SOLO, MENARA62.COM – Konsistensi meneliti dan mempublikasikan karya ilmiah membawa alumnus Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Dr. Mahmudulhassan, meraih World Rank 4 in Education and Islamic Studies dalam Scholar Index Top 1000 Scholar 2026.
Pria yang akrab disapa Hasan itu mengaku tidak pernah menargetkan peringkat dunia. Baginya, capaian tersebut merupakan buah dari kebiasaan sederhana yang terus dijaga, yakni menulis, melakukan penelitian, dan mempublikasikan hasil riset secara konsisten.
“Saya sendiri tidak pernah membayangkan akan mendapatkan World Rank 4. Saya hanya berusaha konsisten melakukan penelitian dan publikasi,” kata Hasan saat diwawancarai melalui Zoom Meeting, Selasa (6/10/2026).
Saat ini, Hasan telah kembali ke Bangladesh. Ia menilai dukungan sejumlah akademisi UMS turut berperan dalam membangun kebiasaan akademiknya, khususnya dalam menulis dan mempublikasikan hasil penelitian.
Konsisten Submit dan Publikasi
Hasan menuturkan, selama menjalani perjalanan akademik, dirinya terus belajar memahami berbagai tahapan publikasi ilmiah. Salah satunya dengan aktif mengirimkan artikel ke jurnal yang terindeks Scopus maupun SINTA.
“Yang penting saya berusaha, terus submit, nulis, publikasi. Biar sekarang saya dapat kabar gembira, jadi saya sangat semangat,” ujarnya.
Konsistensi tersebut tercermin dari rekam publikasinya. Hasan tercatat memiliki 68 artikel, termasuk 10 artikel yang terindeks Scopus.
Dari 10 publikasi Scopus tersebut, empat artikel berada pada jurnal Q1, satu artikel Q2, dua artikel Q3, dan dua artikel Q4.
Bidang penelitian yang banyak digeluti Hasan meliputi pendidikan, pendidikan Islam, dan pendidikan multikultural. Salah satu risetnya mengkaji pembelajaran berpusat pada mahasiswa sebagai pendekatan untuk mencegah radikalisasi di sekolah Islam.
Penelitian berjudul “Exploring Student-Centered Learning as a Tool to Prevent Radicalization in Islamic Junior Schools: A Case Study of Indonesia and Bangladesh” tersebut dilakukan secara komparatif bersama Prof. Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag.
Penelitian itu membandingkan praktik pendidikan Islam di Indonesia dan Bangladesh. Hasan menemukan adanya perbedaan dalam penerapan teori dan praktik pendidikan di kedua negara.
Menurut dia, praktik pendidikan di Bangladesh masih perlu diperkuat, terutama dalam menghubungkan teori dengan praktik pembelajaran.
“Kalau di Bangladesh kurangnya praktikal. Kalau kita lihat Pendidikan Islam, karena saya meneliti tentang Pendidikan Islam, kalau di Bangladesh juga ada kurang di sekolah sekuler. Tapi saya lihat di Indonesia, masyaallah, ada pendidikan Islam,” tuturnya.
Dari penelitian tersebut, Hasan melihat sejumlah praktik pendidikan di Indonesia yang dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan pendidikan di Bangladesh. Ia menilai keterhubungan teori dan praktik, publikasi ilmiah, serta kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran penting dalam mendukung kualitas pendidikan.
Berawal dari Beasiswa 100 Persen UMS
Perjalanan akademik Hasan tidak lepas dari UMS. Sebelum melanjutkan studi doktoral di FAI UMS, ia telah menyelesaikan pendidikan magister bidang Tafsir Hadis dan Ilmu Politik di Bangladesh.
Ketertarikannya terhadap bidang pendidikan kemudian mendorong Hasan untuk melanjutkan studi di Indonesia. Awalnya, ia berencana mengambil program magister Pendidikan Agama Islam.
Namun, setelah berdiskusi dengan pihak Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional UMS, khususnya Wijianto, S.T., M.Eng.Sc., Hasan mendapat informasi dan kesempatan untuk langsung melanjutkan pendidikan doktoral.
“Saya sangat senang, saya menangis. Karena itu mimpi saya mau masuk S3 juga,” kenangnya.
Kesempatan tersebut semakin terbuka setelah Hasan mendapatkan beasiswa 100 persen dari UMS. Beasiswa itu menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya untuk memperdalam bidang pendidikan sekaligus meningkatkan kapasitas penelitian dan publikasi.
Selama menempuh studi di UMS, Hasan juga mengenang suasana perkuliahan sebagai pengalaman yang menyenangkan dan tidak terlupakan.
Kini, setelah kembali ke Bangladesh, Hasan terus mengembangkan aktivitas akademiknya. Ia mengajar pada jenjang pendidikan setara SMA sembari mencari peluang untuk bergabung dengan perguruan tinggi di Bangladesh.
Capaian World Rank 4 in Education and Islamic Studies menjadi dorongan bagi Hasan untuk terus berkontribusi dalam pendidikan dan penelitian. Ia meyakini konsistensi dalam menulis dan publikasi merupakan proses panjang yang dapat membuka peluang lebih besar di dunia akademik.
“Saya hanya berusaha konsisten melakukan penelitian dan publikasi,” pungkasnya. (*)

