34.6 C
Jakarta

BATIKALIVE Antar Mahasiswa UMS Raih Tiga Penghargaan Nasional

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengembangkan BATIKALIVE, inovasi edukasi dan wisata budaya batik berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Augmented Reality (AR). Gagasan tersebut mengantarkan mereka meraih tiga penghargaan sekaligus dalam PENA Essay Nasional 3 di Politeknik TEDC Bandung, yakni Juara Umum 2, Gold Medal, dan Juara Favorit Poster.

 

Tim mahasiswa UMS itu terdiri atas Nico Dzaky Luthfan Saputra, Balqis Naila Ahmad, Cheyzha Putri Chantya, Riyan Mardanil, dan Aisyah Aminahnur Mahmudah. Mereka mengusung karya berjudul “BATIKALIVE: Transformasi Edukasi dan Wisata Budaya Batik melalui Teknologi Artificial Intelligence dan Augmented Reality Berbasis Realtime Interactive System”.

 

Inovasi ini dirancang untuk mengenalkan batik kepada generasi muda melalui pendekatan digital yang lebih interaktif. Tidak sekadar menampilkan keindahan motif, BATIKALIVE juga menawarkan cara untuk mempelajari sejarah, asal daerah, dan filosofi di balik setiap corak batik Indonesia.

 

Nico Dzaky Luthfan Saputra menjelaskan, gagasan tersebut berangkat dari pengamatan tim terhadap pola edukasi batik di museum, galeri, dan sentra batik yang masih banyak mengandalkan teks serta gambar.

 

Padahal, menurut dia, batik memiliki kekayaan nilai budaya yang perlu disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

 

“Melalui BATIKALIVE, kami ingin menghadirkan cara mengenal batik yang lebih interaktif. Pengguna dapat mempelajari nama motif, asal daerah, dan filosofi batik melalui teknologi yang dekat dengan kehidupan generasi muda,” kata Nico, Senin (12/10/2026).

 

Kenalkan Filosofi Batik Lewat AI dan AR

 

BATIKALIVE mengintegrasikan teknologi AI dan AR untuk menghadirkan pengalaman belajar sekaligus menjelajahi budaya batik secara digital.

 

Dalam rancangan aplikasi tersebut, AI digunakan untuk mengenali pola motif batik melalui kamera ponsel, kemudian menampilkan informasi terkait motif yang teridentifikasi. Sementara itu, teknologi AR menghadirkan pengalaman visual interaktif, termasuk fitur virtual try-on yang memungkinkan pengguna mencoba tampilan produk batik secara virtual sebelum membeli.

 

Tim juga merancang sejumlah fitur pendukung untuk memperluas pengalaman pengguna.

 

Fitur Explore memungkinkan pengguna mengenal motif batik dari berbagai daerah. Museum Virtual menghadirkan koleksi batik dalam format digital, sedangkan Batik Passport menggunakan sistem poin, level, dan lencana (badge) untuk mendorong keterlibatan pengguna dalam mempelajari batik.

 

Selain itu, tersedia rancangan Smart Tourism Map untuk membantu pengguna menemukan destinasi wisata budaya. BATIKALIVE juga direncanakan memiliki fitur marketplace yang menghubungkan pengguna dengan produk batik dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pengrajin lokal.

 

Melalui integrasi fitur tersebut, BATIKALIVE tidak hanya diarahkan sebagai media edukasi, tetapi juga berpotensi menjadi penghubung antara pelestarian budaya, pariwisata, dan pemasaran produk batik.

 

Sempat Pesimistis, Tim Tembus Grand Final

 

Perjalanan tim UMS dalam mengembangkan BATIKALIVE dimulai dengan mengidentifikasi persoalan pelestarian budaya, menyusun konsep aplikasi, merancang fitur utama, hingga menyiapkan prototipe. Gagasan itu kemudian dituangkan dalam esai untuk dipresentasikan dalam kompetisi nasional.

 

Nico mengungkapkan, tim sempat merasa pesimistis ketika melihat beragam gagasan yang dibawa peserta lain. Namun, mereka berusaha memperkuat cara penyampaian agar konsep yang ditawarkan dapat dipahami juri.

 

Salah satu strategi yang digunakan ialah memadukan drama singkat dengan demonstrasi prototipe. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya tim menjelaskan fungsi dan potensi BATIKALIVE secara lebih menarik.

 

Strategi itu mengantarkan mereka melaju ke babak grand final bersama delapan tim lainnya. Pada akhir kompetisi, tim UMS berhasil membawa pulang tiga penghargaan sekaligus.

 

“Proses kompetisi ini menjadi pengalaman berharga bagi kami, mulai dari diskusi dan penyusunan esai hingga menyiapkan presentasi. Kami berusaha menyampaikan gagasan BATIKALIVE dengan cara yang menarik agar konsep dan fitur yang dirancang dapat dipahami juri,” ujar Nico.

 

Targetkan Sentra Batik di Solo hingga Cirebon

 

Meski berhasil meraih tiga penghargaan nasional, BATIKALIVE saat ini masih berada pada tahap pengembangan prototipe. Tim berencana menyempurnakan fitur pengenalan motif berbasis AI, pengalaman interaktif berbasis AR, serta basis data motif batik Indonesia yang dilengkapi informasi sejarah dan filosofi terverifikasi.

 

Tahap berikutnya adalah menjajaki uji coba aplikasi di sejumlah sentra batik, antara lain Solo, Yogyakarta, Pekalongan, dan Cirebon. Tim juga berencana membuka peluang kolaborasi dengan pengrajin, pelaku UMKM, pengelola museum, serta pengelola destinasi wisata budaya.

 

Pengembangan tersebut membutuhkan penyempurnaan teknologi, validasi informasi budaya, dan dukungan berbagai pihak agar informasi yang disajikan akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.

 

Ke depan, tim berharap BATIKALIVE dapat terintegrasi dengan museum, kampung batik, desa wisata, dan pusat edukasi budaya di berbagai daerah. Dengan demikian, teknologi digital diharapkan dapat memperluas akses masyarakat untuk mengenal batik sekaligus membuka peluang promosi bagi pengrajin lokal.

 

“Kami berharap BATIKALIVE dapat menjadi salah satu upaya pelestarian batik yang menghubungkan generasi muda dengan budaya Indonesia melalui teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman,” tutur Nico.

 

Capaian ini menjadi langkah awal bagi tim mahasiswa UMS untuk mengembangkan gagasan pelestarian budaya yang memadukan inovasi teknologi, edukasi, dan potensi ekonomi kreatif. Meski masih berupa prototipe, BATIKALIVE menawarkan pendekatan digital untuk memperkenalkan kekayaan batik Indonesia kepada generasi muda. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!