GARUT, MENARA62.COM – Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus sejarawan muslim Sopaat Rahmat Selamet menegaskan bahwa penulisan buku sejarah di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah memiliki nilai yang sangat penting sebagai warisan intelektual bagi generasi berikutnya. Namun, ia mengingatkan bahwa penulisan sejarah harus dilakukan secara metodologis dan bertanggung jawab.
“Menulis buku sejarah itu tidak bisa langsung menulis begitu saja. Ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui,” ujar Sopaat. Ia menjelaskan, tahapan tersebut meliputi proses heuristik atau pengumpulan sumber, verifikasi dan kritik sumber, baik primer maupun sekunder—lisan, tulisan, ataupun artefak—hingga tahap interpretasi dan historiografi atau penulisan sejarah.
Pernyataan tersebut disampaikan Sopaat saat menjadi pengarah dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat PDM Garut, Senin (05/01/2026), sebagai tindak lanjut dari lomba penulisan esai bertema “Sejarah Muhammadiyah Garut” yang digelar dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah.
Menurut Sopaat, karya-karya peserta lomba memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi buku sejarah dalam format antologi atau bunga rampai. “Lomba penulisan esai ini sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi buku sejarah, tentu setelah melalui prosedur dan metode riset sejarah yang benar,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa hasil penilaian menunjukkan sekitar 80 persen karya peserta sudah tergolong baik. Meski demikian, masih diperlukan proses ulasan dan revisi lebih lanjut. “Secara umum sudah bagus, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, terutama terkait prosedur kerja riset sejarahnya,” jelasnya.
Sopaat mencontohkan, sebagian tulisan sudah kuat dari sisi narasi deskriptif, namun masih lemah dalam analisis. “Ada juga yang sumbernya belum lengkap, atau proses verifikasi, kritik, dan interpretasinya belum maksimal,” tambahnya. Oleh karena itu, melalui proses pendampingan dan penyuntingan, ia berharap karya-karya tersebut dapat menghasilkan buku sejarah yang berkualitas dan layak menjadi rujukan.
Dalam Bimtek tersebut juga disepakati bahwa program penulisan buku sejarah Muhammadiyah Garut ditargetkan selesai dan diluncurkan pada Februari 2026, menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Editor buku akan ditugaskan kepada sejarawan dari UM Bandung yang juga merupakan putra daerah Garut.
Selain itu, Sopaat mengusulkan agar setelah penerbitan buku bunga rampai ini, PDM Garut dapat melanjutkan program penulisan buku sejarah yang lebih komprehensif. “Anggap saja buku antologi ini sebagai pemantik untuk melahirkan karya-karya sejarah berikutnya yang lebih mendalam,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan penuh dari PDM Garut terhadap program ini. “Buku sejarah ini bukan hanya dokumentasi, tetapi warisan literasi bagi kader Muhammadiyah di masa depan,” tegas Sopaat. Nantinya, buku tersebut direncanakan akan didistribusikan ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta organisasi otonom (ortom), khususnya di wilayah Garut yang dikenal sebagai salah satu daerah awal berkembangnya Muhammadiyah di Jawa Barat.
Sementara itu, Aep Saepudin yang mewakili MPI PDM Garut menyampaikan harapannya agar kegiatan Bimtek ini benar-benar memberi dampak nyata. Dia berharap kegiatan ini menjadi langkah praktis dan strategis untuk menindaklanjuti hasil lomba yang telah dilaksanakan. Ia menambahkan, melalui proses yang lebih sistematis, karya-karya terbaik peserta lomba diharapkan dapat berkembang menjadi produk buku yang berkualitas dan bermanfaat bagi Persyarikatan serta masyarakat luas.(*)
