SOLO, MENARA62.COM — Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat transformasi pembelajaran digital melalui optimalisasi Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dan penerapan siklus Closed-Loop Plan-Do-Check-Act (PDCA).
Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Pemanfaatan SPADA dan Penerapan Siklus Closed-Loop PDCA yang digelar di Ruang Siti Badilah, Perpustakaan UMS Kampus 2, Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 22 dosen Program Studi Arsitektur UMS.
Workshop diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih terintegrasi, interaktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan.
Materi workshop mencakup pengelolaan kelas digital, penyusunan materi perkuliahan, pemberian tugas, hingga evaluasi capaian pembelajaran mahasiswa.
Ketua Program Studi Arsitektur UMS, Dr. Ir. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., GP., mengatakan optimalisasi SPADA menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mendukung pengelolaan akademik yang semakin terintegrasi.
“Harapannya dengan workshop ini, Bapak-Ibu dosen minimal sudah memiliki course dan memahami proses mulai dari memasukkan materi hingga penilaian terhadap CPMK dan CPL,” ujar Nur Rahmawati.
Selain pengelolaan kelas digital, dosen mendapatkan pendampingan untuk mengintegrasikan mata kuliah yang diampu secara tim. Penggabungan kelas digital memungkinkan materi dan penilaian dikelola bersama sehingga proses pembelajaran lebih terstruktur dan selaras dengan capaian akademik.
Nur Rahmawati menjelaskan, pemanfaatan SPADA juga menjadi bagian dari penguatan sistem penjaminan mutu pembelajaran. Melalui platform tersebut, dosen dapat merancang materi, memberikan penugasan, memantau proses belajar, hingga mengevaluasi capaian mahasiswa secara berkelanjutan.
Pembelajaran Arsitektur Makin Fleksibel
Sementara itu, Ar. Dody Irnawan, S.T., M.T., IAI., menilai penggunaan Learning Management System (LMS) memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa dalam mengakses materi perkuliahan.
Menurut dia, pembelajaran berbasis digital membuat proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Mahasiswa dapat mengakses materi melalui berbagai perangkat, termasuk telepon genggam.
“Pembelajaran berbasis website ini sebenarnya sangat efektif. Mahasiswa tidak harus membawa buku ke mana-mana, tetapi cukup menggunakan satu alat yang bisa dibuka di mana pun. Apalagi dengan materi interaktif, mereka akan lebih mudah mengikuti pembelajaran,” jelas Dody.
Penguatan pembelajaran digital tersebut juga diarahkan pada penerapan siklus Closed-Loop PDCA yang meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan (doing), evaluasi (checking), dan tindak lanjut (acting).
Melalui pendekatan tersebut, proses pembelajaran dievaluasi setiap semester. Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar untuk menyesuaikan materi dan metode pengajaran dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan mahasiswa.
Dalam pendidikan arsitektur yang erat dengan desain dan visualisasi, pemanfaatan teknologi juga membuka peluang pengembangan metode pembelajaran yang lebih kreatif.
Sejumlah dosen mulai mengembangkan aplikasi pendukung berbantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menunjang pembelajaran desain agar lebih interaktif dan komunikatif.
Dody menekankan, pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kreativitas dosen dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan bagi mahasiswa.
“Harapannya Bapak-Ibu dosen harus kreatif dan interaktif, karena itu menjadi bagian dari keinginan dan kebutuhan mahasiswa dalam belajar. Tidak harus membuka buku ratusan lembar, tetapi apa yang mereka butuhkan bisa langsung diakses secara lebih mendalam,” tuturnya.
Melalui workshop tersebut, Program Studi Arsitektur UMS menargetkan penggunaan SPADA mencapai 80-90 persen di kalangan dosen.
Target itu menjadi bagian dari komitmen Program Studi Arsitektur UMS membangun ekosistem pembelajaran digital yang adaptif, memperkuat budaya evaluasi akademik, serta mendorong pengalaman belajar mahasiswa yang semakin interaktif dan berkelanjutan. (*)

