30 C
Jakarta

Belajar Wayang Langsung di Bantul, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Asah Kreativitas dan Cinta Budaya

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Cara belajar yang tak biasa dilakukan murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo. Sebanyak 83 siswa mengikuti field trip edukatif ke sentra pembuatan wayang kulit di Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (6/4/2026).

Kegiatan bertajuk Cultural Creation: Learning to Creatively Carve Wayang ini menjadi pengalaman berharga yang menggabungkan pembelajaran akademik dengan pelestarian budaya. Tak sekadar wisata, para murid diajak memahami langsung proses pembuatan wayang kulit—salah satu warisan budaya Indonesia yang mendunia.

Belajar dari Maestro Wayang hingga Tembus Mancanegara

Dalam kunjungan tersebut, para murid belajar langsung dari Suprih, perajin wayang kulit yang karyanya telah menembus pasar internasional seperti Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Dengan penuh antusias, para siswa menyimak setiap tahapan pembuatan wayang, mulai dari proses awal hingga finishing. Suprih pun berbagi pengalaman sekaligus pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.

“Generasi muda harus bangga dengan budaya sendiri. Wayang bukan hanya seni, tapi identitas bangsa,” pesannya.

Mengenal Proses Tatah Sungging Secara Langsung

Dalam sesi praktik, murid diperkenalkan pada tiga tahapan utama pembuatan wayang kulit:

Pengolahan bahan baku

Kulit kerbau dipilih, direndam, kemudian dikeringkan hingga siap diolah.

Pembersihan

Proses pengerokan untuk menghilangkan lemak dan rambut agar permukaan siap dibentuk.

Tatah dan sungging

Tahap inti berupa pemahatan sesuai karakter tokoh wayang dan pewarnaan dengan detail tinggi.

Proses ini menuntut ketelitian, kesabaran, dan kepekaan seni yang tinggi—nilai-nilai yang juga ingin ditanamkan kepada para murid.

Pembelajaran Nyata, Bukan Sekadar Teori

Koordinator Tim Kelas III, Yuli Ekowati, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Jawa dan Seni Budaya.

“Kami ingin murid tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga memahami proses di baliknya. Ini pengalaman belajar yang nyata,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai efektif dalam menumbuhkan apresiasi terhadap seni tradisional sekaligus memperkaya wawasan siswa.

Asah Kesabaran dan Ketelitian Sejak Dini

Salah satu murid, Gibran Alfan Mahardika, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegiatan tersebut.

“Ketelitian itu penting. Satu wayang bisa dibuat sampai dua bulan. Ini mengajarkan kesabaran dan manajemen waktu,” ungkapnya.

Pengalaman ini tidak hanya memperkenalkan seni, tetapi juga membentuk karakter siswa agar lebih tekun dan disiplin.

Menanamkan Cinta Budaya di Era Digital

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, kegiatan seperti ini menjadi langkah penting dalam menjaga eksistensi budaya lokal. Seni tatah sungging dinilai mampu melatih kreativitas sekaligus keterampilan motorik halus siswa.

Melalui field trip ini, sekolah berharap para murid tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecintaan terhadap budaya bangsa.

Belajar langsung dari sumbernya, para murid SD Muhammadiyah PK Solo membuktikan bahwa menjaga budaya bisa dimulai sejak dini—dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!