan.

 

AI Bukan Sekadar Ancaman bagi Lapangan Kerja

 

Mengenai masa depan pekerjaan, Siddhartha mengajak mahasiswa melihat perkembangan AI secara lebih luas. Menurut dia, kemajuan teknologi tidak semata-mata berarti hilangnya pekerjaan, tetapi juga dapat mengubah bentuk pekerjaan, melahirkan profesi baru, dan menggeser keterampilan yang dibutuhkan dunia industri.

 

Ia mengilustrasikan perubahan tersebut melalui kisah pemogokan pegawai bank pada masa kecilnya ketika komputer mulai digunakan di kantor-kantor cabang perbankan.

 

Pada masa itu, para pegawai khawatir kehadiran komputer akan menggantikan peran mereka. Namun, seiring perkembangan teknologi, sektor perbankan dan keuangan justru mengalami perubahan yang membuka berbagai peluang pekerjaan baru.

 

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi perlu direspons melalui kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi.

 

“Kompetensi masa depan perlu menggabungkan penguasaan teknologi dan kemampuan manusiawi. Keterampilan teknis seperti AI, analisis data, jaringan, dan keamanan siber perlu berjalan beriringan dengan kreativitas, pertimbangan yang matang, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi,” katanya.

 

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa talenta digital masa depan tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis. Kemampuan memahami persoalan, mengambil keputusan secara bijaksana, berkolaborasi, dan menghadapi perubahan juga menjadi modal penting untuk memasuki dunia kerja.

 

Kampus Perlu Perkuat Literasi AI Mahasiswa

 

Bagi perguruan tinggi, tantangan perkembangan AI tidak berhenti pada pengenalan teknologi kepada mahasiswa. Kampus juga perlu membangun kemampuan mahasiswa untuk menggunakan AI secara bijak, menguji kebenaran informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan mereka.

 

Siddhartha turut mengutip survei terhadap mahasiswa sarjana di Inggris yang menunjukkan bahwa 95 persen responden menggunakan AI dalam suatu bentuk, sedangkan 94 persen memanfaatkannya untuk mendukung pengerjaan tugas perkuliahan.

 

Angka tersebut menggambarkan semakin luasnya penggunaan AI dalam lingkungan pendidikan. Kondisi ini sekaligus menegaskan pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

 

Mahasiswa, menurut pesan yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut, tidak cukup hanya terampil menyusun perintah atau prompt untuk AI. Mereka juga harus mampu menilai kualitas jawaban, mengenali potensi kekeliruan, serta menentukan kapan suatu persoalan membutuhkan penilaian dan keputusan manusia.

 

Dengan demikian, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas kemampuan belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis.

 

Kuliah umum yang diikuti sekitar 1.200 mahasiswa UM Bandung itu berlangsung interaktif. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendalami perkembangan AI dan implikasinya terhadap masa depan talenta digital Indonesia.

 

Siddhartha pun menyampaikan komitmennya untuk kembali berkunjung ke UM Bandung.

 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi perubahan lanskap pekerjaan di era AI, dengan memadukan kecakapan teknologi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!