SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran di lingkungan kampus melalui pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Pelatihan yang digelar Direktorat Aset, Sarana, dan Prasarana (DASP) UMS di Lapangan Kampus 2 UMS, Jumat (9/10/2026), menyasar personel Satuan Tugas Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (Satgas K3L) serta satuan pengamanan (satpam).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis UMS dalam meningkatkan kemampuan personel menghadapi keadaan darurat, khususnya penanganan kebakaran pada tahap awal dan mitigasi risiko kecelakaan kerja.
Direktur DASP UMS, Taufiq Hidayat, S.E., menegaskan bahwa keselamatan seluruh sivitas akademika menjadi perhatian utama universitas. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan keselamatan kerja perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“UMS sangat konsen terhadap keselamatan karyawannya. Oleh karena itu, kita perlu terus-menerus memperbaiki diri dan memperbarui pengetahuan terkait keselamatan kerja. Personel K3L dan satpam sebagai garda terdepan harus paham betul tindakan pertama yang wajib dilakukan saat terjadi insiden darurat,” ujarnya.
Menurut Taufiq, pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan dilaksanakan secara berkala dengan materi yang disesuaikan dengan potensi risiko di lingkungan kampus.
Materi pelatihan berikutnya direncanakan mencakup penanganan gangguan kelistrikan, prosedur evakuasi keadaan darurat, hingga kesiapsiagaan menghadapi musim hujan.
Peserta Berlatih Memadamkan Api Secara Langsung
Instruktur pelatihan, Hari Sarwadi, memberikan penjelasan mengenai teknik dasar penggunaan APAR, mulai dari pemeriksaan kondisi tabung hingga prosedur pemadaman api yang aman.
Ia menekankan bahwa ketenangan menjadi faktor penting ketika menghadapi percikan api pada tahap awal. Kepanikan dapat menghambat pengambilan keputusan dan meningkatkan risiko saat melakukan penanganan.
“Hal paling utama adalah jangan panik. Ambil APAR terdekat, perhatikan indikator tekanan gas nitrogennya, dan bawa tabung dengan cara dipanggul agar memudahkan pergerakan,” jelas Hari.
Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai sejumlah aspek teknis yang perlu diperhatikan saat menggunakan APAR. Di antaranya, memperhatikan arah angin agar serbuk atau media pemadam tidak berbalik mengenai wajah, memastikan selang tidak tersumbat, serta mengarahkan semprotan ke pangkal api.
Untuk memastikan materi dapat diterapkan dalam situasi nyata, pelatihan dilengkapi dengan dua sesi simulasi.
Pada sesi pertama, peserta mempraktikkan metode pemadaman menggunakan kain atau karung goni tebal yang telah dibasahi air. Metode ini dilakukan dengan menutup sumber api secara hati-hati untuk menghambat pasokan oksigen, sesuai dengan kondisi dan jenis api yang dihadapi.
Selanjutnya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mempraktikkan penggunaan APAR jenis dry chemical powder atau serbuk kimia kering.
Dalam sesi ini, peserta berlatih melepas pin pengaman, menguji pancaran media pemadam, serta mengarahkan semprotan ke pangkal api dari jarak aman.
Simulasi tersebut memberikan kesempatan kepada setiap personel untuk memahami tahapan pengoperasian APAR sekaligus melatih ketepatan tindakan ketika menghadapi kebakaran.
Perkuat Budaya Keselamatan di Lingkungan Kampus
Melalui pelatihan teori dan praktik tersebut, DASP UMS berharap personel Satgas K3L dan satpam semakin sigap, cekatan, serta disiplin dalam menjalankan prosedur keselamatan.
Kemampuan mengenali potensi bahaya dan melakukan tindakan awal secara tepat dinilai penting untuk meminimalkan risiko kebakaran meluas sebelum bantuan lanjutan tiba.
Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya UMS membangun budaya keselamatan kerja yang berkelanjutan. Dengan peningkatan kapasitas personel secara berkala, lingkungan kampus diharapkan semakin aman dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat dapat terus ditingkatkan. (*)

